Perjalanan Era Industri Menuju 4.0

ilustrasi era industri 4.0

Mungkin bagi sebagian orang istilah era industri 4.0 ini masih terasa awam. Namun bagi sebagian yang lain mereka sudah mulai mengenalnya, atau bahkan sudah ada yang mulai kebayang nuansa-nya akan seperti apa?

Buat yang belum tahu, era industri 4.0 adalah era dimana aktivitas perindustrian tidak lagi tersentral pada satu titik, melainkan prosesnya dapat berjalan secara menyebar, atau istilahnya yaitu decentralization. Jika pada era sebelumnya pemerintah dan perusahaan yang berperan secara dominan, maka pada era ini masyarakat luas akan lebih berperan dominan.

Lebih dalam lagi, era ini erat kaitannya dengan kemajuan teknologi dimana semua serba otomatis, simple, agile, dan transparan. Dengan komputasi yang terkoneksi dengan robotic, machine learning, artificial intelligence, internet of things, big data, serta augmented reality dan virtual reality, pada akhirnya meminimalisir effort manusia dalam bekerja.

Tapi sebelum mengulas era industri 4.0 lebih dalam, pasti ada pertanyaan bagaimana sih peta perjalanan revolusi industri hingga sampai ke titik 4.0? Lalu seperti apa gambaran industri sebelum 1.0?

Industri level 0 : Ketika Aktivitas Bergantung Pada Tenaga Manusia, Hewan dan Material Alam

Tepatnya pada tahun 1749 ke belakang, dimana setiap negara memiliki keunggulan hasil buminya, kemudian diolahnya hasil bumi tersebut dengan tenaga manual, seperti pengolahan makanan dengan pisau, batu, dan api, media penulisan dengan pelepah pisang. Begitupun kendaraan yang masih mengandalkan tenaga hewan seperti kuda, onta, serta keledai, untuk mengantarkan seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pada masa ini, bisa dikatakan semua proses aktivitas manusia dilakukan dengan secara manual. Begitupun komunikasi masih dilakukan dengan terbatas, dimana untuk mengirimkan pesan ke seseorang di tempat yang jauh butuh waktu berhari — hari untuk pesan tersebut sampai.

Industri 1.0 : Tenaga Mesin Perlahan Menggantikan Tenaga Manusia Maupun Hewan

Revolusi Industri 1.0 berlangsung pada periode antara tahun 1750–1850. Manusia mulai menemukan celah untuk mengoptimalkan industri mereka dengan mulai bermunculannya mesin — mesin yang ditemukan pada masa tersebut, seperti mesin uap yang ditemukan oleh james watt. Juga pada masa tersebut pula dikembangkan lebih massive mesin penghitung yang menjadi cikal bakal komputer pada jaman sekarang. Hanya saja mesin — mesin pada fase ini masih konvensional.

Saat itu terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan tekstil, serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Karena ada transisi dari penggunaan tenaga manusia dan hewan ke tenaga mesin

Industri 2.0 : Revolusi Industri Ke Tenaga Motor

Yang paling dikenal dari revolusi industri 2.0 adalah adanya temuan Henry Ford yaitu pada produk bergerak, (yang selanjutnya menjadi cikal bakal industri kendaraan bermotor atau mobil). Impactnya mobilitas manusia pada masa ini jauh lebih dinamis.

Pada fase ini Nama besar Tesla dan Edison pun mewarnai pergerakan revolusi. Keduanya menemukan metode arus listrik yaitu bolak — balik (AC) dan searah (DC). Sehingga listrik mulai diimplementasikan pada setiap mesin — mesin yang dulunya konvensional menjadi lebih cepat dan juga dinamis. Hal tersebut menjadi cikal bakal bahwa aktivitas perindustrian pada fase ini erat kaitannya dengan tenaga mesin listrik sebagai percepatan aktivitias.

Contohnya industri pabrikan, pada fase ini mulai beralih dari mesin konvensional ke mesin bermotor , bahkan kecenderungan pada tenaga manusia pun semakin berkurang. Mayoritas aktivitas produksi pada industri dipegang oleh mesin sehingga pertumbuhan ekonomi pun terjadi berkali — kali lipat.

Industri 3.0 : Digitalisasi Mulai Berperan Pada Industri

Era Industri 3.0 ditandai dengan munculnya teknologi digital dan internet yang merangsek masuk ke setiap aktivitas, terutama perindustrian. Pada fase ini ruang dan waktu semakin terkompresi (tidak berjarak), fleksibilitas beranjak dominan, seseorang hanya perlu berinteraksi pada suatu hal seperlunya saja, selebihnya dikerjakan oleh komputer. Alhasil proses industri disini menjadi realtime. Seperti misalnya seseorang bisa langsung tau berapa produksi pabrik di luar daerah, oleh karena data yang diinput menghasilkan informasi yang bisa langsung tersambung ke pusat.

Selain itu, revolusi industri 3.0 mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun mulai menyesuaikan agar comply dengan behaviour zaman. Pada fase ini perusahaan mulai menerapkan digitalisasi dan komputerisasi untuk menunjang business growth mereka. Apalagi dengan digitalisasi kemampuan berproduksi lebih berlipat, distribusi dan penjualan bisa dimanage lebih cepat. Konsekuensinya, pengurangan tenaga kerja manusia tidak terelakkan. Selain itu, reproduksi pun mempunyai kekuatan luar biasa. Hanya dalam hitungan jam, banyak produk dihasilkan. Jauh sekali bila dilakukan oleh tenaga manusia.

Baik dari era industri 1.0 sampai ke 3.0 yang mendominasi industri adalah perusahaan — perusahaan yang memiliki aset mumpuni (mesin, teknologi digital, supply chain, tenaga kerja expert, dan juga knowledge). Atau yang dikenal dengan incumbent.

Industri 4.0 : Kehadiran Disruptive Technology

Era ini ditandai dengan berkembangnya teknologi cloud computing. Melalui teknologi ini setiap orang mendapatkan kemudahan dalam melakukan aktivitas mereka sehari — hari, terutama dalam bekerja yang kaitannya dengan industri.

Faktornya adalah pertama karena collaborative working sudah semakin terwadahi, jadi pekerjaan bisa dilakukan secara agile, tidak terikat pada tempat dan waktu, tapi tetap termanage. Kedua akses knowledge ke teknologi semakin mudah, bahkan untuk level awam pun kian accessible. Alhasil, banyak proses dan resource / asset yang di-bypass , sehingga business growth suatu perusahaan lebih cepat.

Pada era ini, yang paling mengancam keberadaan incumbent adalah perusahaan startup. Karena orientasi pertumbuhan bisnis startup adalah multiplying valuation growth (pertumbuhan valuasi berlipat ganda), dengan nir aset dan agile devleopment. Contoh konkritnya adalah seperti Go-jek, bisnis modelnya tidak perlu memiliki armada tapi bisa menguasai industri layanan transportasi. Contoh lainnya adalah Traveloka, tidak perlu memiliki maskapai penerbangan tapi valuasinya melebihi perusahaan maskapai penerbangan.

Tidak menutup kemungkinan akan ada banyak perusahaan — perusahaan baru yang akan mendisrupt perusahaan lama, atau bahkan mematikan. Let see!

by Fardil Khalidi 
www.desktopip.com