Hari Pertama Sekolah

Saya rasa hampir semua orang tua pasti excited plus sedikit nervous ketika mengantarkan anaknya sekolah untuk pertama kalinya, dan untuk kasus saya, porsinya dua kali lipat. Ini pertama kalinya saya menyetir sendiri di pagi hari Jakarta yang terkenal sibuk dan macet, jadi walaupun sudah berkali-kali menghapal rute ke sekolah Ran, tetap saja rasa grogi itu ada. Anyway sebenarnya sekolah mulai pukul 8.15, tapi saya putuskan untuk berangkat lebih pagi demi menghindari macet. Pagi buat saya adalah jam 7 kurang 10 menit dengan keyakinan bahwa kami sudah berangkat sangat awal.

Lalu lintas pagi hari di Jakarta

Sebenarnya sekolah dan rumah hanya berjarak kurang lebih 3,5 km tapi suami berpendapat rute normal (rute dengan jarak terpendek) pasti akan macet karena di tengah jalan ada galian besar pembuatan tiang fly over, maka jadilah saya mengambil rute memutar yang sepanjang jalannya tidak ada pembongkaran jalan. Selama ini kami hanya memakai rute ini di hari Sabtu dan Minggu saja karena memang suami libur dan di hari lain, saya sangat jarang bepergian. Diluar dugaan ternyata rute yg dipilih suami adalah rute yang bagi saya (saat itu) sangat macet. Kami tidak pernah sadar bahwa rute ini melewati komplek sekolah lengkap dari TK sampai kampus (sekolah Al-Azhar Blok M). Alhasil di pagi hari macet karena banyaknya orang parkir di sepanjang jalan ditambah lagi yang berhenti sebentar sebentar untuk menurunkan siswa sekolah.

Pikiran saya terus berdengung, “gimana kalo tiba-tiba Ran atau saya sendiri sakit perut pengen ke belakang?” dan mungkin karena panik, perut saya terasa mulai melilit sementara mobil stuck karena macet. Keringat dingin mulai keluar, rasanya ingin meninggalkan mobil begitu saja dan mencari toilet terdekat tapi itu jelas tidak mungkin karena saya diapit mobil kanan, kiri, depan, belakang yang juga diam karena macet. Gelisah saya menoleh ke samping, Ran sedang duduk tenang dengan sabuk pengaman terpasang. Terbersit sedikit rasa bangga karena Ran yang dulu, boro-boro bisa duduk pakai sabuk pengaman, disuruh duduk dengan tenang saja susahnya setengah mati. Nggak jarang dia minta duduk di pangkuan saat saya menyetir atau bolak balik ke depan dan ke belakang. Semenjak di Jakarta ini, saya dan suami berkali-kali mengajarkan betapa pentingnya duduk diam dan mengenakan sabuk pengaman terutama saat duduk di depan dan saya menyetir sendirian. Syukurlah dari hari pertama sekolah sampai saat ini Ran tetap mematuhi nasehat kami walaupun sesekali dia masih mengeluh “kok lama banget sampai rumahnya Ma?”

Bercermin dari anak saya yang tetap anteng, saya pun memasang rem tangan dan meraih telpon karena saya tahu it’s gonna be long until we can move. Saya menghubungi orang yang saya tahu pasti bisa membuat kepanikan saya mereda, suami saya. Setelah mengobrol sejenak kepanikan saya berangsur-angsur mereda begitupun sakit perutnya dan ternyata sebenarnya keadaan ngga segawat yang ada dalam pikiran saya.

Pada akhirnya memang butuh waktu 47 menit untuk sampai parkiran sekolah tapi tidak ada rasa trauma menyetir di Jakarta karena ketika sampai saya bisa melihat betapa anak saya terlihat happy bisa bersekolah, memakai seragam dan bertemu teman-teman sebayanya. Hari selanjutnya saya mencoba rute dengan jarak tempuh paling pendek and guess what? dengan berangkat pukul 6.30 perjalanan kami hanya menempuh waktu 20–25 menit. Problem solved!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.