Tentang Matrimoni
Di Indonesia dewasa ini, masih banyak orang yang mengasosiasikan tingkat pendidikan dengan tingkat kecerdasan. Menurut saya, pendidikan dan kecerdasan itu memiliki lintasan yang berbeda yang nahasnya, acapkali kedua lintasan tersebut tidak saling berkelindan. Orang berpendidikan belum tentu cerdas dan orang cerdas tidak melulu musti mengenyam pendidikan (formal).
Cerdas adalah soal bagaimana kita memahami sesuatu sedangkan berpendidikan adalah persoalan bagaimana kita dipahamkan akan sebuah sesuatu.
Termasuk pemahaman akan salah satu ihwal suci dalam kehidupan : PERNIKAHAN
Begini, akhir-akhir ini topik mengenai pernikahan cukup membuat saya resah dan tergelitik. Bukan, bukan karena saya akan menikah, tapi karena makna pernikahan di Indonesia dewasa ini sudah mengalami peyorasi dari yang semula merupakan sebuah altar sakramen suci antara dua insan manusia, menjadi suatu komoditi yang begitu banal dikapitalisasi oleh banyak orang.
“Wah udah lulus nih, habis ini tinggal nunggu dilamar”
“Wah ijazah udah ada, tinggal nunggu ijab sah aja ini”
Berbagai berondongan pertanyaan seperti contoh di atas hingga tagar #kodekeras menyeruak ke permukaan bagai sebuah bandwagon yang selalu gradak-gruduk menusuk qolbu subjek yang ditanya.
Di tulisan saya yang lain, saya pernah membahas bahwa menikah adalah privilege setiap orang. Artinya setiap orang (seharusnya) berhak memilih kapan, dimana, bagaimana dan dengan siapa dia akan menikah. Termasuk setiap orang juga berhak memilih untuk tidak menikah.
Pun dalam narasi lain, menikah bukanlah sebuah pencapaian apalagi kompetisi, ini hanya persoalan pilihan. Menikah dan tidak menikah harusnya memiliki bobot nilai yang sama. Menikah tidak lantas membuat seseorang lebih superior dari yang tidak menikah, vice versa. Nilai yang membedakan keduanya hanyalah tentang bagaimana pandangan dan pilihan seseorang mengenai kehidupan domestik, hanya itu.
Oke, mari mencoba ‘menelanjangi’ aspek pernikahan ini dari berbagai poin.
Poin pertama, aspek fisik, yang dalam hal ini diejawantahkan ke dalam usia pernikahan. Pemerintah pernah mengeluarkan usia ideal untuk melangsungkan pernikahan. Untuk pria di usia minimal 25 tahun dan wanita di usia minimal 21 tahun (koreksi kalau saya salah). Saya tidak tahu detail mengenai landasan utama pemerintah mengeluarkan kebijakan ini. Tapi saya mencoba berpikir positif bahwa mungkin aspek medis adalah yang dikedepankan. Tapi yang jadi pertanyaan kemudian adalah, usia ideal ini bukanlah acuan baku, jaman dulu (bahkan sekarang), banyak orang yang menikah di bawah usia ideal tersebut dan mereka tetap baik-baik saja. Nenek saya contohnya, beliau menikah saat usianya baru menginjak belasan tahun. Ya memang faktor opresi kultur masih menjadi sebab utama, namun bahkan di era sekarang ini, banyak perempuan maupun laki-laki yang secara sadar dan otonom memilih untuk menikah di bawah usia ideal. Atau bahkan di kasus lain, banyak orang yang memilih untuk menikah di usia yang jauh di atas usia ideal. Budhe saya, bahkan pertama kali menikah di usia 50 tahun. Kembali lagi, mau di usia berapapun seseorang menikah dan apapun alasannya, itu semua adalah privilege. Jadi, kalau kalian semua masih men’ciye-ciye’ seseorang perihal ‘kapan nikah’ sehabis mereka wisuda dengan dalih usia, sebaiknya anda riset ulang waktu terbaik untuk anda melakukan ‘ciye-ciye’ tersebut. Jika landasan teori anda melakukan itu adalah usia menikah ideal, ‘ciye-ciye’-kan lah teman lelaki anda saat mereka sudah punya pengalaman kerja 2 tahun dan mulai ‘ciye-ciye’ teman wanita anda saat dia sedang sibuk mempersiapkan KKN dan menjadi asisten praktikum. Sebagai seseorang yang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, melakukan riset dan membuat hipotesa sebelum ‘ciye-ciye’ itu ternyata sangat esensial.
