Mengenal Djoen Eng, Raja Gula dari Salatiga

Nugi Vibisono
Nov 6 · 3 min read
Potret Djoen Eng, industrialhistoryhk.org

Djoen Eng, dengan nama lengkap Kwik Djoen Eng. Ia lahir pada tahun 1859 di Liao Tang Sia, desa kecil yang berada beberapa kilometer utara Xiamen di Tiongkok. Ayahnya bernama Kwik Hoo Pak. Ia dikenal sebagai “Raja Gula” dari Salatiga pada masa era kolonial Belanda. Pada tahun 1870, tepatnya saat usianya ke sebelas, ia dikirim untuk bekerja di sebuah kantor di daerah Tongan, dimana ia habiskan masa remajanya disana. Djoen Eng memiliki tiga kewarganegaraan yaitu sebagai “warga negara” Hindia Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Pada pertengahan abad ke 19, Djoen Eng bersama empat saudaranya terdiri atas Kwik Hong Biauw, Kwik Ing Djie, Kwik Ing Sien dan Kwik Ing Hi merantau ke tanah Jawa. Pada tahun 1894, mereka mendirikan perusahaan dagang dengan modal ƒ 200.000,-. Kwik bersaudara bahu membahu memulai bisnis hasil bumi. Beroperasi di Yogyakarta, perusahaan ini memperdagangkan berbagai produk pertanian seperti gula, teh, beras, kelapa, minyak dan arang. Namun, pada akhirnya Djoen Eng memilih fokus pada perdagangan gula. Pada masa itulah Djoen Eng dikenal sebagai pengusaha muda dengan nama perusahaan N. V. Kwik Hoo Tong Handel Maatschappij (KHTHM). Seiring berjalannya waktu, Djoen Eng mendirikan perusahaan Ching Siong & Co. yang beroperasi di Hongkong pada tahun 1920. Setahun setelahnya ia juga mendirikan Ching Siong Land Investment Co. dan membeli saham dari Bank Tay Doh di Hongkong.

Kemudian pada tahun 1920-an, Djoen Eng telah menjadi seorang taipan atau konglomerat yang besar di Hindia-Belanda dengan harta pribadi diperkirakan sebesar 50 juta dolar. Dirinya menguasai perdagangan luar negeri dengan Cina, Eropa, dan Amerika. Ia juga aktif dalam masyarakat Tiongkok di Hongkong dan menjadi pendukung gerakan nasionalis Tionghoa di Jawa. Berkat kepiawaiannya dalam berdagang, Djoen Eng mampu mendirikan bangunan di kawasan Toentangschweg (Salatiga) seluas 12 hektar. Pada tahun 1921, Djoen Eng yang mempunyai empat anak, berkeinginan membangun sebuah istana di lahan yang dibelinya. Ia lalu membangun istananya yang dikelilingi oleh kebun hias, kolam ikan, kebun kopi, lapangan tenis dan juga kebun binatang. Gedungnya pun dikelilingi empat menara (kubah) yang melambangkan Djoen Eng bersama empat anaknya. Dan menariknya, kubah-kubah tersebut dilapisi emas murni. Istananya hinga kini dikenal dengan nama Istana Djoen Eng.

Istana Djoen Eng, salatiga.nl
Istana Djoen Eng masa kini, Instagram/ramasatyadharma69

Kendati menyandang status sebagai orang terkaya di Salatiga, Djoen Eng ternyata tak bisa berlama-lama menikmati istananya. Sekitar tahun 1932 ketika terjadi krisis ekonomi, perusahaannya mengalami kebangkrutan. Kebangkrutannya merupakan sesuatu yang mengagetkan bagi pejabat De Javasche Bank baik di Batavia maupun di Yogyakarta. Ia terlilit hutang dalam jumlah yang tidak sedikit. Akibatnya, istana yang ia bangun berikut lahannya disita oleh pihak De Javasche Bank. Sebelum akhir masa hidupnya, ia sempat pergi ke Pulau Formosa yang berada di Selat Taiwan. Disana ia mendapat perawatan medis dari beberapa dokter Eropa dan Japan. Pada usia 70 tahun, Djoen Eng menghembuskan napas terakhirnya.

Selama berpuluh-puluh tahun tinggal di Jawa, ia cukup memberikan kontribusi terhadap jalannya perekonomian Indonesia. Tidak lupa juga ia meninggalkan warisan di bidang pendidikan yaitu Sekolah Tionghoa di Yogyakarta dan Yayasan Sekolah Swasta Tionghoa di Semarang.

Alexander Claver. 2014. Dutch Commerce and Chinese Merchants in Java: Colonial Relationship in Trade and Finance, 1800–1942. Leiden — Boston: BRILL.

Written by

Student of Historical Science, Sebelas Maret University

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade