Brebes Punya Cerita

Kembali lagi ke cerita seorang mahasiswa calon perencana dimana setiap perjalanan menjadi kenangan dan harus diabadikan. Semester ini saya mendapat mata kuliah Studio Perencanaan Wilayah yakni mengemban 4 sks dan saya mendapat peran sebagai ketua studio untuk wilayah Kabupaten Brebes. Cukup menjadi tanggung jawab dan amanah bagi saya untuk keberlangsungan studio ini, tapi itu bukan intinya. Disini saya mau berbagi mengenai pengalaman saya survey lapangan bersama teman-teman studio saya yakni berkumlah 35 orang ke Kabupaten Brebes. Apa yang kalian ketahui mengenai Kabupaten Brebes? Bawang merah? Telor asin? atau tidak terbayang sama sekali?

Survey lapangan selama seminggu di Kabupaten Brebes ini adalah rangkaian proses studio kami dengan harapan mendapatkan fakta dan data serta informasi lapangan baik dari primer maupun sekunder. Seperti biasa momen survey ini selalu saya gunakan sebagai pengenalan akan daerah baru yang belum pernah saya datangi. Kabupaten Brebes merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Timur dari jalur Pantura tepatnya di sebelah timur Cirebon dan di Sebelah Barat kota Tegal. Brebes memiliki 17 kecamatan dengan kawasan perkotaan di Kecamatan Brebes, Bumiayu, Wanasari.

Peta Kabupaten Brebes

Sesampainya di Brebes terlihat bahwa lahan di Kabupaten Brebes ini didominasi oleh laha pertanian, disepanjang jalan terlihat hamparan pemandangan sawah yang sangat luas. Coba aja bandingin, luas wilayah Kabupaten Brebes 1.662,96 km2 atau 166.296 Ha sementara luas pertanian sebesar 62.703 Ha atau sekitar 37% jadi ya kebayanglah kalau misalnya dominasi lahan pertanian, sepertiga lahan Brebes adalah pertanian. Selain itu dominasi lainnya juga adalah hutan yakni seluas 46.708 Ha atau sekitar 28%. Jadi memang Brebes ini adalah Kabupaten di Jawa Tengah yang didominasi lahan pertanian karena sejatinya masyarakat Brebes pekerja sebagai petani. Hal itu mendukung peran Brebes sebagai pemasok padi dan bawang merah di provinsi Jawa Tengah.

Faktanya saat ini rantai tata niaga petani hingga konsumen amat panjang. Banyaknya jejaring tengkulak-tengkulak yang menjadi perantara sehingga harga atau nilai tukar petani itu sangat rendah. Maka tidak heran jika petani di Brebes ini sering mengeluh karena harga pasar yang sangat tinggi sementara mereka menjual ke tengkulak dengan harga yang sangat rendah. Saya bertanya harga bawang merah saat itu (Oktober 2017) dari petani 9.500/kg. Lihat saja di pasar dijual di pasar Brebes bisa hingga 20.000- 30.000 per kg. Panjangnya rantai tata niaga petani ini juga menjadi bahan analisis kami dalam melakukan penyusunan rencana tata ruang Brebes. Untuk kondisi sarana prasarananya sudah terbilang cukup hanya saja tidak merata antara di wilayah Utara dan Selatan. Brebes yang memiliki 17 Kecamatan ini belum semuanya memiliki perkembangan yang merata. Terlihat bahwa kawasan perkotaannya didominasi di Brebes yang memiliki kegiatan ekonomi lebih tinggi dan juga konsentrasi kantor pemerintahan yang terpusat di Brebes serta lokasinya yang dilewati jalur pantura membuat kegiatan berkembang terpusat hanya di Brebes (untuk wilayah Utara). Nah untuk wilayah Selatan, perkembangan memusat di Kecamatan Bumiayu.