Poin kedua, aspek karir dan finansial. Mungkin tidak sedikit dari kita yang bertanya basa-basi kepada orang lain perihal “kapan nikah” karena menganggap lawan bicara kita itu sudah mapan secara karir dan finansial. Tapi tunggu dulu, itu kan tampak luarnya, dalamnya lautan siapa yang tahu bukan? Bisa jadi lawan bicara atau teman anda itu memang saudagar di permukaan tapi bisa jadi diam-diam uangnya habis untuk membelikan tanah, membangun rumah atau tabungan untuk memberangkatkan haji orang tuanya. Atau dia sedang memutar uangnya untuk mengakusisi perusahaan tempat anda bekerja hanya demi menutup mulut anda, kita tidak akan pernah tahu. Barangkali memang cuan mereka semua dialokasikan untuk hal yang lebih urgent dari menikah. Dan jika narasi yang anda bawa adalah soal finansial, berarti sepasang kekasih yang tidak memiliki penghasilan tidak akan anda ‘ciye-ciye’ atau bahkan ekstrimnya, tidak bisa dan tidak boleh menikah? Wah, kok standar ganda. Jadi, sebagai orang yang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, jangan lagi menjadikan kemapanan seseorang sebagai acuan untuk menikah. Malu dong kalau suatu saat anda dapat kesempatan untuk ketemu Jack Dorsey terus kemudian anda ‘ciye-ciye’-in juga. Eh tunggu, jangan bilang anda tidak tahu Jack Dorsey? Sebagai seseorang yang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, saya asumsikan anda pasti tahu ya.
Poin ketiga, aspek agama. Sebenarnya saya agak malas memasukkan narasi ini, karena jika sudah membawa-bawa agama dalam sebuah diskursus sosial, seolah-olah kita sudah dalam mode autowin. Tapi okelah, dicoba dibedah dulu (maaf untuk para puritan di luar sana sebelumnya). Tapi sebelumnya saya ingin memberi disclaimer bahwa di sini saya mencoba melihat dari perspektif Islam karena saya seorang Muslim. Dalam Islam memang ada anjuran untuk menikah karena menikah itu akan menyempurnakan ibadah dan membuka pintu rezeki. Oke, untuk hal ini saya coba memposisikan diri saya sedikit lebih pragmatis (karena kebetulan ilmu agama saya juga belum bagus-bagus amat). Untuk aspek menikah akan menyempurnakan ibadah dalam konteks menikah mematuhi syariat saya setuju, tapi dengan menikah lantas akan meningkatkan kadar keimanan dan meningkatakan kualitas ibadah seseorang, itu persoalan lain. Saya tahu banyak orang yang sudah menikah dan berkeluarga yang kelakuannya tidak ada bedanya dengan saat dia belum menikah, sama-sama buruknya bahkan makin menjadi. Saya juga tahu sangat banyak orang yang punya kelakuan bak malaikat kendati mereka masih melajang. Sama halnya dengan menikah itu membukakan pintu rezeki. Yang namanya rezeki itu ya dicari, menikah kalau setiap hari marathon drama Korea ya jangan harap popok bayi bisa dibeli. Kembali lagi, saya banyak tahu orang yang lancar sekali jalan rezekinya walaupun belum menikah. Tentu saya tidak akan membahas yang sudah menikah namun rezekinya tidak sebanyak orang lain, karena rezeki itu subjektif, menyoal cukup dan tidak. Intinya adalah jangan kemudian langsung menelan mentah-mentah dan tidak melihat konteks ibadah dan rezeki ini secara kontekstual. Bahwa ibadah dan rezeki itu adalah hak prerogatif Tuhan. Memang anda devil advocate-nya Tuhan apa kok seenak jidat menilai ibadah dan rezeki hanya hitam putih dari pernikahan semata. Jika anda merasa apa yang saya katakan ini kurang legitimate saya tidak masalah. Tapi coba jika anda senggang, luangkan waktu untuk googling salah satu materi yang disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab mengenai ‘menikah itu adalah berproses’ dan anda simak baik-baik. Mosok sih, sosok seorang cendekiawan Islam yang sudah menerbitkan kanon Tafsir Al Misbah yang termasyhur hingga puluhan jilid itu masih anda ragukan? Katanya cerdas, eh maksud saya berpendidikan?
