Berbagi Cerita Pertama kali Melayani Customer

Customer adalah pelanggan.
Pelanggan adalah raja.
Raja adalah yang punya uang.
Jadi sesungguhnya customerlah yang menggaji pegawai suatu bidang usaha.

Saya juga customer, kamu, dan manusia lainnya adalah customer. Karena kita semua pasti pernah membeli suatu barang. Itulah customer.

Everyone can be customer. But not everyone can have excellent service.

Oke, itu tadi penggambaran saya terhadap customer.

Sekarang..

Jika kita yang melayani customer.

Jika kita yang menjual barang tersebut.

Siapakah kita?

Sebetulnya, sebutan untuk pegawai yang melayani Customer itu macam-macam jenisnya. Saya akan menyebutkannya.
  1. Sales Promotion Girl/Boy
  2. Sales Consultant
  3. Admin Sales
  4. Customer Service
  5. Customer Support
  6. Frontliner
  7. Receptionist

Pasti kalian bingung kenapa saya menyamakan pekerjaan Receptionist dengan SPG?

Alasannya adalah karena mereka sama-sama melayani customer. Bedanya hanya di pakaian dan tempat bekerjanya saja. Kalo ditanya soal customer, tentu customernya pun berbeda.

Jika SPG biasanya kebanyakan melayani customer jenis umum, dalam artian masyarakat biasa yang membeli produk sehari-hari.

Sedangkan Receptionist biasanya melayani tamu dan klien yang datang untuk berkunjung dengan atasan perusahaan.

Balik ke Pikiran Utama judul ini

Saya punya cerita sedikit tentang Customer.

Cerita yang sangat lucu, aneh dan mengesankan.

Dulu, pekerjaan pertama saya setelah lulus sekolah adalah menjadi Customer Service di salah satu brand fashion terkemuka di Indonesia.

Karena saya sekolahnya di SMA, bukan SMK yang notabenenya sudah pernah magang. Jadi saat pertama kali bekerja, awalnya saya benar-benar bingung, “duh harus ngapain ya”. Ya tau lah, fresh graduate gitu loh😋

Tugas utamanya sih melayani pelanggan yang ingin membeli produk kita, tapi kok banyak banget ya attitude seorang customer service dalam melayani tersebut?

Akhirnya saya mengikuti training selama 8 hari tentang “How to be Good Customer Service” di perusahaan tersebut.

Saya dikit-dikit mulai paham.

Ternyata, pekerjaan ini menyenangkan.

Saat training, semuanya dibahas. Dari mulai..

  1. Bagaimana cara berdiri yang baik saat melayani customer
  2. Bagaimana meningkatkan skill komunikasi
  3. Bagaimana mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan
  4. Bagaimana menilai customer dari gaya bicara, pola tingkah laku dan matanya
  5. Bagaimana mempromosikan promo yang sedang berlangsung di store
  6. Bagaimana menjadi orang yang menyenangkan
  7. Bagaimana beretika baik dengan teman yang lain
  8. Bagaimana mengenal produk dengan baik
Wah banyak ya?
Memang. Sangaaaaaaaaat banyak!
Tapi saya suka! Ini sangat menarik!

Setelah mengikuti training tersebut, saya langsung bekerja di store yang sudah ditetapkan di mall terdekat dari rumah saya.

Saya mulai sedikit-sedikit menerapkan SOP* yang diberi oleh perusahaan.

Hari pertama. Jujur. Saya tak nyaman.

Apa coba? Masa kerjanya harus berdiri sih? Padahal kan ketika saya sekolah dulu, setiap harinya duduk terus.

Udah gitu, senior saya galak semua. Ya biasa, senioritas. Berasa Mos sekolah jadinya😅

Awalnya memang berat, pegal pula.

Tapi lama kelamaan saya menikmatinya.

Hari pertama ketemu customer, takut. Takut saya tidak melayani dengan baik yang mengakibatkan customer kecewa dengan pelayanan saya.

Soalnya saya ingat sekali, kata Head Trainingnya (Ibu Fika) bahwa Customer Service adalah ujung tombak perusahaan. Semua kebaikan dan kejelekan yang disampaikan oleh kita, akan diingat oleh customer. Karena kitalah yang pertama kali bertemu dengan customer. Jadi rasanya, berat banget buat tampil “baik-baik saja di depan pelanggan” untuk pertama kali.

Pastinya, setiap perusahaan tidak mau kan dicap buruk soal pelayanannya akibat salah satu customer servicenya berbuat onar kepada pelanggannya?

Tapi yaaa, selagi niat kita baik.
Orang juga bakal baik sama kita😂
I believe that!

Sekilas info, saat bekerja, saya selalu diawasi oleh 9 CCTV yang semuanya live ke Head Office. Jadi kalau ada niat untuk macam-macam, semuanya ketahuan gerak-geriknya sedikit pun. Bahkan menguap saja, tidak boleh.

2 minggu sudah berlalu

Jujur. Saya ingin mengutuk diri rasanya. Umur 17 tahun. Sudah bekerja. Tidak kuliah. Ya. Hanya semangat yang saya punya.

Berfikir positif, setidaknya saya dapat gaji. Dan itu lumayan untuk ukuran anak ABG yang baru lulus sekolah. Gajinya sudah UMR😁

29 Juli 2016

Ada seorang customer, ciri-cirinya Ibu-ibu, dari tampilannya sih, orang tajir.

Sebagai CS yang baik, saya harus melayani setiap customer yang masuk. Setelah saya greeting, si customer malah marah-marah pada saya.

Jujur, saya kaget. Seinget saya, saya gak pernah berbuat kesalahan sama customer. Tapi tahan dulu, saya ingin dengar keluhannya.

Dia bilang begini,

Mba gimana sih gak profesional banget! Masa beda ukuran sepatunya? Bisa jualan gak sih? Saya udah pakai kondangan sepatunya sakit banget! pantesss beda sebelah, taunya beda ukuran!!!! Gimana sih ganti rugi dong! saya gamau tau!!!!!

Saya bilang,

Ibu apa saya boleh tau, Ibu belinya kapan?

Dia bilang lagi,

Baru 3 minggu yang lalu! (Dengan nada ketus)

Saya bilang,

Apa ibu bawa struk pembayarannya?

Lalu dia bilang,

Ribet banget sih pakai struk pembayaran segala, ya udah ilang lah kemana tau, emangnya saya gembel ngumpulin bon!

Astaga. Sabar. (Dalam hati)

Saya kemudian menjelaskan,

Mohon maaf yang sebesar-besarnya Ibu, jika sepatunya ingin ditukar, ketentuannya maksimal selama 14 hari, itu pun harus ada struknya dan belum pernah dipakai keluar sepatunya.

Dia dengan nada marah menjawab,

Parah banget lu ya cantik-cantik ga profesional! Nama lu siapa sih? Wardah? Cih nama bagus, tapi otak beg*, tau ga ini sepatu mahal? Kamu mau ganti emang? Pokonya saya minta ganti rugi!!!

Saya yang ikhlas dimarahi itu tanpa tau penyebabnya atas kelalaian siapa, hanya bisa menjawab..

Saya minta maaf sekali lagi Ibu. Sebetulnya setiap customer yang membeli produk di kami, sudah dipastikan ketentuan penukaran barang sebelum membayarnya.

Kelihatannya dia sangat kesal melihat aku menjawab dengan senyuman.

Akhirnya dia melempar sepatu yang dia bawa ke muka aku.

KE MUKA AKU😟

Anak baru. Dimarahin. Mentalnya masih mental tempe dong ya☺️

Mau nangis gak bisa. Ya gimana wkwk.

Yang tadinya, teman-teman gak ada yang peduli. Mereka akhirnya angkat bicara. Sampai Leader Store pun ikutan turun😅

Mereka nanya lebih detail, siapa sih saat itu yang melayani Ibu ini sampai salah ngasih ukuran sepatu.

Dan semuanya pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak bersalah. Saling lempar kesalahan.

Kurang bertanggung jawab.

Karena aku yakin. Itu bukanlah aku!

Sampai di cross check di CCTV, kejadian beli sepatunya kapan.

Taunya, saat dilihat, memang benar. Senior aku yang melayani Ibu tersebut.

Duh, kenapa kenanya ke aku sih😒

Pada akhirnya..

Karena itu memang kesalahan dari CS, CS lah yang ganti rugi. Itu karena ia tidak menjalankan SOP dengan baik.

Seharusnya setiap ada pembelian, diberi tahu terlebih dahulu ketentuannya. Kemudian di cek juga ukuran sepatunya sebelum customer membayar.

Karena harga sepatunya sedikit MAHAL.

Rp. 759.000

Dan senior aku itu belum gajian. Akhirnya Leader menunjukan kebolehannya untuk adil.

Kita bagi rata uangnya untuk ganti.

Aku kebagian 50.000. Yaudah lah ya, namanya juga anak baru😔

Sabar, Ikhlas dan jadikan pembelajaran!

Setelah uangnya diganti, Ibunya langsung pergi

Saya bingung, maksudnya apa.

Setidaknya kalau memang dia butuh sepatu, ya harusnya dia ganti dengan sepatu lainnya.

Tapi ini engga. Dia minta uangnya dibalikin. Yowes mungkin dia sedang butuh uang.

Padahal saya kira, dari tampilannya sih seperti orang tajir.. Pfffft.

Eh lupa🤣

Don’t judge people by it’s cover

*SOP: Standar Operasional Perusahaan


Inilah cerita pertama saya soal melayani customer.

Tunggu kisah menarik lainnya ya!

Saya punya banyak kisahnya yang beneran terjadi datang kepada saya.

Terima kasih telah membaca.

With love, Tyas.