WDYDFL : What Do You Do For a Living?

Saat saya masih bekerja sebagai staff IT di perusahaan di Cikarang dan mendengar ada salah satu staff vendor resign untuk freelance dan wirausaha, saya bertanya dalam hati, “Apakah dia bisa bertahan hidup dari kegiatan wirausahanya?”

Beberapa hari yang lalu saya ditanya oleh salah seorang family, apakah ia sebaiknya resign dari pekerjaan ataukah tetap terus bekerja? Perusahaan tempatnya bekerja sudah agak goyah dan menawarkan opsi pensiun dini. Nilainya sekitar 54 juta rupiah, cukup lumayan untuk dijadikan sebagai modal untuk membesarkan usaha sampingan yang ia rintis, namun opsi ini akan hangus jika perusahaan tiba-tiba kolaps. Ia ragu apakah jika ia berhenti bekerja akan bisa tetap bertahan hidup dengan usaha yang akan ia jalani atau tidak, padahal dia masih punya tanggungan anak yang masih bersekolah.

Saya bilang padanya, keputusan akhir ada pada dirinya sendiri. Orang lain hanya bisa memberikan pendapat. Namun saya sampaikan padanya bahwa jika saya berada diposisinya, saya akan mengambil kesempatan pensiun dini itu.

Mengapa? Karena minimal ada 2 hal yang melatarbelakangi saya memberikan saran seperti itu, yaitu :

  1. Jaring pengaman. Ia sudah memiliki usaha sampingan. Usahanya sudah berjalan beberapa lama dalam bentuk penjualan pakaian dan permak baju/celana. Ia bisa menjahit, jadi selama ini setelah pulang bekerja dan di hari libur, ia bisa mencari tambahan penghasilan. Hanya saja hasilnya masih naik turun karena hanya sampingan, menggunakan sisa-sisa tenaga karena sudah lelah bekerja di pabrik. Artinya, dia sudah punya jaring pengaman sosial untuk melakukan wirausaha, bukan memulai segalanya dari nol. Ia bisa meneruskan dan membesarkan usaha sampingannya itu
  2. Waktu. Saat ini ia bekerja sebagai karyawan pabrik. Berangkat pagi-pagi sekali, kadang pulang saat malam. Saat saya tanyakan, gajinya antara 4 juta sampai dengan 5 juta rupiah. Jika dirata-rata sekitar 4.5 juta rupiah, itu sudah all in termasuk lembur, uang makan, transport dan lain-lain. Hanya saja ia tidak memiliki waktu untuk kehidupannya sendiri karena selama ini sudah sedemikian lelah bekerja di pabrik. Jika dihitung sederhana, gaji 4.5 juta rupiah sebulan sama dengan 150 ribu rupiah per hari. Jika 150 ribu rupiah untuk waktu bekerja 12 jam sehari, artinya Rp. 12.500,- per jam. Selama ini ia mendapatkan sampingan antara 50–200 ribu per hari dari usaha sampingan yang ia jalani dengan sisa waktu dan tenaga yang ada. Semestinya jika ia full menjalani usaha tersebut, ada potensi ia mendapatkan nilai lebih, minimal pendapatan yang sama namun dengan waktu yang lebih singkat

Memutuskan sesuatu yang bisa mengubah jalan hidup memang tidak mudah. Saya pribadi butuh waktu hampir 2 tahun sampai akhirnya percaya diri untuk berwirausaha. Saya bahkan mengamankan jalur, dengan menyiapkan langkah-langkah pengamanan jika rencana yang saya jalankan tidak memberikan hasil yang sepadan. Pertimbangannya saya tuliskan di artikel “Sampai Kapan…” dan “Persiapan Sebelum Berhenti Kerja”

Saat saya berkunjung ke Thailand akhir bulan Juli 2017, saya punya kesempatan untuk berpikir, “Is this possible to work what we want to do?”.

“Just because everyone else does something one way doesn’t mean you have to do it that way.” 
Jason Fried-SignalvNoise

Atau ucapan Steve Jobs :

“If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.

Apakah mungkin jika kita membiayai hidup kita, dengan melakukan pekerjaan sesuai yang kita inginkan? Jawabannya adalah mungkin? Mengapa? Karena secara sederhana saya sendiri sudah membuktikannya.

Benar, saya bukan dan tidak hendak menjadi role model soal orang yang sukses karena bekerja sesuai passion dan keinginan. Karena saya belum sukses dan masih jauh dari definisi berhasil. Namun dalam skala kecil yang bisa masuk dalam jangkauan berpikir, saya bisa bilang bahwa membiayai hidup kita dengan bekerja sesuai keinginan adalah hal yang bisa kita lakukan. Tidak sekarang, bisa nanti. Tidak saat ini bisa di tahun berikutnya.

Jika anda berniat pensiun di usia 60 tahun (atau malah 55 tahun?), coba kurangi usia itu dengan usia saat ini dan renungkan, apakah kita masih punya cukup waktu untuk terus bekerja, menabung dan menjamin masa depan kita? Jika kita masih khawatir dengan masa depan kita, sempatkan untuk melihat peluang atau inspirasi tambahan pendapatan yang mungkin bisa kita dapatkan. Jangan merasa nyaman dan aman padahal kita tahu rasa aman itu palsu.

Jangan menunggu sampai usia pensiun dan menyadari segalanya sudah sangat terlambat.

Terinspirasi dari hal diatas, saya pikir menarik juga jika saya membuat seri tulisan tentang “What Do You Do for a Living?”. Bukan tentang orang-orang yang sukses besar dari usaha kecil menjadi konglomerat. Ini cerita soal orang kecil, ordinary people, yang bekerja sesuai keinginannya dan membiayai hidup dari pekerjaan yang memang benar-benar ingin ia lakukan.

Mungkin saja ini sosok di sekitar kita. Mungkin saja ini soal orang-orang yang kita anggap remeh. Sangat mungkin ini tentang orang-orang yang tidak terkenal, namun mereka menikmati hidup mereka, lebih daripada orang-orang yang kelihatan sukses namun menyimpan bara api dalam hidupnya.

Saat ini saya sudah punya 3 daftar orang yang saya kenal yang hendak saya jadikan sebagai sumber inspirasi tulisan. Mereka sosok biasa-biasa saja, orang-orang sebagaimana kebanyakan kita, namun saya tahu mereka melakukan pekerjaan yang mereka senangi dan bisa hidup dari pekerjaan itu.

Sebagai contoh untuk sosok pertama adalah kisah pedagang kecil yang dulunya menjadi tukang angkut bal-bal kain dan bahan baju di Tanah Abang. Omsetnya sehari tidak besar, hanya 3–4 juta rupiah, namun profitnya bisa sampai sepertiganya. Itu artinya, dalam sebulan ia bisa mendapatkan profit 10–15 juta rupiah, dengan pekerjaan yang relatif ringan dan sesuai passion.

Yang kedua adalah sosok mentor saya. Orang yang saya hormati sebagai guru saya. Yang dikala ia tidur, pendapatannya terus mengalir. Nilainya tidak besar namun massive. Ia bisa bekerja sesuai keinginan, dengan jam dan waktu kerja fleksibel dan masih punya banyak waktu untuk keluarga dan kehidupan sosialnya.

Terdengar menarik? Tunggu saja rilis tulisannya, hehehe…