Kuliah dan Upaya Membangun Masa Depan

Setelah lulus sekolah dari SMAN 2 Bekasi (Etniez) dan gagal masuk STPDN, akhirnya saya menerima real life, bekerja sebagai karyawan pabrik di sebuah perusahaan PMA Jepang di Cikarang. Tidak mudah untuk masuk ke perusahaan ini, karena minimal nilai STTB rata-rata 7 dan harus melewati 4 test, terdiri dari test administrasi, test tertulis, test praktek dan test kesehatan. Setelah lulus, akhirnya saya bekerja sebagai operator produksi dengan produksi utama berupa baut bertelinga alias T-Nut.

Karena garing menunggu waktu kerja shift dan merasa terlalu banyak waktu terbuang, ditambah dengan pertimbangan masa depan yang masih berupa bayang-bayang kelabu, akhirnya saya memutuskan kuliah. Sosok yang menginspirasi saya adalah Adnan, rekan saya yang belum lama ini bertemu dengan saya di Bangkok dan saat ini bekerja di PT Bridgestone regional Asia Pasific. Adnan bekerja pada bagian yang sama dengan saya dan beberapa kali saya lihat ia memegang buku dan menghapalkan sesuatu.

Salah satu yang membuat kami bisa berkomunikasi intens-selain karena ia adalah kakak dari teman sekelas saya di Fisika 1 SMAN 2 Bekasi-adalah tingkat percaya dirinya. Saat satu waktu saya bertanya mengenai soal matematika, Adnan hanya menjawab singkat,

“Itu saya aza nggak bisa jawab, apalagi kamu…”, jawabnya sambil tertawa.

Karena Adnan punya wawasan lebih dari saya dan salah satu wawasan itu dia dapatkan dari kuliah, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah juga. Saat tahun 1996, di Bekasi hanya ada sedikit kampus. 2 yang terkenal adalah UNISMA dan STMIK Bani Saleh (saat itu masih AMIK). Akhirnya saya mengikuti jejak Adnan dan berkuliah di STMIK Bani Saleh jurusan Manajemen Informatika, dengan pertimbangan bahwa dimasa mendatang, prospek ilmu komputer akan cukup menjanjikan.

Tidak mudah kuliah sambil bekerja sebagai operator produksi di pabrik. Pertama lelah. Sebelum saya kuliah saya merasa garing terlalu banyak waktu terbuang. Setelah kuliah, rasanya waktu menjadi sempit. Hal ini diperparah karena pekerjaan saya menggunakan pola shift. Seminggu masuk pagi seminggu masuk malam. Otomatis kuliah saya menjadi shift juga. Jika bekerja pagi, saya kuliah malam dan vice versa. Bagi orang yang pintar, hal ini bisa menambah kepintarannya, karena kadang dosen di sesi pagi dan malam berbeda, baik sosok maupun penyampaiannya. Bagi yang biasa-biasa saja, hal ini bisa menjadi bentuk stress sendiri, karena tambah linglung karena materinya jadi kacau.

Selain masalah waktu, dukungan dari perusahaan adalah masalah krusial lainnya. Karena posisi operator produksi adalah level paling rendah dalam struktur organisasi pabrik (selain helper tentunya), beberapa kali ada situasi dimana kami terpaksa memilih. Sebagai contoh jika perusahaan meminta kami lembur sore sampai dengan malam, otomatis terpaksa kami mengorbankan kuliah. Satu saat saya pernah memilih untuk kuliah karena ada cukup banyak materi yang tertinggal, atasan saya malah berkata,

“Kamu sebenarnya mau kuliah atau bekerja? Kalau mau kerja harusnya mementingkan pekerjaan…”

Saat itu saya mau marah dan menukas,

“Bukannya kuliah bisa berjalan seiring dengan pekerjaan pak?”,

namun saya terpaksa memilih diam saja karena memang tidak ada manfaat juga saya berdebat dengan atasan, karena akhir dari perdebatan sudah saya ketahui.

Karena beberapa kali memilih kuliah dan tidak lembur, saya mendapat prioritas akhir jika ada pekerjaan lembur. Ditambah dengan kebiasaan saya mendebat dan mengusulkan sesuatu yang kadang tidak sesuai dengan harapan atasan plus prestasi kerja saya yang biasa-biasa saja, saya menjadi pilihan jauh untuk lembur 😆. Otomatis pendapatan saya jauh berkurang dibandingkan rekan-rekan yang lain. Saat itu, bukan hal yang aneh jika uang saya hanya cukup untuk hidup sampai dengan 2/3 bulan dan sisanya saya harus meminjam dari teman. Bukan hal yang aneh juga jika saya masuk kedalam kelompok mahasiswa yang beberapa kali berkerumun diruang keuangan, meminta tanda tangan keringanan biaya kuliah dalam bentuk extended waktu pembayaran.

Jasa pak Dasuki dan pak Miswadi Nurtami dari STMIK Bani Saleh tidak mungkin saya lupakan jika saya teringat hal diatas…

Saat kuliah. salah satu materi yang saya senangi adalah Algoritma. Karena basis saya sebelumnya di Fisika 1 SMA, saya lebih mudah beradaptasi dengan mata kuliah eksakta seperti matemika lanjutan, algoritma dan sejenisnya. Algoritma ini menjadi dasar bagi pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah, yaitu menjadi programmer.

