wenny c. prihandina
Nov 1 · 2 min read

HUJAN

sumber gambar: mnn.com

“Hujan,” kataku pada pria di sampingku.

Ia hanya berdeham sebentar. Lalu diam. Matanya masih terpejam.

Pukul 12 malam. Sedari petang, kilat sudah menyambar-nyambar. Petir tak henti bertalu-talu. Langit pun nampak kelabu.

Tapi kami tak mau menunggu. Sudah terlalu sering kami mendapat harapan palsu. Saat petir kerap menyambar. Dan awan kelabu bergumul menghilangkan langit biru. Kami segera mengeluarkan baskom-baskom kosong. Memenuhi pelataran dengannya. Lalu menunggu dalam hening. Namun air tak jua menitik dari langit.

Sudah hampir setengah tahun, tanah kami tak diguyur hujan. Bak-bak penyimpan air sudah mengering. Sumur-sumur kerontang lantaran dipompa siang dan malam. Di jalan, orang-orang berlalu lalang dengan jirigen air di tangan. Di mana sumur berair, di situlah kami berkumpul. Berbagi cerita sembari menunggu giliran mengambil air.

“Kapan hujan kan datang?” Hanya itu yang memenuhi ruang bual kami.

Atau, beberapa hari ini, tentang langit yang bergemuruh. Tapi rintik air tak jua turun.

“Sepertinya di luar hujan,” kataku lagi.

Aku mendengar atap seng kami bergemeletuk. Juga daun-daun yang bergoyang dihembus angin.

“Biarlah. Tidur saja,” balasnya.

Sudah hampir sebulan kami tak mandi. Air yang kami dapat, hanya cukup untuk minum dan makan. Keringat membanjir setiap kami tidur. Aroma khas menyelimuti ruang penciuman kami.

Kipas angin menjadi penyelamat. Dari hawa panas yang menyengat. Pun dari harum wangi ketiak berkeringat. Tak pernah sedetik pun kipas angin ini berhenti berputar. Karena kami takut, ketika berhenti, ia tak akan berputar lagi.

Tapi malam ini aku harus mematikannya. Aku ingin memastikan pendengaranku. Tentang rintik hujan di atap rumah kami. Tentu kami akan bahagia sekali.

Maka kutekan tombol di angka 0. Baling-baling biru itu segera berhenti berputar. Hening. Bunyi rintik itu menghilang. Desau angin menghempas dedauan pun tiada. Senyap.

“Hei. Nyalakan lagi kipasnya,” katanya.

Kutekan tombol di angka 1. Baling-baling itu tak mau berputar. Dua, pun demikian. Tiga, apalagi.

“Kita hujan-hujanan saja malam ini. Hujan keringat,” jawabku.

wenny c. prihandina

Written by

pelupa | menulis untuk merawat ingatan

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade