Bulan 2: Ternyata Asam Urat

Well, vonis yang sama ternyata sampai ke saya. "Oh itu asam urat itu," kata dokter.

Saya membuka kaus kaki. Dokter memeriksa telapak kaki saya yang bengkak. Menekannya.

"Sakit?" tanyanya.

Kujawab, iya. Disentuh pun sakit.

"Fix ini. Asam urat," katanya.

Saya bertanya kenapa bisa asam urat. Sebab sebelumnya saya tak pernah asam urat. Kata dokter, ada bahan obat yang memicu kadar asam urat dalam tubuh naik.

Makanya, teman pun dinyatakan asam urat, waktu itu. Meskipun ia mengiranya becanda karena dokternya tak memberikan obat asam urat untuknya.

"Pas udah bersih, saya tanya asam urat saya gimana? Kata dokter, kapan saya bilang kamu asam urat?" kata teman saya.

Teman saya jadi tak percaya kalau ia pernah asam urat. Nyeri itu nyeri karena efek obat. Begitu yang ia percaya.


Saya mulai merasakan nyeri sendi di kaki pada pertengahan bulan pertama pengobatan. Awalnya hanya pegal di sendi lutut. Setiap malam saya membalurnya dengan salep penghilang nyeri. Berharap esok harinya pegal hilang.

Nyatanya, pegal itu tak hilang. Pagi hari, lutut kembali nyeri. Rasanya sia-sia. Saya pun tak lagi menggunakan salep itu. Panas.

Mulai memasuki bulan kedua, nyeri menjalar ke bawah lutut. Terutama ke tumit dan jari jemari. Untuk menapak lantai saja rasanya sakit.

Saya mendapati sendi-sendi saya kaku. Jadi setiap kali saya berdiam diri lama, entah duduk, berdiri, atau tidur, ketika berdiri dan bergerak lagi, sakitnya minta ampun. Di rumah, saya sering jalan pincang. Itu menyenangkan - membiarkan diri saya berjalan pincang. Karena kalau di luar rumah, saya berusaha menahan diri untuk berjalan sewajarnya. Menahan sakit sebisanya. Tidak bisa saya pungkiri, itu menyakitkan.

Teman-teman hampir tidak melihat ketimpangan kaki saya. Kecuali ketika bersama-sama jalan naik-turun tangga dan salat.

"Kamu sakit, W?"

Saya mengangguk.

Asam urat ini kalau dibawa salat, oh, rasanya ... jadi membuat malas salat! Rasa sakit menjalar di waktu menjelang sujud, duduk dua sujud, dan ketika hendak tegak kembali.

Kaki ini tidak bisa dilipat. Ini seperti kayu yang tegang. Saya takut sendi saya robek jika saya paksakan melipatnya. Padahal juga mungkin tidak seperti itu.

Setiap kali sampai di rumah, rasanya hanya ingin rebah. Badan sudah lelah. Kaki sudah ingin berhenti bergerak dulu.

Saya semakin sadar, tubuh ini memiliki keterbatasannya sendiri. Meskipun saya merasa bisa, tubuh saya ternyata tak mampu. Saya jadi sadar, selama ini saya telah memaksa diri. Saya menjajah diri saya sendiri.

Tubuh memiliki kemampuannya sendiri. Ketika ia tak berdaya lagi, saya harus mengalah. Ini tak bisa lagi dipaksakan. Ini mungkin yang dinamakan berdamai dengan diri sendiri.

Memasuki bulan ketiga, dokter mengganti obat saya. Obatnya berwarna merah, berbentuk bulat kecil. Tapi pembungkusnya berwarna kuning. Al menyebutnya obat kuning.

Dosisnya dikurangi setengah. Sekali minum 2,5 tablet. Masih sekali sehari.

Ini sedikit berbeda dengan Mak. Dulu, ketika Mak dapat obat ini, minumnya tak lagi rutin. Dua atau tiga kali sehari. Mak lupa berapa kali rutinnya. Tapi tidak sekali sehari.

Tapi, meskipun obatnya berubah, harganya tidak berubah. Masih mahal. Apalagi dokter juga membekali obat-obat lain untuk mengurangi efek obat utama. Makin banyak yang dibayar, makin banyak yang diminum.

"Ya memang begitu. Namanya juga sakit. Ya harus minum obat," kata Ibuk.

Oh. Baiklah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.