Saya kebagian survey di Kecamatan Wanasari, saya bersama teman saya naik motor berdua dari basecamp di wilayah tengah Brebes menuju wilayah Utara dan pastinya melewati jalan nasional yakni jalur Pantura. Cewek berdua motoran demi survey, padahal saya gak punya SIM loh (jangan ditiru) haha. Kecamatan Wanasari ini memiliki potensi yang tinggi terutama di pertanian hortikultura yakni bawang merah. Pada saat saya datang memang lagi musim panen bawang merah dan di sepanjang jalan saya melihat kegiatan ibu-ibu buruh tani menjemur bawang seperti poto dibawah ini.

Ibu-ibu buruh tani bawang merah di Desa Sawojajar, Brebes
Lahan pertanian bawang merah di Brebes
Bu Mandor bersama pekerja di Wanasari (wkwk)
Kegiatan pembersihan bawang merah di Kec. Wanasari

Brebes memiliki potensi kuat terutama di pertanian pangan dan hortikultura. Wilayah tengah-utara mayoritas pertanian hortikultura karena kandungan tanah yang sangat baik untuk menanam bawang merah. Sedangkan wilayah tengah ke selatan didominasi oleh pertanian pangan seperti padi karena kandungan air tinggi, dataran tinggi dan kondisi tanah yang cocok untuk pertanian pangan.

Soal pertanian Brebes memang tidak bisa dilawan, faktor alam sudah mendukung potensi pertanian di kabupaten ini. Hanya saja persoalannya adalah bagaimana Brebes ini bisa mengembangkan sektor pertanian ini dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya?

Selain pertanian, ada cerita lain dari Brebes yang tak kalah menarik. Memang tidak banyak yang tahu akan keberadaan kabupaten ini di Indonesia, namun tidak ada salahnya kita mengenal Brebes lebih lagi.

Kabar dari pemerintah Brebes mengatakan bahwa akan masuk investor asing ke Kabupaten Brebes untuk mengembangkan industri non pertanian. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh pihak pemerintah dan dinas terkait seperti Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Baperlibangda). Tak banyak masyarakat yang tahu akan berita ini. Namun yang menjadi masalahnya adalah “mampukah masyarakat Brebes ini menghadapi perkembangan industri yang akan masuk ke Brebes nantinya?”. Atau dengan masuknya industri ini justru masyarakat Brebes yang akan tersingkirkan karena dari data yang diperoleh yakni Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes merupakan IPM terendah diantara kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah dengan IPM 63.98 pada tahun 2016 (Sumber : Kabupaten Brebes Dalam Angka Tahun 2017). Selain itu persentase tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di kabupaten brebes pada tahun 2016 sebagian besar adalah lulusan Sekolah Dasar. Jadi menjadi ironis sekali jika Kabupaten ini belum memiliki kapasitas SDM dan pengelolaan yang baik sementara potensi alam yang sangat yang tinggi untuk dikembangkan. Pertanian belum mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat didalamnya.

Tahukah kamu kalau alasan investor melirik Kabupaten Brebes sebagai pemekaran kawasan industri dari Jababeka? Berikut alasannya:

  1. Lokasinya yang berada di daerah pantura dan dilewati jalan tol dan jalur pantura membuat Brebes.
  2. Infrastruktur yang sudah baik terutama aksesibilitas yakni jalan nasional dan jalan tol memudahkan kegiatan distribusi yang diperlukan industri.
  3. UMR di Kabupaten Brebes sangat rendah Rp. 1.541.617 (urutan 4 paling rendah di banding Kab. Rembang, Banjarnegara dan Wonogiri) dan itu membuat industri akan semakin beruntung.
  4. Masyarakat Brebes dinilai pekerja yang ulet dan rajin dan hasil kerjanya bagus (hasil wawancara saya dengan pengusaha tekstil dari Jepang)
  5. Pemerintah provinsi mengarahkan perkembangan industri di Kabupaten Brebes dan sudah ada perjanjiannya.

