Mengurangi Hutang
Tahun 2008, setelah bercita-cita sekian lama-dan setelah 3 tahun menikah, akhirnya saya memberanikan diri membeli rumah dengan cara kredit/mencicil. Awalnya saya memilih sebuah rumah di Perumahan Puri Juanda Bekasi Timur, namun pada akhirnya batal-karena ada indikasi kredit juga tidak disetujui hehehe… dan kemudian memilih rumah yang kini menjadi markas Excellent DJ. DJ artinya Duren Jaya, sesuai nama kelurahan lokasi ini.

Dengan tabungan hanya sekitar 30 juta, rasanya hil yang mustahal saya membeli rumah dengan harga 250 jutaan. Rencana kredit rumah di Puri Juanda akhirnya saya belokkan menjadi kredit rumah “second” dengan plafon sekitar 205 juta.
Sebenarnya saya juga mengajukan pinjaman di kantor saya bekerja, tepatnya ke boss saya langsung (karena memang kantor tidak menyediakan pinjaman melainkan itu uang pribadi boss). Disetujui sebesar Rp. 75 juta, uangnya saat itu digunakan untuk renovasi rumah.
Pinjaman ke kantor selesai saat saya resign dari kantor di akhir tahun 2010.
Pinjaman kredit saya dapatkan dari bank CIMB Niaga dengan plafon sekitar 205 juta. Memperhitungkan kemampuan finansial saya, saya mengambil waktu kredit 20 tahun, jadi estimasi baru akan lunas di tahun 2028 😟
Di tahun pertama, cicilan rumah hanya 1.8 juta. Ternyata ini gimmick semata, karena ditahun berikut dan seterusnya, cicilan menjadi 2.6 jutaan per bulan.
Markas DJ ini menjadi awal usaha saya yang kemudian berkembang menjadi markas Excellent. Dari awalnya training di ruang depan (siapa saja teman-teman yang pernah training ditemani Zeze Vavai saat masih kecil?) kemudian membangun satu kamar di lantai 2, merenovasi bagian atas/ruang training menjadi memanjang, menghilangkan enternit, menyediakan ruang makan dan shalat hingga akhirnya menambah ruang depan seperti tampilan markas DJ saat ini.
Di tahun 2014 operasional Excellent dipindahkan ke markas Emerald Spring dan di tahun 2017, pindah secara permanen ke markas Premier Serenity.
Dari sisi rezeki Alhamdulillah rumah markas DJ memberikan rezeki yang bisa menghidupi kami sekeluarga dan rekan-rekan di Excellent.
Di tahun 2017, sekitar 9 tahun cicilan berjalan, saya mengecek sisa pinjaman. Glek, ternyata sisa pinjaman masih sekitar 170 juta. Artinya, 9 tahun mencicil, saya baru mencicil pokok sebesar 35 juta saja.
Dulu, di tahun 2008, saya merasa kredit rumah yang saya ambil merupakan salah satu pilihan terbaik bagi saya. Namun di tahun 2017 (sejak beberapa tahun sebelumnya sih, namun baru terasa banget di 2017 😉), pilihan itu rasanya bukan pilihan paling baik. Semestinya saat itu saya memilih sesedikit mungkin mengambil nilai kredit. Ya nggak apa-apa juga sih, selain karena sudah lewat, itu juga bagian dari “biaya pembelajaran” 😆
Saya hitung-hitung, kalkulasi nilainya memang cukup memberatkan. Kalau 2.6 juta dikalikan dengan 240 bulan, yang jelas hasilnya jauh banget dari nilai 205 juta. Bahkan jika dihitung nilai kenaikanpun, rasanya tinggi sekali.
Ndilalahnya, setelah baca-baca dan bertukar pikiran, pinjaman dengan bunga besar itu ya salah satu bentuk riba… malah itu bentuk riba yang paling mudah dilihat dan dipahami 😫.
