Cemburu

Kawan saya sedang berbahagia. Ia sedang dekat dengan seorang pria. Masih teman, sebenarnya. Tapi ia mulai menaruh hati.

Mereka bercakap-cakap dengan intens. Juga selalu tak sengaja bertemu. Di akhir hari, keduanya juga memutuskan bertemu. Untuk sekedar makan bersama atau pergi nonton, selebihnya.

Saya lihat raut mukanya gembira. Ia menarik tangan saya dan menyentuhkannya ke pipinya. Rasanya hangat. Seharusnya ada semburat merah di pipi itu. Tapi kulitnya gelap, saya tak bisa melihatnya.

Ah, betapa bahagianya ia. Saya ingat, saya pernah juga merasakan debar yang sama. Ketika itu di awal-awal kedekatan dengan Al. Tapi kebahagiaan itu tak sempurna karena kami berjauhan.

“Pasti senang sekali kalau setiap hari kita bisa bertemu,” kataku pada Al.

Ia menerima protes saya. Ia setuju. Tapi jangan keseringan, katanya. Bisa bosan. Tapi, apa iya, kita bisa bosan berduaan dengan orang yang kita sayangi?

Rasanya tidak kan? Pasti selalu ada cerita untuk dibagi dengan (calon) pasangan kita.

Kami pun menyikapinya dengan terus bertukar-kata melalui wa. Telepon hanya sesekali saja. Saya pribadi tidak terlalu suka telepon. Lebih enak bertukar kabar melalui tulisan. Ada getar yang lain ketika menunggu chat kita dibaca dan dibalas.

Namun, getaran itu rasanya paling sering terasa di awal-awal masa pendekatan. Masa ketika belum ada status — menuju status, tepatnya. Seperti yang terjadi dengan kawan saya itu.

Ia mulai ada hati. Dan rasanya, si cowok pun mulai menaruh hati. Kawan saya orang baik. Dan cowoknya, sepertinya baik. Tapi entahlah, saya mengenalnya belum begitu lama. Begitu juga kawan saya itu.

Tapi, jelas, dia lebih sering berjalan bersama cowok itu. Ia sedang menilai. Lalu menimbang. Menurut saya, ia tipe rasionalis. Tapi beda kalau sudah berbicara soal rasa dan usia.

“Di usia sekarang ini, kita bukan lagi mencari orang yang sayang kan? Tapi mencari orang yang mau berkomitmen,” katanya kemarin-kemarin.

Ia juga sempat bilang, kalau ia akan menerima cowok manapun yang ingin menikahinya. Saya pun sempat mengusung prinsip itu. Susah memang kalau usia yang berbicara. Namun, seorang kawan berpesan, “Jangan karena usia, kamu memutuskan menikah. Nanti kamu menyesal.”

Saya juga maunya seperti itu. Tapi, saya juga percaya, pencarian itu tak akan selesai kalau tak disudahi. Sama seperti menulis. Tulisan tak akan selesai kalau tak disudahi. Kalau proses edit masih berlanjut, tulisan itu tak akan pernah jadi. Dan, proses editing itu memang tak akan pernah usai.

Ibuk berpesan, “Tidak ada manusia yang sempurna. Kamu harus terima kekurangan dan kelebihan pasanganmu.”

Sulit untuk bisa berpikir seperti itu. Namun, seiring berjalannya waktu, saya lelah berpikir tentang ketidak-sempurnaan ia. Dan saya sampai pada kesimpulan:

“Dia memang tidak sempurna. Tapi itulah gunanya kita: menyempurnakan dia.”

Well, saya berharap teman saya menemukan komitmen pada cowok itu, bukan hanya kebahagiaan sesaat. Kebahagian yang membuatnya ingin terus menikmatinya. Walau sesungguhnya, ada hal yang ia langgar: ia sudah punya pacar.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.