Monochrome Is Fine

Kembali Kau hadirkan memori laluku

Tidak hanya sekali, beberapa kali Kau sajikan lagi masa-masa terpurukku

Tapi hey, mengapa semuanya hanya hitam, putih, dan abu-abu?

mengapa? hanya di momen terendah dalam hidupku yang Kau ungkit? berwarna monokrom?

"tas temanku berwarna biru dongker, dipakai di hari latihan pramuka yang serba coklat"

aku kembali mencoba mengingat

"sebuah motor matic merah diparkir di bawah hijaunya pohon"

Tapi pada saat Kau membawa memori itu kembali,

aku tak mampu mengaplikasikan warna itu dengan memori yang Kau sajikan

tapi..

rasanya damai..


apa maksud dari pengelihatan ini?


satu yang kupercayai, Kau tak'kan membiarkan orang yang Kau kasihi terus bertanya-tanya..

hingga

aku merasa tak lagi sendiri

Kau bukakan mataku untuk melihat lebih dari apa yang bisa kubayangkan, yang bisa kupikirkan

semuanya berwarna

aku menghentikan langkahku di antara orang yang berlalu-lalang, terpesona

indah sekali

hingga

aku, dengan sontak, mampu mengatakan "ini baru yang namanya hidup!"

jembatan Bendungan Hilir menjadi saksi bisu

di mana Kau mengatakan "sudah selesai"

"semua masa lalumu yang mengerikan, sudah selesai"

"dan sekaranglah saatnya memulai masa depanmu.."

"..bersama-Ku"

———

Personal note:

ini kesaksian saya, saat di awal-awal saya percaya adanya Tuhan dan tunduk akan Kasih yang gila itu.
di awal-awal saya mulai mengajak ngobrol Bapa di Bank BRI Bendungan Hilir (dekat jembatan Bendungan Hilir) saat saya mau ke kampus.

saya bertanya-tanya akan masa depan di mana saya merasa tidak ada yang namanya future karena saya merasa sendiri dan semua passion saya tidak tersalurkan.

dan ini respon pertama Bapa di jembatan Bendungan Hilir. Dia menghidupkan saya kembali.

He becomes my new passion,
He becomes my new vision.