Kita diantara Mereka

Payung hitam dan hujan di malam itu. Pengantar ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’.

Sore itu langit tampak murung. Aku mengambil payung hitam milikku dari balik pintu. Bergegas menuju tempat itu, bersamamu.

Hati ini mulai merasakan sesuatu yang berbeda, dari sikapmu terhadapku. Namun aku berusaha mengabaikan segala prasangka itu. Kami hanya teman biasa.

Pergantian antara matahari dan bulan aku lalui hanya bersamamu, berdua. Hingga akhirnya kamu menghilang, ketika rintik hujan mulai membasahi semua yang ada di lapangan itu. Termasuk aku.

Aku mencari payung hitamku, yang kamu bawa sejak kamu menghilang dari hadapanku.

Tidak, aku mencari kamu, bukan payung hitam itu. Khawatir akan keberadaanmu.


Hujan semakin deras. Aku menikmati suguhan musik dengan singgah di bawah payung orang lain. Bertanya-tanya akan keberadaanmu.

Waktu berlalu, begitupun orang-orang dan payung yang mereka miliki. Membuatku semakin kuyup.

Pertanyaanku pun terjawab. Seketika aku merasa hujan tidak membasahi tubuhku lagi. Ada yang sesuatu melindungiku. Payung hitam itu, dan kamu.

Aku bisa menikmati acara yang ada dengan tenang. Ada kamu disampingku. Payung hitam dan hujan di malam itu. Pengantar ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’.

Udara yang dingin membuat suasana menjadi hangat. Jari-jari tanganku melingkar di lenganmu, secara spontan. Menggenggamnya dengan erat, untuk pertama kalinya. Aku nyaman bersamamu. Tanpa mempedulikan mereka.


2015, Malam Keakraban Fikom Unpad.

Like what you read? Give vika fadhillah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.