Industri besar eksisting di Brebes memang sudah banyak salah satunya adalah industri tekstil di Kecamatan Kersana. Ini adalah satu-satunya industri besar yang berhasil kami wawancarai dan kami kunjungi. Adapun perusahaan lainnya seperti JAPFA, industri sepatu Adidas namun bermasalah dari perizinan dan tidak berhasil dikunjungi. Perusahaan ini bernama Yeon Heung Mega Sari, perusahaan tekstil yang memperkerjakan sebanyak 3.000 pekerja saat ini dan 60% adalah masyarakat dari Kabupaten Brebes. Jangan salah ya salah satu client dari perusahaan ini adalah Walmart (brand supermarket besar dari Amerika) dan banyak lagi. Selama saya masuk dan melihat proses kerja dari industri ini cukup profesional dan terstandarisasi.

Industri Tekstil di Kecamatan Kersana
Suasana di Industri Tekstil di PT. Yeon Heung Mega Sari
Proses setrika pakaian di Industri Tekstil di PT. Yeon Heung Mega Sari

Penjelasan dan foto diatas adalah salah satu bukti bahwa Brebes juga memiliki potensi untuk pengembangan industri, karena Kabupaten Brebes adalah kabupaten memiliki jumlah penduduk tertinggi di Jawa Tengah yakni sebanyak 1.788.880 Jiwa (BPS 2016). Maka dari itu industri ini akan mulai dikembangkan guna meningkatkan perekonomian Kabupaten Brebes. Peran perencana disini adalah memaksimalkan potensi (industri dan pertanian) yang ada dengan rencana tata ruang guna pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat. Semua aspek dipertimbangkan, termasuk aspek kelembagaan pembiayaan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Sektor yang kuat memang di industri dan pertanian, industri baik industri besar hingga UKM serta pertanian pangan hingga hortikultura. Industri UKM di Brebes juga sangat banyak mulai dari industri UKM yang berbasis pertanian maupun yang tidak berbasis pertanian dan menyerap tenaga kerja yang tak kalah banyak dari industri besar.

Industri UKM di Brebes (1.Industri Bawang Goreng 2&3. Industri Bulu Mata palsu

Setelah fakta-fakta diatas yang telah dijelaskan, kami juga melakukan perencanaan wilayah untuk Kabupaten Brebes. Konsep yang kami usung adalah konsep Agropolitan dan FSI, kemudian konsep Export Base dan Regional Cluster. Sebenarnya banyak penjelasannya dari konsep yang kami usung namun saya akan menjelaskan secara singkat saja.

Kami memang sengaja membuat dua alternatif perencanaan wilayah. Perbedaannya adalah kalau konsep Agropolitan ini menjawab persoalan panjangnya tata niaga dengan perencanaan pertanian dari bahan baku hingga barang jadi sampai kemasan di Kabupaten Brebes. Konsep ini menjawab isu Brebes yakni nilai tambah (added value) hasil pertanian yang kecil dan nilai tukar petani yang rendah. Namun konsep ini tidak mampu mengakomodasi tantangan perkembangan industri dari calon investor yang akan datang karena memang konsep ini berbasis pertanian. Sementara untuk konsep kedua kami menggunakan konsep dimana melakukan klaster komoditas industri UKM dan pertanian. Selain itu konsep ini mengakomodasi semua jenis industri besar yang masuk di Kecamatan Kersana dan Losari sebesar 2.000 Ha. Hanya saja konsep ini tidak mengakomodasi isu rendahnya nilai tambah hasil pertanian, oleh karena itu kami mengusung untuk melakukan ekspor yang bisa dilakukan dari kecamatan masing-masing. Perencanaan ini sebenarnya proses dari belajar kami sebagai mahasiswa perencana yang haus akan ilmu (wekkk), wajar memang jika belum sempurna dan masih banyak kesalahan. Namun, satu pelajaran yang saya dapat adalah bahwa tidak akan mungkin semua wilayah ini merata pembangunannya, namun kesejahteraan adalah hal mutlak bagi masyarakat yang ada didalamnya.

Brebes memang punya cerita, oleh karena itu saya mau membagikan cerita ini kepada pembaca setia medium ini. Haha. Maaf jika ada kesalahan kata dan harap dimaklumi. Penulis masih dalam proses belajar menulis. Saya hanya ingin berbagi cerita dalam ruang dan media ini. Mungkin berbeda-beda cara orang mengekspresikan dirinya, namun saya memilih untuk menulis. :)

salam

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.