Disangka Titisan Jin, Sarah Dihadiahi Hajar — Seorang Budak Wanita

Masjid Muhammad Ali Pasha di Kairo, Mesir — Republika.co.id

Kisah ini menjadi bagian dalam perjalanan hidup Nabi Ibrahim alaihissalam. Tapi tidak akan diceritakan dengan detil. Kisah ini hanya menjadi awalan sirah nabawiyah — kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassalam.


Nabi Ibrahim alaihissalam adalah nabi yang mulia. Ia mendapat julukan Abul Anbiya, Ayah Para Nabi.

Mengapa?

Karena Nabi Ibrahim alaihissalam memiliki dua orang istri. Dari kedua istrinya, ia mendapat dua orang anak. Keduanya kemudian mendapat rahmat Allah subhanahu wata’ala sebagai nabi.

Istrinya yang pertama bernama Sarah. Sarah sangat terkenal dengan kecantikan dan kemuliaannya. Luar biasa.

Nabi Ibrahim alaihissalam pernah mengadakan perjalanan bersama Sarah ke Mesir, Afrika Utara. Di zaman itu, Raja Mesir sangat dzalim. Ia gemar merampas istri orang. Bukan mencari perempuan yang masih single tapi justru istri orang. Sebab, dalam pandangannya, kalau wanita sudah dinikahi oleh seorang laki-laki itu artinya ia seorang pilihan.

Sarah sangat terkenal dengan kecantikannya. Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam berjalan dengan Sarah sampai ke Mesir, datang beberapa prajurit menghampiri mereka. Para prajurit itu ingin mengambil Sarah.

“Siapa ini?” tanya prajurit.

Ibrahim alaihissalam menjawab, “Ini saudariku.”

Nabi alaihissalam tidak menjawab ‘istriku’ karena jika ia menjawabnya demikian, Sarah tentu akan diambil oleh para prajurit tersebut.

Nabi Ibrahim alaihissalam sempat risau karena mengucapkan kebohongan itu. Ini disebutkan dalam HR Bukhari, bagaimana nanti kejadian di Padang Mahsyar. Manusia kepanasan dan menunggu lama di Padang Mahsyar.

Manusia datang kepada Adam alaihissalam.

“Wahai Adam, engkaulah manusia pertama di muka bumi ini. Datanglah pada Allah subhanahu wataa’ala. Mintalah agar IA segera mengadili kami. Kami sudah kepanasan dan menunggu lama. Kami ini ke surga atau ke neraka. Yang penting datang dulu dan mengadili.”

Di Mahsyar sangat panas dan luar biasa pemandangannya. Ada orang yang wajahnya di bawah. Ada yang dibangkitkan dengan adzab pantatnya di atas. dan berbagai macam.

Adam menjawab, “Hari ini Tuhanku tengah murka. Belum pernah semurka ini. Saya cuma bisa menyelamatkan diriku diriku sendiri. Maka kalian cobalah datang ke Idris alaihissalam.”

Datanglah mereka ke Idris alaihissalam dan Idris alaihissalam mengatakan hal yang sama. Intisarinya, setiap nabi didatangi sampai mereka tiba di depan Nabi Ibrahim alaihissalam.

Nabi Ibrahim alaihissalam mengatakan, “Saya tidak berani karena hari ini Tuhanku tengah marah dan belum pernah marah sebelumnya seperti ini. Dan tidak pernah marah sesudahnya seperti ini.

Saya telah melakukan perbuatan salah. Saya pernah berbohong waktu saya mengatakan ke prajurit Mesir bahwa ‘ini’ — Sarah, saudara saya.”

Padahal, itu bukan bohong. Yang ia maksud saudari itu saudari dalam agama. Tapi Nabi Ibrahim alaihissalam karena ketaatannya pada Allah subhanahu wataa’ala menganggap itu dosa. Padahal berbohongnya pun kepada orang kafir untuk keselamatan istrinya. —

Karena kecantikan Sarah, prajurit Mesir itu tetap mengambilnya. Walaupun ia sudah mengaku bahwa Sarah adalah saudarinya.

Pada saat dibawa ke istana, Raja Mesir langsung ingin menjamahnya. Maka Sarah berdoa pada Allah azza wa jalla agar diselamatkan. Tiba-tiba saja, tangan kanan si raja itu stroke. Tidak bisa bergerak. Mau menyentuh tidak bisa.

Ia bilang, “Apa yang kau lakukan pada tanganku?”

Sarah menjawab, “Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya berdoa pada Tuhan saya agar diselamatkan dari keburukanmu.”

“Mintalah pada Tuhanmu agar saya dikembalikan dan saya tidak akan mengganggu kamu,” sahut sang Raja.

Sarah pun berdoa pada Allah azza wa jalla agar orang itu disembuhkan. Dan raja itu pun sembuh.

Tapi si Raja belum yakin, ia mendekati Sarah lagi. Ia berbohong. Dan ia pun mendapat sakit yang sama. Tangannya tidak dapat digerakkan.

Ia berkata lagi, “Mintalah pada Tuhanmu agar saya disembuhkan dan saya tidak akan mengganggu lagi. Saya berjanji.”

Sarah berdoa untuk yang kedua kalinya. Raja itu sembuh tapi ia tetap mau menjamah lagi. Hal ini berulang sampai tiga kali.

Di kali ketiga, ia berkata, “Saya berjanji dan saya tidak akan mengganggu kamu. Disaksikan oleh semua orang-orang yang ada di istana ini, saya akan melepaskan kamu.”

Lalu dikeluarkannya seorang budak wanita. Itulah Hajar.

“Ini saya hadiahkan untukmu,” kata Raja.

Sarah pun berdoa pada Allah agar si raja disembuhkan. Raja itu pun sembuh.

Raja itu lantas berkata, “Keluarkan wanita ini dari istana saya karena yang kalian bawa ini adalah jin.”

Ia mengatakan demikian karena dia tidak yakin pada Allah. Ia sangka Sarah jin. Maka kemudian pulanglah Sarah dengan membawa Hajar.

… to be continued


Transkripsi oleh: wenny c prihandina

Audio mp3 oleh: pakdenono.com

Ceramah oleh: Ustaz Dr Khalid Basalamah, MA