selamat berpisah lagi

untuk kamu, yang sekarang sudah semakin melenyapkan eksistensinya dari hidupku.

kira-kira sudah tepat seminggu kurang beberapa jam terakhir kalinya kau membalas pesanku. dan beberapa hari setelah pertemuan singkat kita yang bahkan aku tidak sempat mengobrol denganmu. hanya sebuah lambaian tangan dan senyuman.

kupikir itu semua sudah cukup. mengingat dengan kesibukanmu yang agak di luar nalar, sebuah pertemuan kecil dan kelewat singkat itu sudah sangat membuatku puas dan senang. juga ada lega mengetahui kamu sebenarnya masih hidup dan masih berada di kampus ini.

tapi tidak setelah sore ini.

mungkin kamu tidak tahu bahwa akulah manusia aneh yang membuat kerusuhan kecil di angkringan makaroni pedas yang ada di sepanjang jajanan depan kampus. mungkin kamu tidak menyadari bahwa kita berada di tempat yang sama kala itu. mungkin kamu tidak mengenal orang di belakangmu yang kemudian membuat suara berisik dan melenyapkan diri, yang mana orang itu adalah aku.

akulah yang ada di belakangmu sore itu.

entah ini sebuah suratan dari Tuhan atau bukan. aku benar-benar murni ingin membeli makaroni untuk memenuhi asupan makanan gurih ber-MSG kesukaanku. siapa yang tahu, keinginanku kala itu mengantarku untuk bertemu denganmu.

denganmu yang sedang bersamanya.

kurasa, sudah saatnya aku tahu diri.

mengharapkan akan pertemuan dan balasan pesan darimu lagi-lagi kembali membuatku bodoh. kembali terjatuh ke dalam lubang yang sama. mungkin aku bisa menerima alasan sibukmu. tapi ternyata, kamu tidak sesibuk yang kupikirkan. di sela sibukmu, kamu masih bisa menyempatkan untuk bertemu dengannya, kamu masih bisa menyempatkan untuk membalas pesannya, namun tidak kepadaku.

sekarang, aku dengan mata yang sangat berat menatap layar laptop dengan microsoft excel yang sudah menjadi sahabat baruku. aku memutuskan untuk menahan tangisku meskipun hanya beberapa menit setelah aku melihatmu, aku menangis sekencang yang kubisa. kantukku berasal dari efek menangis tadi; menangis di pojok lapangan basket, memeluk sahabatku, dan menutup kepalaku dengan jaket yang sukarela dipinjamkan demi melindungi sahabatnya yang sedang menangis dalam kecengengannya.

mencoba menyingkirkan bayang-bayangmu di pikiranku, meskipun rasanya siluetmu sudah perlahan sirna dari bayangan otakku mengingat saking lamanya pertemuan terakhir kita. mencoba melupakan janji-janji dan rencana yang kita buat dulu untuk berpetualang ke daerah atas atau hanya sekadar hunting foto ke tengah kota khususnya braga lagi. mencoba menerima rencanaku mentraktirmu yang hancur begitu saja karena kamu memilih untuk menghindariku.

mungkin sekarang, aku tidak butuh penjelasan.

mungkin sekarang, aku memang benar-benar harus tahu diri.

jadi, aku menyingkirkan laptop dan meraih handphone untuk membuka akun instagram-ku. mengetikkan namamu sampai terbuka laman profilmu.

sempat ada keraguan, tapi detik ini aku sudah yakin sekali.

sudah saatnya aku yang pergi.

blocked.