Terbunuhnya Perasaan 
Nampak sepasang kaki melangkah diantara berkas cahaya pada celah dibawah pintu. Dalam terang keemasan cahaya mentari pagi ini bersinar sedikit malu-malu. Meski begitu, kita masih tetap bisa melihat partikel-partikel debu melayang-layang diudara. Semakin dekat bayang sepasang kaki itu melangkah mendekati pintu. Tanpa bunyi bel, engsel pintu ditekan sedikit menjerit seperti tikus yang sedang terjepit akibat karat yang menempel. Pintu terbuka perlahan dan Ahmed, kekasihku, muncul dari balik pintu. Di luar gerimis. Butir-butir air hujan menempel pada rambut hitamnya yang lebat seperti embun di pagi hari di bibir daun yang ranum. Pakaiannya sedikit basah, ia menyeka dengan tangannya yang panjang. Lihat dia, kekasihku itu, meski masih muda ia penyakitan, terlihat lebih tua, ditambah perawakannya yang bertubuh tegap, kurus kering dengan hidungnya yang mancung. Benar-benar sosok yang sangat tidak menarik ! Namun, disisi lain ia memiliki wajah yang lembut, ramah, juga tegas. Setiap kau memandang wajahnya kau akan berkeinginan untuk meraba dengan jari-jarimu, merasakan dengan sungguh-sungguh kehangatan yang dimilikinya, dan tidak ingin berpaling muka dari padanya meski sekejap. Seperti umumnya sang orator ulung, kekasihku dikenal sebagai orang yang cerdas, garang, dan penuh semangat. Namun, saat ini wajahnya terlihat agak pucat dan sangat gelisah tak seperti dia yang biasanya.
"Ada apa denganmu, sayang ?", tanyaku sambil melirik wajahnya yang pucat pasih dan bibirnya yang gemetar. "Kau sedang tak sehat atau ada masalah dengan kekasihmu lagi ? Kau tak terlihat seperti kau yang biasanya."
Dengan sedikit ragu Ahmed mendehem dengan raut wajah yang begitu sedih seperti petani yang gagal panen dan nelayan yang pulang tanpa membawa walau seekorpun ikan kecil. Lalu, dengan sikap yang putus asa ia mulai bercerita, "ya, dengan kekasihku lagi. Aku capek mesti menjelaskan dan menerangkan keseriusanku padanya tentang hubungan kami. Dia menudingku sana sini. Hidupnya penuh dengan pesimis dan banyak mengeluh. Aku sangat gelisah, sulit tidur bermalam-malam, dan tidak tidur semalaman. Seperti yang boleh kau lihat aku bagaikan mayat hidup. Kurang ajar ! Setan ! Dia tidak menghargaiku sama sekali.
"Tetapi ada apa ?".
"Sebenarnya hal yang sepele dan sangat sederhana. Drama dalam sebuah kisah asmara. Namun, akan kuceritakan semuanya kalau kau berkenan untuk mendengarkannya. Kemarin Laila tak punya kesibukan seperti biasanya. Aku juga. Jadi kami merencanakan mengobrol panjang seharian. Tentu saja aku sangat bahagia. Kami selalu punya kesibukan masing-masing yang sering menyita kebersamaan kami. Aku sibuk untuk menjumpai banyak orang. Dia sibuk merawat ibunya yang sedang sakit. Kau bisa bayangkan betapa... yah... gembiranya aku saat itu. Bisa ngobrol panjang dengannya. Saya pikir dia juga senang dengan ini. Namun, kau masih belum sepenuhnya membiarkan perasaan memberikan seutuhnya hati untuk mencintai. Jadi, kau belum bisa merasakan betapa hangat dan menyenangkan ketika kau lelah beraktifitas dari kesibukan kekasihmu ada untuk menyegarkan dirimu dengan cerita-ceritanya yang manja.
Kekasihku, Ahmed, memaparkan kisah kehidupan percintaan yang menyenangkan. Lalu ia menyeka keringat di dahinya dan kembali bercerita. 
"Aku mengira akan sangat menyenangkan jika menghabiskan waktu bersama Lailaku. Ya, kau tahu bukan, meski aku terlihat cerdas, romantis dan berwibawa, bahwa aku juga adalah orang yang sangat emosional dan jauh dari sabar, kata-kataku juga kasar. Dan kau pasti tahu benar bahwa Laila adalah orang yang menyenangkan. Juga baik hatinya. Bukankah begitu ? Mungkin saja Laila bisa menyeimbangkan kekurangan-kekuranganku.
