Bulan 1: Saya Kena TB

Pilihannya hanya dua: TB atau Paru-paru Basah. Saya meyakinkan diri saya sendiri dengan dua pilihan itu dua bulan lalu. Saya juga menenangkan diri saya untuk tak risau dengan uang. Hingga kemudian saya mantap memeriksakan diri ke rumah sakit.

Saya mendaftar bertemu dokter spesialis paru-paru. Mengeluhkan batuk saya yang tak kunjung berakhir sejak November tahun lalu. Sudah bertemu tiga dokter dan keluhan itu masih saja ada. Juga badan yang kian lama kian lemah.

Berat badan saya 43 kilogram. Saya kaget sendiri. Di satu sisi saya senang karena berat badan saya turun. Tapi kalau badan lemah begini, lebih baik tidak usah kurus.

Dokter meminta saya rontgen. Di rumah sakit itu juga saya rontgen. Dan setelah melihat hasilnya, "Fix ini TBC," kata dokter.

TBC atau Tuberkulosis. Paru-paru saya dipenuhi kuman. Kuman itu sudah menyebar hampir ke seluruh paru-paru. Paru-paru saya rusak.

"Kamu makan obat ya selama enam bulan. Tenang, pasti sembuh kok. Asal obatnya benar-benar diminum," katanya lagi.

Deg. Ternyata pilihan pertama yang benar. Saya kena TB. Saya tidak tahu kenapa bisa terserang penyakit ini. Begitu juga pertanyaan teman-teman dan keluarga ketika tahu penyakit saya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai membaca-baca tentang penyakit TB. Penyakit ini nyatanya bisa menyerang siapa saja. Batam termasuk endemik penyakit TB. Anak-anak saja bisa terserang penyakit ini.

Penyakit ini menyerang manusia, terutama yang memiliki ketahanan tubuh lemah. Juga tidak pernah menjaga kebersihan. Well, saya memang lalai untuk dua hal itu. Kesehatan dan kebersihan diri dalam hidup saya memang nomor kesekian.

Tanggapan keluarga membuat saya mengakui saya sudah gagal menjaga diri sendiri. Dan saya jadi sadar untuk tak lagi memforsir diri. Mungkin, ini bentuk penolakan tubuh saya dengan aktivitas saya.

"Kamu boleh aja bilang mampu. Tapi nyatanya tubuhmu nggak mampu," kata embak.

Punya sakit ketika muda itu rasanya lemah sekali. Gagal menjaga diri. Ih, rasanyaaa......

Sekarang, saya sedang menjalani pengobatan. Memperbaiki paru-paru yang rusak. Memperbaiki kebiasaan hidup. Pakaian bersih harus berganti setiap hari. Seprei kasur dan handuk juga begitu. Harus rutin diganti.

Kamar tidur harus mendapatkan cahaya matahari dan udara setiap hari. Ini memungkinkan untuk terjadinya pergantian udara. Kuman-kuman dalam kamar bisa mati.

Makanan juga harus diperhatikan. Tidak lagi nasi dan ayam saja yang saya makan. Tapi juga sayur-sayuran.

Saya harus makan banyak. Ini supaya berat badan bertambah. Sekarang, saya sudah menemukan ritme makan. Sehari, saya bisa makan empat kali sehari. Juga minum susu tiga kali sehari.

Ini jadwal makan dan minum saya:

  • 03.00 WIB ... minum susu
  • 06.00 WIB ... minum teh hijau
  • 07.00 WIB ... makan nasi
  • 07.30 WIB ... minum jamu kunyit dan makan vitamin manggis
  • 10.00 WIB ... minum susu dan kudapan pagi (cemilan apapun)
  • 12.00 WIB ... makan nasi
  • 15.00 WIB ... minum susu dan kudapan sore
  • 17.00 WIB ... makan bukan nasi
  • 19.45 WIB ... makan obat
  • 20.15 WIB ... makan nasi
  • 20.45 WIB ... makan obat dan minum jamu kunyit
  • 22.00 WIB ... makan vitamin manggis
Show your support

Clapping shows how much you appreciated wenny c. prihandina’s story.