Setelah pekerjaan pertama menjadi programmer sambil memenuhi tugas sebagai staff IT, karir saya sedikit meningkat menjadi supervisor, hingga kemudian saya berpindah kerja, mengambil opsi freelance dan akhirnya membangun Excellent seperti sekarang.


Selain lulusan S1, sebagian besar team Excellent berlatar belakang siswa SMK jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan). Banyak diantara mereka yang berasal dari keluarga biasa saja, dalam arti bukan dari keluarga yang serba berkecukupan. Saat melihat mereka bekerja, sama seperti saat saya dimasa-masa awal bekerja selepas SMA. Ada beberapa diantara mereka yang memutuskan kuliah sambil bekerja dan saya support mereka dalam arti tidak bersikap seperti atasan saya dahulu yang memberikan pilihan sulit : memilih bekerja atau kuliah.

Salah satu masalah mendasar bagi team adalah rasa minder jika berbicara dengan orang yang memiliki latar belakang pendidikan lebih baik. Meski team Excellent memiliki kompetensi teknis yang qualified, mereka bisa merasa minder jika berhadapan bicara dengan orang yang memiliki power lebih kuat atau memiliki tingkat pendidikan diatas mereka. Hal ini sebenarnya wajar karena saya juga mengalaminya. Saya bahkan menuliskannya di salah satu materi 30 Days Excellent Insight : Minder Secara Intelektual.

Sebagai bagian dari upaya mengeliminasi hal tersebut sekaligus bagian dari improvement Excellent, mulai tahun ini Excellent memberikan subsidi untuk staff yang mengambil kuliah. Bukan hanya memberikan keleluasaan dalam membagi waktu (saya yakin mereka cukup mampu mengelola waktu untuk pekerjaan dan waktu kuliah karena kalau tidak yakin, saya tidak akan merekrutnya di Excellent 😉), saya juga memastikan mereka dapat membangun kemampuan diri dalam bentuk kuliah.

Tahun ini akan ada 1 staff Excellent yang lulus kuliah dan ada 4 staff yang baru akan memulai masa perkuliahan.

Terkait kuliah dan manajemen waktu, saya memang memberikan banyak pesan sponsor. Misalnya bahwa mereka harus menyadari bahwa kuliah sambil bekerja itu akan terasa berat, karena akan lebih banyak beban pekerjaan. Ada pekerjaan di Excellent dan ada juga beban tugas kuliah. Namun saya sampaikan mereka masih muda, jadi harus ambil peluang untuk kebaikan mereka sendiri. Jangan selalu menuruti setiap keinginan, misalnya keinginan bersantai-santai namun menjadi penyesalan dimasa mendatang.

Saya selalu menyadari bahwa Excellent merupakan usaha kecil yang masih berupaya untuk tumbuh dan berkembang. Saya belum tahu bagaimana Excellent dimasa mendatang namun saya selalu ingat bahwa Excellent dibangun atas kesadaran pada nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai untuk memberikan penghidupan yang baik bagi staffnya. Nilai untuk memberikan pendidikan, pengalaman dan wawasan yang baik bagi semua yang bekerja didalamnya. Saya selalu percaya bahwa jika kita memberikan yang terbaik untuk sosok yang bekerja bagi kita, niscaya kita juga akan mendapat penerimaan yang baik juga dari sisi lain.

Saya ingin staff-staff Excellent melebihi apa yang bisa saya dapatkan. Jika saya sampai diploma 3, mereka harus bisa S1. Jika saya bisa S1, mereka harus bisa S2, S3 dan seterusnya. Jika saya hanya punya satu sertifikasi, mereka harus punya dua. Jika saya punya dua mereka harus punya tiga, empat, lima, berapapun sepanjang itu memungkinkan.

Jika saya baru bisa keluar negeri di usia 40an, saya ingin mereka bisa keluar negeri diusia 20an. Jika saya baru bisa umroh di usia 40an, mereka harus mampu lebih awal mendapatkannya. Jika perlu mereka bisa berangkat haji dari tabungan bekerja di Excellent.

Jika saya baru bisa ke beberapa pulau besar di Indonesia, mereka harus bisa menjangkau lebih banyak lagi. Mereka harus bisa merangkum pengalaman. Belajar dari orang lain. Belajar dari lingkungan. Menjadikannya sebagai fundamental kemampuan diri mereka agar mereka bisa mendidik anak-anak mereka untuk kelak tumbuh lebih baik lagi.

Saya selalu bersemangat menulis untuk hal-hal yang saya anggap sebagai motivasi positif, karena saya ingat dulu dimasa-masa lulus SMA atau saat bersekolah, saya butuh motivasi dan cerita seperti ini. Agar orang lain tidak mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah saya lakukan. Agar orang lain bisa menghindari hambatan yang pernah saya alami. Agar orang lain bisa sukses tanpa harus menunggu waktu yang lama.

Dan pada akhirnya, agar kita semua bisa lebih baik lagi dari masa kemasa.