Ya, dengan berbagai cara kucoba agar obrolanku dengannya terasa segar dan menyenangkan. Aku mulai menunjukkan hal-hal kecil, kukirimkan foto-foto diriku padanya. Beberapa foto tersebut gayaku sangat lucu. Aku mencoba menjadi humoris dengan berpose lucu. Jika kau melihat foto yang kukirimkan untuknya maka perutmu akan sakit karena tertawa gulung-gulung dan terbahak-bahak ! Foto pertama, kedua, ketiga dan semua kukirimkan untuknya. Dan tiba-tiba Laila mulai ngaur. Laila banting setir dari hal yang menyenangkan ke hal yang sungguh tidak mengenakkan. Laila lagi-lagi membahas soal kekasih-kekasihku yang terdahulu. Kalimat-kalimat yang seperti pisau tajamnya mulai terlontarkan dari mulut Lailaku yang memiliki wajah yang teduh itu. Ia memilih mundur dari hubungan yang masih terbilang sangat singkat ini. 
Pertanyaan-pertanyaan yang tak menyenangkan memenuhi rongga-rongga kepalaku: siapa kekasih-kekasihku terdahulu, kisahku dengan mereka, bagaimana hubungan-hubungan dengan mereka dulu, kucoba terangkan pada Lailaku yang manis bahwa mereka adalah masa laluku, cinta-cinta yang datang pada masa ranumku. Setiap orang dimasa ranumnya memiliki kekasih untuk di cintai. Begitu kataku mencoba menjelaskan pada Lailaku sayang dan sangat mustahil jika seseorang tidak memilikinya. Namun, Laila sama sekali tak mau mendengarkan. Ia keras kepala ! Ia membayangkan hal yang tidak-tidak ! Menudingku dengan tudingan-tudingan sampahnya ! Setan ! Tai !
'Kau sangat jahat!’, 'kau tidak jujur padaku ! Mungkin saja kau masih jalan dan berhubungan dengan kekasih-kekasihmu itu sampai saat ini dan kau tidak mau jujur padaku !’, itu kata Laila kepadaku. Aku coba dan terus saja mencoba menerangkan dan meyakinkan padanya, namun ia sama sekali tetap tak mau mendengar. Logika laki-laki memang tak akan berguna untuk seorang wanita. Akhirnya aku menerima dan mengiyakan keputusan Laila. Keputusan dimana ia memilih mundur dari hubungan ini dan saling mengakhiri.
"Oh, bukan cerita yang menyenangkan."
"Selain pesimis, Laila adalah orang yang aneh. Wanita memang tak bisa dimengerti, ya. Laila masih ranum, muda, masih hijau dan sensitif. Tak bisa dikejutkan oleh sesuatu yang meskipun sangat sederhana. Begitu sulitkah mempercayai meski aku telah mencoba sabar, menerangkan bahkan aku jujur !"
"Ya, ya, tentu kau boleh saja berkata bahwa wanita memang sebuah teka-teki yang sangat sulit! Namun aku tidak bisa berkata demikian."
"Sayangku yang manis, kau punya pengaruh besar bagi Laila. Dia sangat menghormatimu. Tolong, temuilah dia ! Gunakan pengaruhmu untuk membuatnya tidak minder padaku. Katakan juga padanya untuk berani pada kehidupan dan menghadapi semuanya. Tolonglah !"
"Tapi, apakah ini tepat ?"
"Mengapa tidak ? Kau dan dia adalah sosok yang sama. Dirimu sendiri. Laila akan percaya padamu. Sebagai kekasih, tolonglah aku !"
Permohonan Ahmed masuk akal bagiku. Dengan segera aku berpakaian dan menemui Laila. Kutemui Laila di tempat favoritnya: duduk di sofa pada beranda dengan kaki menyilang, masih dengan wajahnya yang teduh, dan sedang membaca buku-buku yang katanya beradab itu. Hari mulai senja. Warna jingga pada langit terlihat begitu anggun, masih dengan sedikit sisa-sisa hangat mentari tadi dan sejuknya basah sisa gerimis. Ketika aku menyapanya ia segera meloncat dan berlari padaku. Memperhatikan sekeliling, kanan dan kiri lalu dengan gembira menyambutku dengan pelukan yang hangat. Penuh cinta. (Pembaca, tentu saja ini tidak salah ketik. Jangan salah paham juga, aku dan Laila bukan penyuka sesama jenis. Apa yang salah dengan itu ? Aku dan Laila adalah sosok yang sama namun berbeda sisi. Aku adalah Laila dan Laila adalah aku).
