“Tenang, Tuhan yang Bela Semuanya, Kok.”

*lagi Hari Wanita Sedunia dan ada unjuk rasa*
Teman: eh, lu ga ikutan demo?
Saya: tujuannya?
Teman: ya membela hak lu sebagai wanita.
Saya: kaga perlu (logat bekasi keluar), semuanya udah dibela Tuhan abis-abisan, ga cuma masalah hak, tapi semua aspek kehidupan gua.
*setelah ngomong itu berasa keren kayak yang di tipi-tipi* *ya tapi emang begitu kenyataannya*

Mengucap syukur sekali atas semester 4 ini, semua doa dan kerinduan hati saya, mulai dari yang saya doakan terus-menerus, yang engga saya sadari itu pernah terlintas di pikiran saya, sampai yang engga pernah muncul, semuanya ada dan disediakan.

Saya dibawa flashback dan melihat pembelaan Tuhan yang bener-bener gokil atas hidup saya.

Kekecewaan, kepahitan, kebencian, ketidakadanya penguasaan diri, dan tawarnya kasih adalah makanan utama di kehidupan yang lama saya. Melihat kondisi yang kompleks membuat saya down secara fisik, mental, dan rohani. Saya memilih untuk mencoba bunuh diri, memilih untuk tidak percaya adanya Tuhan, masa bodo dengan masa depan, dan lain sebagainya. Setelah dimuridkan (memiki pembimbing rohani untuk pendalaman Alkitab), saya masih ragu apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Dan satu hal yang saya tau, Dia tidak tinggal diam saat "direndahkan,"

Hingga beberapa bulan setelah saya dimuridkan, saya pun tunduk kepada Kasih yang gila itu.

Sangat lucu, sebelum menerima Kristus sebagai Juruselamat, saya kira Tuhan menghakimi dengan kasih saja tanpa ada teguran, dan selama satu tahun setelah saya mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan, saya kira Dia adalah Pribadi yang manghakimi seperti hakim tanpa ada belas kasihan, ternyata saya salah besar.

Dia menghakimi dengan adil. Dengan sangat adil. Hukuman-Nya bukan hukuman amarah, melainkan tegoran kasih setia yang membuat saya semakin mengerti tentang siapa Dia sebenarnya.

Banyak pembelajaran, banyak pembentukan, woah sakit bener semuanya dikikis, semuanya dibawa dalam doa sambil nangis-nangis.
Tapi nikmat wkwk.
Dan sampai sekarang pun sedikit demi sedikit (tapi dengan cepat) semuanya diingatkan dan disadarkan. Pasca sakit hati yang terjadi, ternyata masih ada yang mau Tuhan selesaikan.

Dan tanganku pun dipegang teguh oleh tangan Sang Penuntun dalam melewati kabut kehidupan.
[Saat tak dapat melihat sekeliling karena kabut, bukankah kita hanya terfokus kepada Pribadi yang memegang tangan kita saja?]

Dibawa ke kumpulan orang gila di sebuah persekutuan..
Orang-orang yang mau menghabiskan waktunya hanya untuk mendoakan orang yang mereka ga kenal agar kenal Tuhan.
Orang-orang yang mau menghabiskan uangnya hanya untuk membawa orang semakin sadar bahwa uang itu fana, tetapi kasih Tuhan adalah selamanya.
Orang-orang yang bermuka tembok karena sering mendapat "pelatihan" berupa perlakuan negatif saat menjalankan amanat-Nya
Orang-orang yang mau membayar harga; para prajurit Allah. Gila bener dah. (bagi yang penasaran siapa orangnya atau persekutuan apa, bisa kontak saya di line /vgrafisia/ :D)

Dibawa ke kota-kota untuk menyaksikan bahwa kemerdekaan itu bertebaran di mana-mana, ini efek dari kubur yang kosong 3 hari setelah diseretnya salib sampai Golgota.
Dibawa ke lingkungan yang marak dengan permasalahan ini-itu untuk melihat bahwa tidak akan ada jawaban yang pasti jika di luar Dia.
Dibawa ke kampus dan memiliki teman yang memiliki beragam pikiran, suku, dan agama untuk melihat bahwa hanya dengan iman pengharapan saja saya dibuat semakin mengerti taktik apa yang akan dilakukan oleh sang Raja.

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."
- 1 Korintus 13:13.

Dan yang Tuhan ajarkan bahwa inti dari pertandingan iman ini adalah kasih, kasih, dan kasih.
Capek bener loh kalo gerak sana-sini tanpa kasih..

Sebagai penutup, di bawah ini adalah kata-kata yang saya kutip dari seorang kakak bernama Abdiel Jeremi:

"Saya cukup muak dengan bermuka dua dalam mengasihi. Lebih baik saya jujur kepada Tuhan saat saya kering tanpa kasih dan meminta kepada-Nya, sehingga Dia — Bapa yang sempurna — memberikan apa yang saya perlukan tepat pada waktu-Nya."