Vina Nurjannah
Jul 27, 2017 · 1 min read

Dia dan Senja

Sebenarnya tak ada yang special pada setiap coretan ini. Dia yang selalu menunggu waktu itu tiba menyapanya. Yah, waktu dimana dia dapat dengan indah menatap langit senja yang menyemburatkan banyak kisah didalamnya.

Gadis dengan setelan jilbab merah panjangnya kembali duduk dipersimpangan jalan seperti biasanya. Menghabiskan waktu penatnya dengan menatap langit sore yang indah. Itu sudah kegiatan rutinnya setiap hari. Entah mengapa senja selalu memanggilnya dikala penat hadir menyapa. Sore itu pun sama, ditemani sebuah novel yang lumayan tebal gadis itu duduk dengan anggun dipersimpangan jalan itu.

Detik demi detik, menit demi menit dia habiskan tanpa bersua, akhirnya lantunan suara yang indah membuyarkan semua lamunannya. Seruan indah Allah telah memanggilnya. Dipersiapkan dirinya untuk segera menuju rumah Allah dipersimpangan jalan itu.

Kembali dia merapikan sedikit tatanan jilbabnya yang sedari tadi dimainkan oleh angin. Tiba-tiba saja mata indahnya menangkap sosok yang telah lama bermain indah dalam benaknya. Sosok itu bersama dengan perkumpulannya menuju tempat di mana seruan indah itu dilantunkan. Dan dipersimpangan jalan, dia hanya bisa menatap nanar berteman beku akan sosok yang telah amat berubah itu.

Sepasang mata itu tak kunjung mengalihkan pandangannya, semburat rindu kembali hadir diperadangan rasanya. Sekali lagi dia menatap nanar pada senja yang menorehkan kisah, kisah yang tak pernah selesai dimasa lalu.

Lantunan ayat suci itu mengembalikan kesadarannya. Setengah berlari dia membenahi barang-barang yang sedari tadi menemaninya menatap senja. Yah senja yang sekali lagi menorehkan cerita dan kisah. Senja yang lambat laun mengahdirkan rasa yang entah kapan akan beranjak menjauh.

Senja dan sosok yang sedang merindu senja.

    Vina Nurjannah

    Written by