Nah lho, sekarang siapa yang merahasiakan siapa ?
"Perasaan apa lagi ini yang datang padamu ?" tanyaku sembari mendudukan Laila di dekatku.
"Apa maksudmu ?"
"Lagi-lagi kau menyiksa kekasihmu, terlebih dirimu sendiri. Ahmed datang padaku dan menceritakan semuanya."
"Oh... Rupanya ia punya orang untuk mengadu!"
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
"Ah, tidak begitu penting. Aku hanya telah mulai bosan dengan perasaan dan merasa frustasi karena tak tahu harus pergi kemana. Karena rasa jengkel aku mulai meracau tentang 'kekasih-kekasih' terdahulunya. Aku mulai menangis sendiri dengan histeris. Aku memintanya untuk jujur. Dan apa yang salah dengan hal itu ? Aku tak bisa percaya padanya, jadi bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya ?"
"Tapi, kau tahu Laila. Itu sangat jahat dan tidak manusiawi. Kekasihmu sangat kecewa karena merasa tak kau hargai dan terganggu dengan ulahmu."
"Ah, itu hal yang sepele. Aku orang yang cemburu. Dan lelaki akan sangat suka ketika wanita cemburu walaupun hanya sekedar berpura-pura cemburu. Tapi sudahlah ! Lupakan saja. Aku tidak suka membicarakan ini, aku sudah menyerah."
"Tapi Laila, berhentilah seperti ini. Kontrol dirimu !"
"Apa yang mesti kulakukan ? Mengatakan kalimat-kalimat penuh omong kosong kepadanya ?"
"Kau jangan egois. Dalam perihal hidup aku mesti kau ajak serta. Kau dan aku. Pikiran dan perasaan harus berjalan seimbang Laila."
"Mana bisa kau kuajak. Ini persoalan cinta, kau masih banyak perhitungan tentang segala hal. Bukan sebuah cinta sejati yang murni jika kau masih memperhitungkannya."
"Ayolah, jangan tolol Laila."
Laila sangat terkejut, pucat, terduduk di sofa dengan pandangan kosong kelangit-langit tanpa mengucapkan sepatah katapun, Laila bergeming ketika mendengar yang kukatakan. Ekspresi sakit hati diungkapkannya dengan bahasa tubuh. Laila berpindah dari satu sofa ke sofa lain dengan perasaan sangat menderita sekali, gerak geriknya dipengaruhi oleh kesedihan.
Aku membiarkannya tenang lalu kembali meneruskan pembicaraan yang mesti aku sampaikan kepadanya. Aku mencoba berceloteh tentang kebebasan cinta, egoisme hubungan percintaan, asmara, dan takdir yang tak bisa dielakkan. 
"Bukan itu yang ingin ku bicarakan," katanya memotong, "tentang hal itu aku sangat mengerti. Membicarakan cinta siapapun tak bisa disalahkan. Yang aku khawatirkan adalah hal lain. Hal yang sebenarnya tak berarti. Kau tahu sendiri, aku sama sekali tak mengerti kebiasaan masyarakat yang harus di perhatikan. Aku tak bisa mengendalikan perasaan. Bahkan aku suka terguncang ! 
Jadi, tolonglah aku ! Katakan padaku apa yang harus dilakukan Laila sekarang ?"
Dengan suasana yang anggun disenja itu, akhirnya pikiran dan perasaan menemukan jalan tengah. Laila boleh tetap mencintai Ahmed namun dengan perasaan yang tidak boleh utuh sepenuhnya dan lebih mengedepankan pikiran. Karenanya, perasaannya ditekan oleh pikirannya. Namun, pada akhirnya dengan diam-diam perasaan bunuh diri tanpa menyusahkan orang lain. Walau perasaan tak benar-benar mati.
Donggala, 05 April 2017
Oleh : Vera Donna Kristy

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.