Cerita Kanvas Bulan November

Untuk pertama kalinya, aku benci bulan November.

Kanvas kosong selalu aku persiapkan, setiap kali November akan menyambutku.

Dengan segala tanda tanya dariku untuknya, November. Dengan segala ketakutan dariku untuknya, November.

Aku telah siap menyambut sang November. Aku telah siap melukiskan kanvas kosong itu.

Karenamu, sumber inspirasiku. Karenamu, yang menguatkanku. Karena kamu sosok yang aku pilih untuk mengisi kanvas itu.

Aku ingin berkarya bersamamu, dengan warnamu. Aku ingin berbagi duniaku, denganmu.

Namun sang November memiliki skenario lain. Membuatku benci dengan bulan sebelum penutup tahun ini. Bulan yang selalu menjadi penantian panjangku.

Untuk pertama kalinya, aku benci bulan November.

Warna yang aku miliki pergi. Meninggalkanku sendiri dengan seluruh harapan sumber kekuatan.

Selamat, misimu berhasil. Kemenangan itu milikmu, dan warnamu. Kehancuran ini milikku, kanvasku, duniaku. Dan Novemberku.

Selamat berkarya dengan seniman lain. Sosok yang memiliki segalanya. Sementara aku hanya apa adanya.

Selamat menggapai bahagia, dengan warnamu, untuknya.

Ajari aku untuk bisa sepertimu. Untuk menjadi warna yang mudah memudar. Melupakan dan meninggalkan. Mengkhianati kanvas kosong tanpa sempat kamu pedulikan.

Kanvas itu masih kosong. Dengan jejak kebencian akan sang November.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated vika fadhillah’s story.