Cerita Sang Kala: Sebuah Topeng

Sang kala mulai menampakkan kekejamannya lagi hari ini. Dibangunkannyalah sang humani di batas kala yang ke sembilan lewat dua puluh menit. Karenanyalah sang humani hanya bisa menggerutu hingga kini. Padahal ia hanya ingin tidur lima menit lagi. Tentunya setelah ayam-ayam ribut tadi pagi. Cobaan apa lagi sih ini. Begitulah ayam-ayam yang suka adu berisik kalau pagi. Mereka juga sok jagoan, ya namanya juga ayam jago kukuruyuk.

Setelah dengan khidmat meminum satu sendok kehampaan yang jadi ritualnya di pagi hari, ia pun akan pergi nanti. Diceknya satu persatu persediaan topengnya hari ini. Persediaan topengnya cukup banyak. Mulai dari yang termurah hingga termahal di kelasnya. Dari yang paling jadul abis sampai yang trendi. Ada topeng empati, bahagia, kapitalis, liberalis, sabar, sedih, murka dan sebagainya. Segala macam topeng ada deh pokoknya. Karena motto hidupnya yakni ada topeng? Ada. Makanya, ia jadi pengumpul topeng paling lengkap edisi pasar jumat.

Hari ini sang humani dijadwalkan untuk berjalan-jalan di pagi hari. Biasalah biar kayak humani petinggi yang duduk manis di pencakar langit tertinggi. Mereka kan biasanya jenuh tuh sama pekerjaannya. Lagian siapa suruh tinggi-tinggi. Liatin juga dong yang di bawah ini. Sang humani dengan humani petinggi sama-sama pakai asisten pagi ini. Yang satu trendi yang satu lagi namanya teknologi. Maklumlah sang humani ini masih muda kok tapi tenang karena jiwanya telah mati ia sudah siap menukarkannya dengan isi dunia nanti.

Jadwalnya hari ini adalah berjalan kaki sepuluh ribu langkah. Pegel sih pasti tapi sehatlah nanti. Ia melangkahkan kaki dengan mantap. Baru juga hitungan langkah ke sepuluh, kakinya terkilir. Untung tak parah, jadi masih bisalah ia melangkah dengan mantap. Dasar, banyak gaya sih.

Ia kemudian berjalan terus sambil sesekali berhenti. Ceritanya mau foto sana sini biar bisa di-update lagi. Bertemulah ia dengan sebongkah batu besar yang tampak kuat. Ia pun berpikir keras, terus menggali informasi terdalam tentang mengapa ia bertemu dengan batu ini. Akhirnya berkat asisten digitalnya yang manis ia ingat lagi apa yang ingin dicari dari perjalanan kali ini. Ia ingin mencari topeng kebijaksanaan yang langka. Tiada pula di negeri ini yang punya. Bahkan para petinggi dan pembesar yang adidaya itu hanya memakai topeng kebijaksanaan kw super. Pantas saja banyak yang aneh di negeri ini.

Cerita ini ia dapatkan dari hasil bincang-bincang dengan sang kala. Sang kala yang tua renta karena telah menemani humani dari hari pertama rasnya muncul di muka bumi ini. Bincang-bincangnya dengan sang kala tampak syahdu waktu itu. Entah mengapa sang kala mempercayakan untuk menceritakan tentang topeng kebijaksanaan yang langka kepada sang humani tanpa jiwa ini. Apakah karena ketiadaan jiwanya makanya ia percaya. Ah, tidak! Banyak humani lain tanpa jiwa juga sedang berjalan di negeri ini. Jadi, tidak mungkin. Lagian seperti kataku tadi, sudah jadi cerita lama kalau jiwa-jiwa yang kosong ini dapat saja ditukar dengan segala rupa keduniawian. Jadi, mengapa?


Entah, coba saja tanyakan pada Tuan itu, mungkin ia tahu. 
Pikiran sang humani pun melayang pada waktu itu. Tentang keresahan yang sama juga seperti saat ini.

Kepada Tuan yang mana lagi aku harus bertanya bila yang didapat hanyalah resah?
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Vika Anggraeni’s story.