Poros Maritim? Ngimpi! (2/3)

Gilang
Gilang
Sep 9, 2018 · 3 min read

lanjut…

Bung Karno pernah berkata da­lam National Maritime Con­ven­tion (NMC) 1963, bahwa: “Un­tuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara da­mai, maka negara dapat men­jadi kuat jika menguasai lau­tan.”

Presiden pertama RI tentunya sangat sadar bahwa indonesia kehilangan jati dirinya sebagai pelaut dikarenakan penjajahan yang berkelanjutan serta kebijakan-kebijakan penjajah yang menitik beratkan pertanian yang pada akhirnya mengikis jati diri kita sebagai pelaut. Namun sudah seharusnya DNA kita tidak semudah itu saja dihilangkan, sudah seharusnya kita tersadar bahwa rumah kita bukan hanya sekedar di daratan tapi juga dilautan, doktrin maritime harus kembali kita tancapkan, agar nantinya poros maritim ini bukan hanya menjadi mimpi di siang bolong belaka, tapi benar benar menjadi tujuan yang tentunya kita perjuangkan bersama.

Doktrin kemaritiman, untuk menciptakan sebuah kesadaran akan geostrategis indonesia tentunya membutuhkan pemahaman atau mindset mengenai pentingnya sektor kemaritiman sebagai penopang perekonomian dan faktor utama dalam pembangunan bangsa dan negara.

Jokowi sebagai presiden kesekian Indonesia, (sepertinya) menyadari bahwa Negara Indonesia sebagai poros maritim tidak bisa dicapai dengan sekejap saja, dalam sebuah pidatonya di KTT Asia Timur ke 9 beliau menjabarkan agenda pembangunan untuk mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia yang dibagi menjadi lima pilar seperti dibawah.

Jokowi :

Pertama, kami akan membangun kembali budaya maritim Indonesia. Sebagai negara yang terdiri dari 17 ribu pulau, bangsa Indonesia harus menyadari dan melihat dirinya sebagai bangsa yang identitasnya, kemakmurannya, dan masa depannya, sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola samudera.

Kedua, kami akan menjaga dan mengelola sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut, melalui pengembangan industri perikanan, dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama. Kekayaan maritim kami akan digunakan sebesar-sebesarnya untuk kepentingan rakyat kami.

Ketiga, kami akan memberi prioritas pada pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, dengan membangun tol Laut, deep seaport, logistik, dan industri perkapalan, dan pariwisata maritim.

Keempat, melalui diplomasi maritim, kami mengajak semua mitra-mitra Indonesia untuk bekerjasama di bidang kelautan ini. Bersama-sama kita harus menghilangkan sumber konflik di laut, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut. Laut harus menyatukan, bukan memisahkan, kita semua.

Kelima, sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudera, Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun kekuatan pertahanan maritim. Hal ini diperlukan bukan saja untuk menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim kami, tetapi juga sebagai bentuk tanggungjawab kami dalam menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.

Menjadikan indonesia sebagai poros maritim indonesia tidak bisa hanya dikerjakan oleh pemerintahnya saja, kita sebagai rakyatnya tentunya harus memiliki mindset yang baik tentang poros maritim itu sendiri. dalam kesempatan kali ini saya akan menitikberatkan pembahasan ke arah budaya, karena menurut saya sendiri budaya menciptakan pemikiran dan pemikiran menghasilkan kebiasaan dan kemudian jadilah perilaku sehari-hari. untuk menciptakan kembali budaya kemaritiman sebenarnya sangatlah real dan dapat dilakukan, bisa dilihat dari sejarah bangsa kita yang merupakan penguasa lautan nusantara. Budaya maritim merupakan langkah yang cukup strategis untuk menggerakan roda kemaritiman indonesia untuk mencapai kesuksesan sebagai poros maritim dunia. Hal ini dikatakan demikian karena budaya menjadi hal yang utama untuk menggeliatkan keterlibatan rakyat dalam program program yang dicanangkan oleh pemerintah. Dengan adanya keterlibatan rakyat tentunya poros maritim bukan hanya sekedar mimpi belaka, tapi menjadi visi yang dapat dicapai bersama-sama.

“Kita ingin menjadi bangsa yang bisa menyusun peradabannya sendiri. Bangsa besar yang kreatif yang bisa ikut menyumbangkan keluhuran peradaban global. Kita harus bekerja dengan sekeras kerasnya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat dan masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini saatnya kita mengembalikan semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe, di Laut justru kita jaya, sebagai semboyan nenek moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana”

(Ir. H. Joko Widodo, 2014)

kemudian pertanyaan baru muncul, Sudah siapkah bangsa ini bersatu demi terciptanya Indonesia sebagai poros maritim dunia?