Persisten

Keluarga Tambun di Markas Excellent Premier Serenity

Ini kisah mengenai ibu saya. Sikap persisten yang diturunkan ke anak-anaknya. Untuk tidak mudah menyerah. Untuk selalu berusaha sampai titik dimana tidak memungkinkan lagi untuk berusaha. Sikap untuk berani berjuang, tidak mengalah pada kesulitan hidup.

Pada bulan Mei 2017, saya menerima kabar mengagetkan. Ibu saya dibawa ke rumah sakit dengan indikasi serangan stroke. Sedemikian parah serangan itu sampai-sampai ibu saya tidak mampu berjalan ataupun bangun dari tempat tidur. Ibu saya sampai harus dibopong untuk diangkat ke mobil yang akan membawanya ke rumah sakit.

Saya tanya pada adik saya, apa gerangan yang membuat ibu terkena serangan stroke. Kata adik saya, tidak tahu, karena tiba-tiba saja. Kemungkinan karena sempat jatuh saat menghadiri pernikahan salah satu sanak family, hanya saja tidak pernah dirasakan ataupun dikeluhkan. Kemungkinan lain dari makanan, karena beberapa waktu sebelumnya sempat makan nasi begana, yang mungkin tidak cocok untuk orang seusia ibu saya.

Saat saya datang ke rumah sakit bersama keluarga, ibu saya belum mampu bangun dari tempat tidur. Kalau makan harus disuapi, tangannya kaku belum bisa digerakkan. Sebentar-sebentar ibu saya bilang kalau badannya pegal semua, jadi saya bersama adik dan keponakan bergantian memijitinya. Hari itu saya menginap di rumah sakit, meskipun esok harinya saya harus ke Universitas Pamulang untuk mengisi acara seminar.

Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ibu saya harus menjalani fisioterapi. Menjaga menu makan secara ketat. Menghindari makanan yang dilarang, karena kata dokter, “Serangan berikutnya bisa fatal akibatnya…”

Sambil menjalani fisioterapi, ibu saya juga menjalani terapi lain yang disarankan oleh seorang saudara, yang keluarganya pernah mengalami sakit yang sama dan sembuh berkat terapi yang dijalani.

Saya masih ingat, saat itu bulan ramadhan. Diantar oleh paman, adik dan keponakan, ibu saya menjalani terapi di Wisma Jaya. Karena lokasinya dekat dengan markas Excellent DJ maupun Excellent Premier Serenity, saya meluncur kesitu dan menemaninya. Perjalanan dari Tambun ke Wisma Jaya bukan hal yang mudah bagi ibu saya. Saya sampai sering berpesan ke paman saya, “Bawa mobilnya pelan-pelan saja bang, supaya enyak bisa santai…”. Saya juga berpesan pada keponakan saya untuk menjaga agar ibu saya tidak terguncang-guncang di mobil ataupun jatuh dari kursi.

Saat terapi kadang menunggu giliran. Kerapkali juga menunggu terapisnya datang. Ini juga bukan hal yang mudah bagi ibu saya karena melelahkan. Saya sarankan untuk tiduran saja jika memang terlalu lelah menunggu sambil duduk.

Terapi itu membawa kemajuan meskipun perlahan. Karena ibu saya kerap mengeluh tangannya kaku belum bisa digerakkan dan badannya pegal, saya membaca berbagai literatur apakah pasien stroke bisa dipijat. Saya khawatir karena rasanya pernah membaca cerita soal pasien stroke yang semakin parah setelah dipijat.

Akhirnya saya merekomendasikan ibu saya untuk dipijat di terapi patah tulang Gurusinga di Pondok Kelapa Jakarta Timur. Bapak mertua saya pernah dipijat disana saat kakinya keseleo setelah jatuh ke lubang. Saya juga pernah dipijat disana, setelah kaki saya terkilir nggak jelas setelah mengerjakan salah satu project Excellent di Bandung. Saya bilang tidak jelas karena saya tidak ingat penyebabnya 😆

Saya mengantar ibu saya ke Pondok Kelapa. Bersama adik dan keponakan saya, menemani dan menjelaskan keluhan yang dirasakan. Untungnya terapisnya memahami masalah yang dikeluhkan.

Terapi ke pondok kelapa ini membawa kemajuan sedikit demi sedikit. Setelah beberapa kali terapi, ibu saya bisa bangun dari tempat tidur meski masih tetap dibantu dan masih tetap menggunakan kursi roda. Ibu saya sudah bisa menahan badan saat hendak masuk ke mobil.

Satu saat di akhir pekan-saat masih dalam proses menjalani terapi di Pondok Kelapa yang dilakukan 2x seminggu-adik saya Marsan “Qchen” Susanto mengirim pesan Telegram (sorry ya, saya males pakai WA, ngeselin soalnya 😆), “Enyak minta diajak terapi di Karawang, katanya bagus…”, yang saya jawab, “Sebaiknya jangan, karena ini saja masih dalam proses terapi di Pondok Kelapa. Apalagi Karawang tempatnya jauh, macet pula. Nanti malah terlalu capek…”

Saya tunggu respon Qchen ternyata tidak ada. Setelah 1–2 jam Qchen membalas, “Ini sudah di Karawang, di tempat terapi…” 😜. Ya apa mau dikata, karena sudah ditempat terapi, saya tidak berkomentar apa-apa. Saya kemudian beranjak tidur siang sambil berpesan kalau ada apa-apa tolong kabari.

Sekitar waktu Dzuhur, Telegram saya kembali berbunyi. Pesannya singkat. Ibu saya sudah bisa berjalan!

Haaaaah…

Saya menelpon adik saya, menanyakan kabar itu. Saya khawatir deja vu, masih mimpi saat tidur siang. Adik saya membenarkan. Memang masih tertatih-tatih jalannya, tapi benar bisa berjalan. Saya tanyakan, memangnya dijampi-jampi apa? Kata adik saya tidak pakai jampi-jampi ala dukun. Ibu saya diperiksa pangkal lengan, kemudian punggung dan kakinya. Setelah itu dipijat dibeberapa titik sambil menggerak-gerakan bagian tersebut.

Bersama adik dan keponakan

Setelah pulang dari tempat terapi saya berkunjung ke rumah ibu saya. Benar saja, ibu saya sudah bisa berjalan meski pelan-pelan dan didampingi. Setiap hari berjemur di sinar matahari pagi. Makannya tetap dijaga dan juga diminta tidak usah terlalu banyak berpikir. Santai saja, jangan membebani pikiran, apalagi anak-anaknya juga sayang semuanya dan tidak susah-susah amat 😉

Sikap persisten ibu saya, untuk berusaha sembuh menjadi pengingat bagi saya untuk jangan mudah menyerah. Saya pernah menuliskannya juga disini : Ibu yang Selalu Saya Hormati & Sayangi.

Saat bercerita mengenai hal ini saat briefing pagi team Excellent saya sampaikan bahwa, “Selagi masih bisa kita perjuangkan, harus kita perjuangkan. Jangan mudah patah oleh keadaan dan jangan mudah menyerah pada halangan. Saya juga pernah mengalami hal yang mengharuskan saya untuk persisten. Mamanya Vavai dan Vivian pernah menolak saya. Dengan alasan yang tidak bisa saya bantah dan secara logika, muskil saya penuhi. Namun ternyata dengan niat baik, kerja keras dan personal approach, jawaban tidak itu akhirnya menjadi Ya…”

Terus terang saya sungkan menulis hal diatas. Baik mengenai sikap persisten ibu saya maupun tambahan situasi saya di akhir tulisan diatas, hehehe… Saya tuliskan disini meski saya tidak terbiasa menulis hal sedih, karena siapa tahu bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang mengalami situasi yang mirip.