Poin terakhir adalah aspek seksual dan domestifikasi. Sebagai seorang Homo sapiens yang tinggal di Indonesia, konsep kehidupan monogami dan kehidupan domestik sepertinya sudah menjadi konsensus yang ‘wajib’ dipatuhi oleh khalayak banyak. Sebenarnya saya sampai titik ini masih meyakini bahwa konsensus tersebut muaranya baik, terutama dalam aspek legal dan administratif. Misal untuk para pekerja korporasi, menikah secara legal memberikan tambahan manfaat dari segi tunjangan. Pemerintah juga lebih mudah dalam melakukan dokumentasi administrasi terkait kelahiran anak dan pertanggungjawaban secara hukum. Namun kembali lagi, ini hanya serpihan kecil dari berbagai macam narasi yang dibawa di pernikahan. Saya yakin, anda semua menikah bukan karena hanya ingin merubah status perkawinan di KTP dan mendapat tambahan tunjangan. Secara seksual, menikah menurut orang-orang bisa membuat anda bebas melakukan hubungan seksual setiap hari. Sebagai masyarakat yang besar di kultur ketimuran, hal ihwal ‘enak-enak’ yang seharusnya menjadi ranah privat urusan kamar pun harus diatur-atur oleh negara. Sebagai seorang yang mendaku diri sebagai anarko liberalis macam saya ini, seharusnya urusan seksual tidak boleh ada intervensi dari pihak manapun termasuk negara. Pemerintah cukup menghimbau melakukan seks yang aman dan sehat, bukan seks yang legal. Tapi mungkin maksud pemerintah ada baiknya juga, salah satunya mungkin untuk mengantisipasi terjadinya ledakan penduduk dan mempermudah proses hukum jika terjadi perselisihan. Mungkin ya, sekali lagi mungkin. Padahal menurut saya, kalau mau enak-enak itu murni tergantung nafsu dan niat masing-masing individu saja. Tidak ada narasi pernikahan dan legalitas yang perlu dibawa kalau sudah urusan ranjang. Cukup mau sama mau, sadar sama sadar, aman, sehat dan bertanggung jawab dan ada kesepakatan kedua belah pihak, selesai sudah. Dengan menikah pun tidak lantas membuat anda bebas sewaktu-waktu melakukan hubungan seksual. Kalau salah satu pihak tidak mau namun anda tetap memaksa, itu sudah masuk ranah marriage rapping dan itu merupakan sebuah kejahatan menurut saya. Jadi, sebagai seseorang yang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, berhenti menggunakan narasi ini untuk dalih anda menikah. Saya yakin, anda tidak sedangkal itu.
Terus, bagaimana seharusnya kita menyikapi pernikahan, kok nampaknya rumit sekali. Tidak kok, sebenarnya menikah itu sederhana. Cukup anda memaknai bahwa pernikahan itu adalah hal sakral dan tidak melulu soal bahagia anda saya yakin bisa. Hah, tidak melulu soal bahagia? Ya benar, percayalah kalau anda berpikir bahwa menikah seratus persen membuat anda lebih bahagia dari saat pacaran, itu semua nisbi belaka. Siapa bilang enak ketika harus tinggal bahkan tidur seranjang dengan orang yang seharian tadi baru saja cekcok dengan kita. Siapa bilang anda bisa dengan mudah menghabiskan uang untuk hobi tanpa beban sedikitpun. Atau siapa bilang enak begadang tidak tidur semalaman hanya demi mengelap dan mengganti popok bayi. Percayalah, saat pacaran itu (kata orang tua dan beberapa kerabat serta saudara saya) jauh lebih mudah. Cekcok, ya tinggal dipulangkan atau diputuskan. Lupa tidak memberi kabar, ya tinggal berdalih seribu satu alasan. Ya atau iya? Yang tidak setuju, boleh kok stop membaca sampai sini.
Tapi justru menerima segala ketidakenakan dan ketidakbahagiaan itulah yang membuat anda siap untuk menikah. Siap berkorban dan berpeluh ria untuk berjuang-lah yang membuat anda siap untuk menikah. Menikah bukan hanya berarti anda akan bahagia dengan segala kesenangan yang anda dapatkan. Tapi bagaimana anda siap berkorban dan menerima segala ketidakenakan itu dan tetap selalu bahagia, itulah aspek terpenting untuk anda memutuskan menikah atau tidak, bukan soal usia, finansial, nafsu, apalagi komentar tetangga sebelah. Andaikata kita semua bisa memaknai ini lebih dalam lagi, saya yakin kita semua akan lebih bijak dalam menyikapi pernikahan. Karena kalau hanya soal enak-enak dan bahagia, harusnya dulu waktu SD, sehabis imunisasi campak, kalian langsung saja ke KUA.
Jadi berhenti mengkapitalisasi pernikahan apapun itu bentuknya. Pernikahan tidak hanya soal memposting foto cincin melingkar di jari anda dan pasangan sejak dari lamaran untuk kemudian mendulang komentar “kapan nyusul”. Atau demi postingan foto bridal shower yang memenuhi timeline. Atau tag foto vendor yang harganya bisa untuk investasi Warmindo di kawasan Seturan itu. Silahkan dirayakan, silahkan diposting foto anda, asal jangan berlebihan, itu saja.
Menikah tidak membuat anda jauh lebih hebat dan lebih keren dari yang belum menikah. Pun dengan siapapun yang belum menikah, lantas tidak membuat kalian menjadi seorang bramacorah yang harus menunduk malu dengan segala komentar dan pertanyaan klise orang-orang di sekitar anda.
Namun bagi anda semua yang tetap keukeuh menganggap bahwa menikah itu adalah sebuah pencapaian gemilang yang patut untuk dilakukan selebrasi secara paripurna dan untuk berpamer ria di hadapan khayalak banyak, ingatlah bahwa sebagai orang yang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, ada peribahasa ‘padi semakin berisi akan semakin menunduk’.
Sebagai orang cerdas, eh maksud saya berpendidikan, tidak mungkin bukan anda tidak kenal peribahasa di atas? Capek deh.