Di tahun 2014–2016 saya mulai memilih variasi bentuk investasi. Saya bersentuhan dengan emas, saham, reksadana dan lain-lain. Namun saya lupa satu hal, yaitu saya mondar-mandir investasi namun malah tidak fokus membayar/melunasi hutang. Saya seperti orang kaya yang kebanyakan uang dan petantang-petenteng invest sana invest sini, meski ya nilainya juga nggak seberapa besar sih. Intinya, saya seperti orang yang punya hutang tapi masih santai makan enak, liburan enak, menikmati hidup seperti nggak ada beban, hehehe…
Di tahun 2017 dengan niat berusaha mengurangi riba sekaligus mengurangi beban pinjaman-saya termasuk orang yang memilih untuk “jika belum sanggup 100%, paling tidak kita bisa berusaha mengurangi beban riba, daripada saya bilang, “Apa mungkin sekarang bebas dari riba??”. BTW ini sekedar prinsip saya ya, bukan suatu keharusan bagi yang lain. Saya menulis kisah ini juga bukan untuk berdebat soal riba), saya berdiskusi dengan isteri Dear Rey Reny Yuniastuty. Jika ada rezeki, baiknya difokuskan untuk mengurangi beban pinjaman berbunga besar ini.
Saya dulu pernah berpikir untuk menabung sesuatu yang “future value”-nya bisa mengimbangi inflasi dan beban bunga. Misalnya menabung emas dengan nilai intrinsik yang terus bertambah, jadi lama-lama bisa mengimbangi sisa pinjaman. Hal ini memang saya lakukan namun saya pikir secepat mungkin bisa mengurangi beban akan semakin baik.
Menjelang keberangkatan Umroh pada bulan April 2017, ada sedikit rezeki yang mampir, jadi saya langsung hubungi CS CIMB Niaga. Sempat via telepon dan via Facebook, akhirnya saya dikirimi email berisi prosedur pelunasan dipercepat atau pelunasan sebagian.
Saya memilih prosedur pelunasan sebagian. Nanti ada 2 opsi, yaitu mengurangi waktu sisa pinjaman atau mengurangi nilai cicilan. Saya mengambil opsi pertama, yaitu mengurangi waktu sisa pinjaman.
Dengan sisa pinjaman sekitar 170 juta, saya melakukan pelunasan dipercepat sebesar Rp. 100 juta. Terkena denda pinalti pelunasan dipercepat sebesar Rp. 1 juta, total saya menyediakan dana 101 juta rupiah direkening Niaga saya.
Setelah disetujui oleh pihak bank, saya dan isteri diundang untuk menandatangani addendum perjanjian. Dari sisa waktu pinjaman yang masih 11 tahun lagi (sampai dengan 2028), pelunasan sebesar 100 juta bisa langsung mengurangi masa pinjaman menjadi 3 tahun saja (akan berakhir di 2020). Nilai cicilan juga berkurang meski tidak signifikan. Dari sekitar 2.6 juta, sisa cicilan berkurang sekitar 150 ribu 😜
Lega rasanya beban yang harus saya wariskan bisa saya minimalisir. Kami bahkan berancang-ancang jika ada rezeki berikutnya hendak kami lunasi di tahun 2017 ini. Pihak bank memang menyampaikan bahwa pelunasan sebagian dilakukan dalam interval waktu 6 bulan, namun bisa juga diset per 3 bulan jika memang ada kemampuan.
Jika saya menyebut hutang sebagai penutup pintu rezeki, mudah-mudahan mengurangi hutang-meski baru sebagian-bisa meluaskan pintu rezeki. Sambil berusaha belajar memperbaiki segala kekurangan, saya juga berusaha untuk menahan diri dan memilih untuk membeli hal-hal yang dibutuhkan secara tunai atau minimal secara syariah.
Bagi rekan-rekan yang hendak membeli/mencicil rumah, semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan. Bagi rekan-rekan yang sedang dalam proses pelunasan, semoga dimudahkan dan menjadi berkah. Bagi rekan-rekan yang sudah melunasi hutang-hutang, congrats ya… 😉
Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…
