Menunggu dan Mencari Pembenaran

Ilustrasi Gambar dari Pixabay

Saya punya project kecil dalam bentuk pembuatan semacam “Online Course” atau Self Paced Email Course, yaitu Excellent Insight. Kursus gratis berbasis email ini prosesnya sederhana, hanya dalam bentuk kiriman email setiap hari berisi tulisan-tulisan yang biasanya saya share di Facebook atau di blog. Isinya sebagian besar motivasi dan lebih banyak lagi berupa pengalaman yang biasanya diminta oleh beberapa rekan untuk dituliskan karena dianggap bermanfaat bagi mereka.

Linknya ada di https://insight.vavai.com.

Tahu berapa jumlah subscribernya setelah hampir 1 bulan? Hanya 199 subscriber. Kurang 1 ke angka 200, angka yang saya targetkan bisa saya capai di akhir bulan Juli 2017. Masih jauh dari target angka 1000 subscriber di akhir tahun 2017.

Jumlah subscriber hanya 199 dari total Facebook Friend hampir 4000 merupakan surprise bagi saya. Kemungkinan banyak rekan-rekan saya yang mungkin merasa subscribe ke Excellent Insight hanya menuh-menuhin inbox email saja. Salah-salah bisa jadi sasaran spam atau iklan.

Padahal, Excellent Insight itu salah satu community project agar tulisan yang dianggap bermanfaat bisa dibaca oleh lebih banyak orang. Saya paham bahwa bisa saja tulisan dianggap bermanfaat oleh sebagian orang namun sebagian lagi mengganggapnya biasa saja. Malah mungkin dianggap sampah 😆. Tapi, bagaimana saya bisa tahu jika tidak mencobanya? Itu alasan utama yang mendasari saya untuk, “OK, let’s try it. Apakah ini menjadi sesuatu yang baik atau buruk, biar waktu yang menjawabnya…”


Ilustrasi gambar dari Pixabay

Kemarin saya memberikan briefing pada team Excellent, sebelum saya mengajar training. Disebut briefing karena yang bicara hanya saya, meski formatnya diset sebagai diskusi, karena ada kesan kata “briefing” memposisikan saya sebagai orang yang “sok tahu” 😉

Saya bercerita bahwa saya punya teman dari Bandung. Kenal saya sejak beberapa tahun yang lalu via email. Ia mengirimkan email ke saya, menyampaikan apresiasi pada tulisan saya dan kemudian satu waktu bertemu dengan saya. Kami beberapa kali bertemu dan terakhir rekan saya ini bertemu di markas Excellent DJ selepas kunjungan ke klien di Jakarta.

Saya appreciate dengan upayanya mengejar pertemuan dengan saya. Bukan karena saya sok penting, namun karena rekan saya ini perlu biaya dan meluangkan waktu untuk bertemu. Ia dari Bandung, perlu biaya untuk sampai ke Bekasi. Perlu meluangkan waktu disela-sela kesibukannya karena jabatannya adalah General Manager di perusahaan software aplikasi cukup besar di Bandung.

Sikap persistennya saya hargai. Hal lain yang saya hargai adalah sikapnya yang tidak ingin menunggu. Ia tidak menunggu sampai saya datang ke Bandung baru ia menemui saya. Ia tidak menunggu untuk mencari waktu yang cocok atau tempat yang dekat. Ia mengambil action. Tidak menanti-nanti agar segalanya mudah baginya.

Kadang kita tahu sesuatu itu berharga. Kita tahu ada orang yang membuat kita terinspirasi namun kita tidak berusaha untuk bisa mengenal lebih jauh dengannya. Kita cenderung mencari pembenaran. Karena waktu yang susah dicari, karena biaya yang tidak tersedia, karena ini karena itu. Kita tahu bahwa itu hanya pembenaran saja karena sampai tahun 2 juta sekalipun kita tidak akan punya waktu jika kita tidak mencoba meluangkannya. Kita tahu itu hanya pembenaran saja, karena sampai kapanpun biaya tidak akan tersedia jika kita tidak berusaha menyiapkannya.


Ada satu penyesalan yang saya ingat sampai sekarang dan kemarin saya ceritakan ke team Excellent. Penyesalan saya menunggu segalanya terlambat. Penyesalan saya karena kurang menghargai jasa almarhum guru saya semasa SMA, bapak Purwanto Wakidi.

Almarhum Bapak Purwanto Wakidi, semoga Allah senantiasa Memberkahinya

Pak Pur demikian kami murid-muridnya memanggil beliau, adalah wali kelas saya semasa sekolah di Fisika 1 SMAN 2 Bekasi. Beliau salah satu guru matematika SMAN 2 Bekasi terbaik, bahkan mungkin se Jawa Barat karena saya pernah mendengar ia menjadi salah satu guru teladan se Jawa Barat.

Sikap beliau keras, namun selalu didasari pertimbangan. Misalnya ia meminta murid untuk selalu membawa buku paket pelajaran. Yang tidak bawa silakan keluar. Yang tidak bawa silakan belajar sendiri di kantin atau lapangan atau taman.

