Autoimun (part 2)


setelah beberapa hari di rumah sakit, kondisiku tidak juga membaik. ruam di tubuh dan wajahku semakin menghitam, aku selalu diam dan hanya tersenyum sesekali, untuk meyakinkan ine bahwa “aku baik baik saja, tidak perlu khawatir.”

setiap pagi aku disambut dengan sarapan bubur dan jarum di lenganku, untuk diambil darahnya. setiap sore juga aku menunggu dokter visit dan memberikan jawaban, tidak terasa, seminggu berlalu.

bingung? sudah pasti. bosan? aku tidak pernah merasa sebosan ini selama hidupku. takut? bisa dibilang.. iya.. tapi aku hanya terdiam dan lagi-lagi tersenyum mengisyaratkan bahwa “aku baik baik saja, tidak perlu khawatir.”

segala test dilakukan, mulai dari test darah, rontgen, usg, bahkan ekg (jantung), namun hasilnya tetap sama. tidak ada yg salah pada bagian organ tertentu dalam tubuhku, kecuali fungsi hati yg diakali dengan pemberian obat lambung sebelum makan. selebihnya, organ dalam tubuhku sangat baik. lalu, kenapa aku?

aku, ine, ayah, dan saudaraku mempertanyakan hal yg sama, bagaimana mungkin aku dirawat tetapi tidak membaik. mereka selalu bilang “sabar ya nak, sabar. inshaaAllah semua ada hikmahnya.” dan lagi-lagi aku hanya tersenyum.

entah hari keberapa, dokterku visit dan bertanya beberapa hal kepadaku, “kamu bisa lihat cahaya ngga?” “bisa dokter.” “terasa lemas sekali atau letih?” “biasa saja kok dokter" jawabku. “ah, mungkin bukan.. saya kira anak ibu terkena lupus, itu loh bu penyakit kekebalan tubuh, karena dilihat dari ruam di wajahnya yg seperti kupu-kupu, tapi sepertinya tidak. pasien lupus tidak dapat melihat cahaya, dan anak ibu bisa. semoga saya salah diagnosa.” dokter menjelaskan dengan ragu-ragu, dan aku hanya terdiam dan bertanya dalam hati, “lupus? bukannya itu judul film jaman dulu? iyagaksih?”.

setelah hari itu, ayah dan ine sibuk sekali mencari informasi tentang lupus, walaupun dokter masih ragu, dan tidak menegaskan diagnosanya. mereka tetap mencari info sebanyak mungkin. akhirnya diketahui bahwa, lupus merupakan penyakit kekebalan tubuh, yg menggerogoti tubuh pasien setiap hari, menjadikan pasien lemah dan tak berdaya, dan.. biasanya berakhir dengan kematian. siapa yg tidak kaget? siapa yg tidak takut? siapa yg tidak khawatir? mungkin hanya aku di ruangan itu. selebihnya, hampir seluruh keluargaku sibuk mencari informasi lebih lanjut.

mungkin saja dua atau tiga minggu telah berlalu, aku tidak tahu pasti.

kosong.

pikiranku melayang.

tidak memiliki arah.

gelapku baru saja dimulai.

sore itu, aku tiba-tiba menjadi orang yg sangat diam. tidak mau makan, mengobrol, nonton tv ataupun aktivitas lainnya. aku hanya diam dan tidak memikirkan apa-apa. kosong. aku merasa sepertinya duniaku akan berakhir. hanya tinggal menunggu malaikat maut muncul dihadapanku. terlalu larut.. akhirnya, aku pun tertidur.

keesokan paginya..

hari itu datang dengan tiba-tiba.

aku terbangun sebelum subuh, sendirian di tempat tidur. ine tertidur pulas di bangku bersama dengan adikku yg paling kecil. aku ketakutan luar biasa, entah kenapa aku merasa waktuku sudah hampir habis. aku terdiam dan mencoba kembali tidur, dan berharap ini hanya mimpi buruk. aku tertidur kembali.

kemudian aku terbangun, dengan nafas sangat sesak dan gelap, seperti itu adalah nafas terakhir yg akan keluar dari tubuhku. aku kejang sesaat. “ine.. tolong.” tapi aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun, dan hanya menangis di tempat tidur. lalu, entah bagiamana caranya.. aku kehilangan kesadaranku.

semuanya berubah, seolah-olah aku melihat dan mendengar dengan frekuensi yg berbeda. aku ketakutan. penglihatan dan pikiranku tidak sinkron. mataku hanya fokus ke sebuah foto di dinding dengan tulisan Allah dan Muhammad, aku bershalawat dalam hati. merasa ada yg akan datang. air mataku mengalir pelan-pelan, dan tubuhku kaku.

“kakak udh bangun, mau sarapan?..” lalu ine tersentak melihat kondisiku. “kak? kok nangis? kamu kenapa? jawab ine dong, kak?” akhirnya, aku mencoba menjawab.. “ne, ada yg mau datang. ine gapapa kan, kalau aku pergi? udh ada yg mau jemput.” hanya kalimat itu yg dapat keluar dari mulutku. ine hanya terdiam. air matanya mengalir. ine berusaha tenang dan mengambil handphone, menghubungi ayah dan juga omku untuk datang ke rumah sakit detik itu juga. kemudian dengan suaranya yg lembut, ia berkata “gapapa kok kak, gaada yg mau jemput. kakak tenang ya..” aku hanya menangis dan menangis.

tiba-tiba saja kamarku ramai.

tangisan pecah dari setiap sudut ruangan.

sepertinya hampir semua keluargaku hadir di situ.

“ah.. apa ini sudah waktunya?”

“apa aku akan siap?”

“aku akan sendirian.. aku akan di tempat yg gelap.. tidak ada ine, ataupun ayah.”

“meninggalkan wajah-wajah yg bingung itu?”

“aku harus bagimana?”

“diam atau berteriak?”

“apakah.. aku sudah siap?”

aku terdiam, hatiku pasrah.

tbc.