Kota Tanpa Suara

Melinda Risa
Sep 1, 2018 · 4 min read

Sebuah kota sunyi, semenjak suara manusia telah luput dan tak lagi terdengar kata-kata. Mau tidak mau, suka tidak suka manusia hanya bisa meredam perasaannya, tak ada lagi aku dengar tangis, marah, atau bahkan tawa.

Pada hari sebelum kota menjadi sunyi, tengah terjadi demonstrasi besar-besaran perkara gerakan melawan harga diri sebuah mayoritas agama. Entah apa yang dipikirkan seorang tokoh agama ini, ia membuat sayembara kepada siapa yang mampu memotong kepala pemimpin kota yang diduga melakukan penistaan agama. Lucunya, disaat itu ia dan umatnya sedang bersih keras membela ke maha sucian agama-nya.

Para manusia berbondong-bondong dari penjuru kota mendatangi ibukota atas pimpinan si Imam Besar, mereka dipaksa membawa harga dirinya. Seluruh kota riuh, beberapa rakyat yang mencintai pemimpin kota menangis, mengaduh pada Tuhan, meminta keadilan.

Lalu perpecahan terjadi, para mayoritas mulai gila harga diri, sibuk berteriak membela agamanya, sampai-sampai lupa bahwa Tuhan tidak menciptakan agama. Maka Tuhan yang mulai sakit telinganya, menurunkan hujan.

Imam Besar, selaku pemimpin gerakan ini berasumsi Tuhan memberkati gerakan mereka, namun petir menyambar tiap-tiap gedung bertingkat, siapa-siapa yang mulai bersuara ikut tersambar, lalu mereka semua kehilangan suara. Juga para minoritas yang tak punya hak bersuara, ikut kehilangan suaranya.

Semenjak hari itu, petir yang menyambar gedung membuat kerusakan yang cukup parah, sehingga listrik kota mati total. Kami selanjutnya hidup tanpa cahaya juga tanpa suara, sementara Tuhan tetap hidup dalam kedamaian dan cinta.

Para penjunjung harga diri kehabisan akal -karena sebetulnya mereka memang tidak punya- mereka hanya punya suara yang isinya menghakimi dan melukai manusia lain. Sementara diam-diam Tuhan menyembunyikan pemimpin kota, si tersangka penista agama itu dalam kedamaian hati. Di dalam kedamaian itu, pemimpin kota sering-sering berbicara pada Tuhan. ya! dia juga kehilangan suara, namun pemimpin kota memiliki hati, dari hatinyalah ia berbicara dan merasakan kebesaran sang Pencipta.

Sementara diluar tempat sang pemimpin disembunyikan Tuhan, manusia kebingungan bukan main. Biasanya panggilan beribadah lima kali terdengar dalam sehari, namun tak ada manusia yang bisa mengumandangkan adzan karena suaranya hilang! Lagi-lagi Tuhan terkekeh, manusia kelimpungan akan waktu ibadah rutinnya, juga banyak yang lupa hari sehingga tak ada manusia sadar kapan hari minggu terjadi.

Dari kesunyian ini, cinta dan keyakinan manusia dipertanyakan. “Siapa yang paling cinta Aku?” benak Tuhan. Tuhan mengamati tiap-tiap manusia, mereka sibuk bersedih hatinya, mereka yang ketakutan berdoa kepada Tuhan dengan bahasa yang tak mereka mengerti, ada pula yang diam-diam mengecam perbuatan Tuhan. Lagi-lagi dalam diampun, manusia sibuk membenci bahkan membenci Tuhannya sendiri.

Berbeda dengan pemimpin kota yang berserah diri, dia tetap kasih pada manusia yang secara verbal maupun secara diam membenci dirinya, ia tetap membela hak-hak rakyat kecil, ia marah dalam cinta, ia tersenyum dalam cinta, dan dalam hatinya itu ia selalu berbicara “Tuhan-ku maha besar, ia penuh kasih, ia tak butuh di bela, karena ia adalah cinta yang menciptakan segala ketidakmungkinan.”

Setiap kali sang pemimpin kota mengulang kalimat itu dalam dirinya, ia tak pernah takut, ia tak pernah berhenti mencintai juga berterima kasih atas hidup dan segala luka yang telah menguatkan tekad hidupnya untuk mengabdi pada rakyatnya.

Pemimpin kota semakin mencintai Tuhan, ia pun jadi tahu seperti apa manusia yang ia pimpin selama ini. dan Tuhan, semakin tahu manusia mana yang bepura-pura cinta pada-Nya dan manusia mana yang memberikan seluruh hati pada-Nya.

Ketika suara telah luput dari mulut manusia, Tuhan dan semesta tengah berbicara dengan cara lain. Tuhan telah mendengar doa-doa mereka yang luka hatinya karena dianggap tak layak hidup hanya karena memiliki kekurangan, hanya karena meyakini hal yang berbeda.

Dalam keheningan kota, tak ada yang bisa berpendapat atas pilihan hidup manusia lain, tak ada yang bisa menghakimi manusia lain dengan perkataannya, tak ada yang melarang dengan siapa kita jatuh cinta, karena tak ada satupun manusia bisa menanyakan ras, suku atau agama seseorang.

Kehidupan telah berputar, yang membenci tetap membenci. Namun hilangnya suara dari setiap manusia membuat kedamaian tersendiri. Manusia mampu hidup lebih lama karena tak mendengar asumsi manusia lain tentang dirinya, manusia tak keberatan mengenakan kekurangannya karena mereka tahu tak ada lagi yang mampu mengkritiknya. Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat sudah tak bisa lagi menyuap oknum-oknum karena mereka sudah tak bisa menggunakan kode di telepon, semua kini terlihat lebih transparan dan tak terlalu rumit.

Juga keyakinan. Para bayi yang tumbuh tak lagi mendapat pelajaran keyakinan hidup yang diyakini orang tuanya, mereka tumbuh menemukan keyakinan mereka sendiri. Manusia perlahan melupakan mana yang mayoritas, mana yang minoritas. Semua mulai hidup berdampingan. Manusia perlahan lupa dengan perbedaan dalam diri masing-masing pribadi, karena mereka sekarang sama-sama tak memiliki suara. Tak ada yang tahu mana yang lebih mencintai Tuhan selain diri mereka masing-masing.

Sementara itu diatas langit, Tuhan sedang tersenyum. Tuhan tersentuh hatinya dengan cinta yang tulus dari manusia untuk-Nya.

Dalam hati, Tuhan berjanji bahwa ia tak akan mengembalikan suara-suara manusia. “Dunia lebih baik tanpa suara.”

Melinda Risa

Jakarta, 1 September 2018 // 09:05 PM

Melinda Risa

Written by

Born by the light. a loner. a lover. a soul.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade