My Journey with Console Game’s Graphics since 1997

Sebenarnya nggak 1997 juga, karena saya belum bisa ngapa-ngapain saat itu (wong baru lahir). Dari dulu orang tua saya juga lumayan pelit untuk membelikan anak-anaknya permainan jadi ya, untuk konsol yang saya tidak punya saya antara meminjam atau jalur emulator. Tetapi walaupun tidak maksimal, saya rasa saya bisa menceritakan pengalaman saya dengan game konsol yang pernah saya temui selama 20 tahun ini.

Kira-kira disaat yang sama ketika jamannya saya suka bermain Game Brick Tetris (circa 2000? 1999?), Bapak saya membelikan Playstation untuk kakak laki-laki saya (entah latar belakangnya meminta seperti apa dia, sampai bisa dibeliin). Kakak perempuan saya tidak begitu tertarik, tetapi saya lumayan tertarik karena saya yang biasanya bermain Tetris dapat melihat game sebegitu colorful-nya. Alhasil, salah satu kesenangan saya dulu kalau tidak menonton kakak saya main Playstation, atau bermain Playstation itu sendiri (tetapi karena saya masih bocah TK, ya don’t expect much). Game favorit saya waktu itu adalah Spyro, Crash Bandicoot, dan Digimon — dan hal favorit saya dari game Digimon itu adalah digimon-nya bisa berak.

Digimon World (PS1) Digimon bisa boker entah kenapa dulu saya seneng banget

Sekitar saya sedang kenaikan kelas ke kelas 2 SD, Kakak saya yang mau kelas 6 SD disunat. Sebagai hadiah sunatannya, Bapak saya membelikannya Playstation 2 yang waktu itu masih sekitar berharga 2 juta rupiah. Kakak saya senang sekali karena dia memang ingin sekali PS2, dan tentunya, saya juga sangat senang. Graphics game-nya sangat berbeda dari game-game PS1 apalagi untuk seri Final Fantasy. Banyak sekali games yang saya telah mainkan di PS2, dan akhirnya, saya menemukan genre favorit saya di PS2, yaitu RPG, terutama yang dari Jepang (JRPG). Selain memang karena ceritanya, soundtrack-nya yang dewa, mereka membuat hal kecil seperti menu nya dibuat colorful dan menarik. Game RPG favorit saya di PS2 yaitu Kingdom Hearts, Persona, Mana Khemia, dan Tales of the Abyss. Sayangnya, saya tidak pernah mempunyai Playstation 3.

Tales of the Abyss (PS2). Actual photo main di TV cembung dulu. Disimpen karena pamer 300+ grade.

Saat di bangku kuliah, walaupun sebenarnya agak telat, akhirnya saya memiliki konsol sendiri yaitu Playstation Vita dan Nintendo 3DS (keduanya atas tabungan sendiri. Mahasiswa apa ini bisa nabung??). Selain merasa senang karena saya pengen banget punya konsol portable dari dulu, saya juga merasa lega karena ada dosa yang ditembus karena sebelumnya bermain PSP dan NDS (predecessor nya) via emulator (maaf, dulu gabisa nabung :’’’). Bermain kedua konsol tersebut, saya juga lumayan tercengang karena akhirnya graphics-nya game handheld console sudah bisa setara dengan home console, terutama Playstation Vita (nggak beda lah sama PS3). Melihat dari kedua konsol ini, saya penasaran konsol handheld next-gen selanjutnya akan seperti apa.

Ys VIII Lacrimosa of Dana (PS Vita)

Playstation 4, saya tidak punya. Tetapi one day saya harus beli. Namun, ketika liburan semester saya sudah pernah memainkannya di rumah teman saya. Game yang waktu itu kita mainkan adalah Persona 5, game terbaru dari seri Persona yang pernah saya mainkan di PS2. Mungkin karena saya skip PS3, saya merasa ada kemajuan yang besar sekali antara PS2 dan PS4. Sebagai contohnya, di Persona 5, dungeon dan environment kota nya lebih detail dan luas, animasi karakternya lebih smooth, selain itu fitur-fitur dan total waktu gameplay-nya pun bertambah.

Graphics Persona 5 (atas) vs Persona 4 (bawah)

Graphics tidak pernah menjadi masalah dalam pengalaman gaming saya, bahkan game favorit saya saja tidak memiliki graphics super indah. Tetapi yang terpenting bagi saya adalah environment dan scenery yang direpresentasikan dalam game tersebut dapat ngena ke pemainnya. Dan sepengalaman saya, hal tersebut tidak harus membutuhkan graphics uber dewa seperti Final Fantasy XV. Contohnya, dalam seri game Etrian Odyssey (NDS dan 3DS), game tersebut dapat membuat pemandangan hutan yang terlihat sejuk dan indah, namun penuh dengan hal-hal yang akan — emm — membunuhmu.

Etrian Odyssey Untold (3DS). Serasa lagi jalan-jalan di hutan yang indah, dan mau diseruduk.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.