Autoimun (part 1)
autoimun.
bagi sebagian orang kata tersebut terdengar asing. sama halnya bagiku 3 tahun yg lalu, aku sama sekali tidak mengerti mengenai itu.
hidupku baik-baik saja, bahkan kelewat baik sebelum aku mengenal kata tersebut, yg sampai hari ini seperti menjadi bagian dari nama belakangku.
tidak, tidak. hidupku masih baik-baik saja sampai sekarang.
bahkan kelewat baik sampai aku berani menuliskan kisah si autoimun ini kepada kalian.
so, here i am.
dan ini awal mula perjalananku.
sebelum aku mulai, dan untuk yg tidak mengerti, aku akan menjelaskan sedikit mengenai definisi singkat dari autoimun.
autoimun, adalah salah satu penyakit (yg bisa dibilang serius) langka dan cukup sulit untuk disembuhkan. dikatakan autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh menyerang tubuh itu sendiri dengan membuat lawan menjadi kawan, dan kawan menjadi lawan. mudahnya, autoimun akan mendeteksi virus atau yg lainnya sebagai kawan, dan menganggap bahwa vitamin dsb adalah lawan.
autoimun sendiri terdiri dari berbagai type dan level, kalau kalian pernah dengar SLE (lupus), multiple sclerosis, graves disease, diabetes type-1 autoimun, itu adalah sebagian penyakit dr autoimun.
beberapa kemungkinan yg menjadi faktor penyebabnya, yaitu genetik, lingkungan, dan infeksi atau virus.
itu hanya definisi singkat, untuk lebih jelasnya aku ingin berbagi sedikit mengenai autoimun, dalam kasusku. hepatitis autoimun.
waktu itu, tahun 2014.
2014 menjadi tahun yg sangat berarti bagiku. pertama, karena aku lulus sma dan diterima di salah satu ptn. kedua, karena aku memutuskan untuk memakai hijab. dan ketiga, karena aku bertemu dengan autoimun ini.
aku ini termasuk orang yg tidak bisa diam, dulu ikut tari saman, organisasi, les setiap minggu, belajar untuk un, namun malas makan dan istirahat yg cukup.
pengumuman sbmptn yg bertepatan dengan bulan puasa, sungguh sangat bermakna bagiku, diterima di salah satu ptn dan memutuskan untuk berhijab, tentu suatu pencapaian sendiri bagi aku yg saat itu sangat ingin masuk ptn dan jurusan yg aku pilih, psikologi.
namun, bertepatan dengan pengumuman itu pula aku sudah mulai merasakan tubuhku sedang sakit, aku sering merasa lelah, dan juga demam. waktu itu, aku hanya berfikir kalau itu cuma kecapekan biasa karena aktivitas yg sangat padat (saat itu, aku dan teman-teman menggalang dana untuk gaza selama kurang lebih dua minggu). karena itu, aku hanya ke klinik dan diberi obat serta vitamin. aku pun santai dan pulang dengan “ah, cuma kecapekan, tidur juga sembuh.”
seminggu, dua minggu, tiga minggu.
hampir setiap hari badanku demamnya naik turun, dan kepalaku pusing.
sampai akhirnya, aku pergi ke rsud di dekat rumahku, dan ambil darah untuk mengetahui apa yg salah pada diriku. setelah hasilnya keluar, ternyata fungsi hatiku sudah membengkak di angka 150an (normalnya 15) dan aku dirujuk ke dokter penyakit dalam.
akhirnya aku ke salah satu rumah sakit rujukan kantor ayahku, dan menemui dokter penyakit dalam di sana.
“anak ibu sepertinya terkena dbd sudah lama, tp baru ketahuan sekarang. diberikan obat ya lewat infus.” aku dirawat selama 3 hari dan diizinkan pulang, dan harus kembali checkup seminggu kemudian. lega rasanya, karena hanya tinggal menghitung hari sebelum aku perdana kuliah di bulan september.
namun ternyata, kondisiku di rumah tidak membaik, akhirnya waktu check up, aku harus dirawat kembali untuk diobservasi lebih lanjut.
“hb nya rendah bgt, cuma kisaran 6. transfusi darah ya bu, abis itu boleh pulang.“ aku ditransfusi darah untuk pertama kalinya (fyi: aku takut darah) dan 2 hari setelahnya aku diizinkan pulang.
kejanggalan mulai terjadi sejak saat itu.
tiga hari setelah aku transfusi darah (aku sudah di rumah) muncul ruam merah hampir di seluruh tubuh dan wajahku, namun tidak terasa gatal ataupun panas. tidak seperti alergi. ruam tersebut terlihat seperti luka bakar yg sangat merah, ine sampai panik dan akhirnya menghubungi rumah sakit, aku sih santai.. emang anaknya kelewat santai, sih. hehe.
esoknya aku kembali ke rumah sakit dan lsg di rawat, aku masuk ruang isolasi karena kondisi tubuhku sangat drop dan untuk menghindari kemungkinan masuknya virus dari pasien lainnya.
diagnosa pertama dokter adalah, ruam tsb efek dari transfusi darah. aku dirujuk ke dokter spesialis kulit untuk diberikan salep, dan setelah hasil darah keluar.. ternyata fungsi hatiku meningkat di angka sekitar 250.
selang beberapa hari, ruamnya tidak juga hilang. semakin menghitam dan rata di hampir seluruh tubuh dan wajahku.
dokter meragukan diagnosa pertamanya, akhirnya aku dirujuk ke dokter spesialis hematologi, untuk mempelajari kondisi darahku saat itu. semuanya normal kecuali hb, hematokrit, leukosit yg bermasalah (eh, ngga normal ituya?). namun akhirnya, diagnosa dokter tetap pada ruamku adalah efek dari transfusi darah.
aku dirawat beberapa hari, hanya untuk menunggu agar ruam menghilang, dan menunggu hasil diagnosa dokter yg tepat.
tbc.
