Satu Sendok Kehampaan

Sebagian orang mungkin mengawali harinya dengan segelas kopi untuk menambah energi. Sebagian lagi mungkin memilih mengawali hari dengan sekian banyak harap yang menggunung di dada. Sedangkan sesosok humani ini lebih memilih mengawali hari dengan meminum segelas air putih yang dicampur dengan satu sendok kehampaan.

Sesendok kehampaan yang dicampurkan telah dijadikan ritual penghormatan olehnya untuk menyambut mentari pagi. Ia minumlah percampuran air tersebut dengan semangat hingga akhirnya air tersebut tandas. Telah habis diminum oleh sesosok humani yang hatinya telah mati tapi raganya masih berani menjalani hari. Ia berpikir meminum minuman tersebut adalah tanda anugrah dari sang pencipta kepadanya. Sebuah anugrah untuk kembali bangun di pagi hari dan melihat mentari menyeruak terbit dari peraduan. 
Akhirnya sang humani bersiap diri untuk segera bangkit berdiri dan memulai hari. Sesendok kehampaan yang diminumnya tadi pagi telah membuatnya jadi sesosok humani yang tiada jauh berbeda dengan humani lainnya yang ia temukan di jalan tadi pagi. Kedua raga tanpa jiwa tersebut bertatapan untuk melihat seberkas senyuman yang telah diatur sedemikan rupa oleh sebuah topeng pagi hari. Tersenyum sekilas sebagai bentuk sosialisasi diri terhadap humani lain di sekitarnya.

Akhirnya kedua humani tersebut berpisah jalan. Topeng yang tadi dimunculkannya sekelibat menghilang berganti dengan topeng baru dengan model yang lebih mengerikan. Kalau tadi ia hanya tinggal mengatur topengnya agar memperlihatkan sebuah senyum kecil dan riang sebagai tanda sosialisasi kali ini ia mengatur topengnya agar tampak memperlihatkan kebijaksanaan, kasih sayang, cinta dan kebahagiaan. Terlihat cukup mengerikan. Setidak-tidaknya itu tidak menunjukkan keidealan. Mana mungkin seorang humani tanpa jiwa bisa menunjukkan semua sifat-sifat yang bersumber dari dalam jiwa. Sungguh memprihatinkan.

Bu, saya beli satu bungkus kehampaannya lagi ya, ini uangnya