meja itu kosong

Hanya tersisa bungkus makanan dan minuman. Telah ditinggalkan.

Meja dan kursi menjadi persinggahan antara aku dan kamu. Ditengah hiruk pikuk kegiatan perkuliahan. Bercengkrama bersama.

Meja dan kursi menjadi pembatas jarak antara aku dan kamu. Di tempat ini.

Meja dan kursi menjadi tombol pengoperasian mesin waktuku. Kembali mengingat kenangan tentang kamu. Di tempat ini.


Tentang kamu, sesosok laki-laki dewasa muda yang telah menyita waktu dan pikiranku.

Kamu yang seringkali ada di tempat ini, dengan sebatang rokok yang telah dianggap sebagai pengganti oksigen. Sudah menjadi ciri khasmu.

Kamu yang sedang menyantap hidangan untuk mengisi perut. Mengisi ulang tenaga untuk menjalani harimu yang panjang.

Kamu yang menggodaku untuk dibelikan makanan. Menekuk muka apabila tidak terpenuhi. Layaknya bocah laki-laki yang meminta sebungkus permen kepada ibunya. Berakhir dengan wajah sumringah, ketika aku menghampirimu dengan piring yang ada di tanganku.

Kamu yang bersandar di tembok. Menandakan sedang lelah.

Kamu yang duduk sendiri tanpa sepatah katapun. Menandakan sedang ada masalah.


Aku yang sering menunda kepulangan, untuk menemanimu. Mengabaikan rasa lelah yang ada. Berniat untuk menghiburmu.

Aku yang enggan meninggalkan kamu sendiri. Mendengarkan setiap candaan versimu. Melihat tawa yang membuat hatiku tersenyum. Mengetahui bahwa harimu baik saja. Kamu bahagia.


Sekarang bangku dan meja ini kosong. Hanya tersisa bungkus makanan dan minuman. Telah ditinggalkan. Tanpa ada siapapun.

Tanpa ada yang mengisi.

Tanpa kamu.

Tanpa kita.