Ada murid yang mencari pembenaran, “Pak, saya kan orang nggak punya. Jangankan buat beli buku, buat sekolah saja susah pak” dan jawaban pak Pur lugas saja,

“Apakah saya meminta kamu untuk beli buku? Saya minta kamu membawa buku. Saya tidak peduli kamu pinjam ke perpustakaan, dapat warisan dari kakak kelas atau pinjam dari teman kamu di kelas lain yang jadwal pelajarannya berbeda. Bagaimana kamu bisa belajar dengan baik kalau kamu hanya menyimak pelajaran saat belajar di kelas sementara teman-teman kamu menggunakan buku paket”

Teman-teman satu angkatan ingat bahwa pak Pur kadang suka menyindir dengan kata-kata jika menemukan sesuatu yang tidak pas. Dulu kami menganggapnya kejam karena pak Pur kami anggap membully teman sekelas namun belakangan kami menyadari bahwa itu cara pak Pur menanamkan mindset untuk selalu berusaha semaksimal mungkin dan agar tidak lekas kalah pada keadaan semata

Saat menjelang lulus, pak Pur bertanya pada saya saat saya datang padanya di ruang guru.

“Kamu mau kuliah atau kerja?”, tanyanya. Saya sampaikan padanya bahwa saya akan kerja, karena kuliah mungkin tidak terjangkau bagi saya. Yang bisa saya lakukan adalah mencoba sekolah kedinasan seperti STPDN, namun jika gagal, saya akan bekerja.

Pak Pur bilang bahwa karena saya akan bekerja, saya harus menjaga nilai dengan baik. Bukan berarti kalau kuliah saya tidak perlu menjaga nilai. Pointnya adalah, saat saya melamar bekerja dengan ijazah SLTA, satu-satunya andalan saya adalah nilai di ijazah atau jika memang diperlukan, nilai di raport.

Dengan sedemikian jasa baik pak Pur pada saya, saya tidak bertemu dengannya hampir 20 tahun lamanya. Saya pernah sesekali bertemu, misalnya saat di STMIK Bani Saleh, saat pak Pur menjadi perwakilan SMAN 2 Bekasi yang datang ke STMIK Bani Saleh Bekasi. Namun itu hanya sekilas saja.

Saya tahu pak Pur tinggal di daerah Wisma Asri, dari stasiun KA Bekasi ke arah Babelan, namun saya tidak berusaha mencari tahu atau bertanya pada rekan yang tahu. Saya hanya mencari pembenaran bahwa saya sibuk pada pekerjaan saya dan pada hidup saya. Sampai akhirnya beberapa tahun yang lalu saya mendengar pak Pur sakit dan dirawat di rumah sakit Mekar Sari Bekasi.

Rumah sakit Mekar Sari Bekasi itu hanya sekian menit dari rumah saya. Bahkan hanya beberapa menit saja dari markas Excellent, baik markas Excellent Emerald Spring maupun markas Excellent Premier Serenity. Akhirnya setelah janjian dengan beberapa rekan sekelas semasa SMA, saya berkunjung ke rumah sakit bersama Dear Rey Reny Yuniastuty.

Saat di rumah sakit saya terenyuh melihat kondisi pak Pur. Saya baru tahu kalau pak Pur sudah pindah rumah (atau malah sejak dulu bukan di Wisma Asri?) dan rumahnya ada diperumahan BJI belakang rumah sakit Mekar Sari.

Bayangkan, dengan jarak hanya 5–10 menit dari rumah saya ke rumah beliau, saya bahkan menunggu sampai hampir 20 tahun hanya untuk menemui guru yang berjasa pada saya dan sangat saya hormati, itupun dalam kondisi beliau sakit. Pembenaran macam apa yang bisa saya sampaikan untuk hal seperti ini?

Saat akhirnya pak Pur berpulang ke rahmatullah beberapa tahun yang lalu, saya menyesal pada ketidakpedulian saya pada orang yang telah berjasa pada jalan hidup saya. Saya menyesali waktu-waktu yang terlewat yang semestinya bisa saya lakukan untuk menyampaikan apresiasi saya. Saya sedih dan juga menyesal.

Saya bahkan baru bisa menuliskan ini setelah sekian tahun berlalu…


Cerita diatas saya sampaikan ke seluruh team Excellent agar mereka tidak menunda hal baik yang bisa dilakukan. Bukan hanya pada guru, melainkan juga pada orang tua dan keluarga. Pada apapun hal positif yang seharusnya kita lakukan tanpa perlu ditunda.

Jika ada hal baik dan positif yang bisa dilakukan sekarang, lakukan saja. Jangan Exist, mencari-cari alasan 😆. Jujur pada diri sendiri, apakah kita tidak hendak melakukan sesuatu yang baik hanya karena kita memang benar-benar tidak bisa melakukannya atau karena kita tidak berusaha secara maksimal?

Jangan menunggu, Jangan mencari pembenaran. Jangan menanti segala sesuatunya terlalu terlambat untuk dilakukan.