Mbak Wenny & Partner(s)

Sabtu, 4 Desember kemarin akan saya nobatkan sebagai Hari Pertemanan Wenny Cahyasari Prihandina. