Baletkostum

Saat Ran berusia tiga tahun, saya mulai mengenalkannya pada Balet. Kenapa Balet? banyak alasan yang melatarbelakangi pilihan saya itu.

Ran sangat suka mendengarkan musik dan sering menirukan gerakan tarian setiap kali dia menonton Hi-5 (serial tv untuk anak). Saat itu Ran belum bersekolah jadi saya terpikir untuk mengikutkan dia kegiatan yang berkaitan dengan kegemarannya terhadap musik dan tari.

Sejak kecil saya menyukai tari Bali dan bahkan dulu sampai ikut les tari Bali tapi ya hanya sekedar suka dan kalaupun tampil, hanya di beberapa acara kecil seperti perpisahan sekolah. Walaupun begitu, saya merasakan besarnya manfaat menari terutama bagi kesehatan fisik. Karena tari Bali belum cocok untuk anak usia 3 tahun, seorang teman menyarankan agar saya memasukkan Ran ke kelas Balet bagi anak balita.

Ran bukan tipikal anak yang mudah akrab dan berbaur dengan lingkungan baru. Biasanya butuh waktu yang cukup lama untuk dia beradaptasi. Saat pertama kali trial di kelas Balet, dia memulainya dengan takut tapi juga bersemangat karena melihat anak-anak kecil dengan pakaian yg cantik. Saat itu guru yang mengajar juga bukan guru lokal jadi saya sedikit khawatir apakah Ran akan bisa merasa nyaman.

Ternyata Balet untuk balita tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kelas ini dirancang sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak bosan, gerakannya juga masih tergolong mudah diikuti balita yang ketrampilannya belum seberapa. Mereka banyak bernyanyi, berlari, menari, berimajinasi sambil sedikit diselipkan gerakan dasar Balet. Kelasnya juga kecil sehingga setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup dari gurunya.

Saat pulang saya menanyakan pendapatnya tentang kelas Balet tadi dan Ran dengan yakin menjawab kalau dia suka kelas tadi dan ingin ikut lagi.

Setelah itu saya mulai mencari tahu lebih lanjut manfaat menari Balet bagi anak, dan di beberapa artikel di internet saya temukan bahwa menari Balet tidak hanya semata-mata untuk membentuk tubuh tapi juga membantu anak untuk berdisiplin, berkonsentrasi, musik pengiringnya bisa membantu merangsang pertumbuhan otak, dan membantu anak untuk bisa bersosialisasi dengan lebih percaya diri.

Saat kami akhirnya pindah ke Jakarta, Ran masih ingin menari Balet dan kebetulan sekali ada tempat kursus Balet yang lumayan bagus di dekat sekolahnya, jadilah akhirnya kami masukkan Ran kesana dan sejauh ini Ran sangat menyukai tempat les barunya.

Saya tidak mengharapkan Ran menjadi seorang Ballerina yang tampil di panggung. Saya mengikutkan dia kelas Balet karena dia memang suka dan mempunyai banyak manfaat positif untuknya. Jika suatu saat dia bosan dan menemukan kegiatan positif lain yang ingin dia lakukan, saya tidak akan menghalangi karena hobi bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Suatu ketika seorang Ibu teman sekolahnya bertanya apakah Ran ingin ikut les nyanyi (les bareng sama anaknya), Ran dengan tegas menjawab tidak. Saya agak heran karena saya tahu Ran sangat suka menyanyi saat bermain di rumah, dalam perjalanan di mobil, dan seringkali bersenandung secara tidak sadar. Ketika saya tanya alasannya, dia hanya menjawab

“Pokoknya Ran engga mau, Ma”

Saat itu saya sadar kalau Ran sudah mengerti yang mana pilihannya jadi saya pun tidak akan memaksakan, selama itu hal yang positif dan tidak merugikan orang lain maupun dirinya sendiri, saya akan selalu mendukung apapun pilihan Ran.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.