Siang itu.

Seakan lupa akan hadirnya seseorang ini. Seseorang yang sedari dulu sama-sama berjuang. Gadis kecil yang manja, kini pun sudah beranjak dewasa. Bagaikan seekor kelinci, semakin lincah dan aktif. Senyumnya tak pernah berubah. Parasnya semakin cantik. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Akankah ia masih mengingat diriku? perpisahan memang bukan lah akhir. dan aku pun yakin, suatu saat akan bertemu dengannya kembali. Namun waktu tak kunjung datang. Tak ada keberanian atau sedikit niat pun untuk bertemu dia. Bukan karena dia, namun karena hal yang lain. Yang mungkin memang memaksa ku untuk menjauh. Aku hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan, yang memang sangat jauh, bahkan dia pun tak akan menyadarinya. Waktu yang lama itu pun kulalui. Mungkin saja ia tidak mengingat namaku, bahkan wajahku pun tidak. Mungkin hanya aku saja yang masih memiliki memori ini. Ingatan tentang pertama kali bertemu, memulai obrolan, dan bermain ke tempat tinggalnya. Dia bagaikan seorang adik, adik yang lucu, sikap dan tingkah lakunya. Seragam putih merah yang ia kenakan dulu, hingga putih abu dengan kacamata yang ia kenakan sekarang. Namun tak ada sedikit pun yang berubah, hanya beranjak dewasa, itu saja.

Berpisah dan menjauh sebenarnya bukan pilihan ku. hanya saja ada seseorang lain yang mungkin lebih menginkan posisi itu dan terpaksa aku harus menjauh dan mundur perlahan. Sudah ku sampaikan kepada sahabat ku, untuk menyampaikan salamku jika ia bertemu dengannya. Yang hanya ku lakukan saat ini hanya memperhatikan nya dari jauh, melalui setiap foto yang ia unggah ke jejaring sosial.

Tadi ia menghampiri ku, ia tampak mengenali ku. Banyak cerita yang ku sampaikan kepadanya, dan ia juga melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu dimana itu, namun aku hanyamengingat bahwa memang ia yang ada disitu, dan ku tahu memang itu dia. Dengan kacamatanya, dan senyum yg tak pernah berubah, ia disana.
Menghampiri mimpi ku kala itu.

NRA

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Wahid Miftahhul R’s story.