Mina diantara Batik dan Ikan

Dilema mengembangkan tujuan kota

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata batik? Karya seni asli Indonesia? atau corak tradisional di baju pegawai hari Jumat? Yap. Batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan. Batik merupakan salah satu dari sejuta warisan Indonesia yang kini masih bertahan atau mungkin sudah semakin mengikis. Indonesia mempunyai beberapa kota penghasil batik dan mempuyai ciri khas corak tersendiri untuk setiap kota. Nah, kita punya beberapa kota penghasil batik seperti Jogja, Solo, Pekalongan, Kalimantan, Cirebon, Madura dan lainnya. Namun saya bukan membahas keistimewaan batik disetiap kota tersebut, tapi saya mau membahas satu kota yang paling menarik yaitu Pekalongan. Kota ini ada dipikiran banyak orang ketika mengingat kata-kata kota khas batik.


Sumber : BAPPEDA Kota Pekalongan

Pekalongan terkenal dengan batiknya dan sudah terkenal di sebagai warisan dunia dengan ditetapkan sebagai World City of Batik oleh UNESCO pada tahun 2009. Sampai saat ini juga batik masih mendominasi perekonomian di Kota Pekalongan. Saya datang ke Pekalongan pada bulan Februari bersama teman-teman saya untuk survey lapangan terkait tugas mata kuliah yaitu Studio Perencanaan Kota dan Studio Infrastruktur dan Transportasi. Tujuan penataan ruang kota Pekalongan ini tertera didalam dokumen rencana yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pekalongan tahun 2009–2029 yaitu terwujudnya kota jasa, industri dan perdagangan batik, serta minapolitan, yang maju, mandiri dan sejahtera. Dengan demikian, pengembangan kota ini diarahkan untuk mengembangkan potensi perdagangan batik dan minapolitan. Sesuai dengan judul tulisan saya Mina diantara batik dan ikan akan saya bahas sebagai berikut. Pertama saya akan membahas batik di Kota Pekalongan.

Batik Pekalongan

Batik asli Pekalongan konon memiliki nilai historis yang berkaitan dengan pergolakan di zaman kolonial Belanda. Ketika Panembahan Senopati mengumumkan perang terbuka melawan Belanda perpecahan terjadi di lingkungan keraton Yogyakarta. Batik ini menjadi daya tarik untuk wisatawan datang ke kota ini. Masyarakat di kota ini juga masih menggantungkan hidupnya dari industri batik yaitu sebagai pengrajin batik dan pedagang batik. Tidak hanya perdagangan batik saja, Pekalongan juga memiliki kampung kreatif batik yang mendukung Kota Pekalongan dalam mewujudkan tujuan penataan ruang kota ini. Kampung kreatif Kauman dan Pesindon menyediakan workshop batik dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin berwisata ke kota ini. Harga kain batik di Pekalongan ini juga beragam dan tergantung di daerah masing-masing. Untuk di Kampung Batik Kauman harganya relatif mahal karena berada di pusat kota Pekalongan serta motif dan model yang ada lebih bagus dari daerah lain di Pekalongan dan untuk kampung batik Pesindon juga bagus namun home industry lebih sedikit dibanding dengan kampung batik Kauman. Kalau di Kelurahan Medono lebih kearah perdagangan batik terlihat dari banyakny toko-toko batik disepanjang jalan ini. Kelurahan Jenggot juga terdapat home industry batik namun batik printing dan kualitasnya lebih rendah dibanding kampung batik lainnya di Pekalongan.

Industri Batik di Kampung Batik Pesindon, Pekalongan

Perikanan

Selain batik, Pekalongan juga diperuntukkan untuk kawasan minapolitan yang ditetapkan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan. Namun sayang, karena urusan birokrasi yang rumit dan urusan minapolitan ini diambil alih dan dikendalikan oleh pemerintahan pusat membuat Kota Pekalongan menjadi terhambat untuk mengembangkan kawasan pesisir di Pekalongan Utara. Hal tersebut berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah dan perkembangan kawasan tersebut.

Galangan Kapal di Pekalongan Utara

Bagi anda yang belum tahu mengenai minapolitan maka saya jelaskan lebih dahulu. Minapolitan adalah konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis manajemen ekonomi kawasan dengan motor penggerak sektor kelautan dan perikanan dalam rangka peningkatan pendapatan rakyat. (Sumber : Dokumen Pengembangan Kawasan Minapolitan Kementrian Kelautan dan Perikanan). Hal tersebut didukung dengan letak geografis Kota Pekalongan yang berada di utara Pulau Jawa dan berbatasan dengan Laut Jawa.

Untuk sementara ini berdasarkan wawancara kepada Walikota Pekalongan Bapak Achmad Alf Arslan Djunaid yang mengatakan bahwa saat ini memang hal tersebut menjadi dilema dalam mengembangkan kawasan Minapolitan di Pekalongan Utara tersebut. Sementara tujuan penataan ruang kota ini disebutkan untuk pengembangan kawasan batik dan minapolitan. Wali kota Pekalongan menyebutkan bahwa saat ini memang konsen pengembangan kota lebih kearah Batik karena lebih signifikan untuk mengembangkan kota Pekalongan. Jumlah perikanan tangkap yang setiap tahun semakin menurun membuat Pekalongan kalah saing dengan daerah lainnya yang berada di Utara Pulau Jawa. Hal ini membuat nelayan nelayan di Kota Pekalongan banyak yang berubah profesi menjadi profesi lain seperti bertani, berdagang, supir dan lain-lain. Dari hasil wawancara Dinas Kelautan dna Perikanan juga belum mendapat perhatian dari pemerintah pusat sementara ketika pemerintah daerah mengambil alih maka akan menyalahi aturan. Sebenarnya birokrasi antara urusan pemerintahan pusat dan pemerintah daerah dapat menghambat proses pengembangan kota tersebut.

Menurut saya juga saat saya survey lapangan ke kota Pekalongan melihat bahwa kota ini cenderung pengembangannya kearah perdagangan dan industri batik. Sehingga perkembangan kota ini memang saat ini diarahkan ke perdagangan dan industri batik. Semoga Kota Pekalongan dapat memajukan kota dengan melihat kesejahteraan masyarakat Pekalongan.

Sekian tulisan saya mengenai tujuan kota Pekalongan dan informasi seputar Pekalongan, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau informasi yang kurang lengkap.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Vermona Lumban Gaol’s story.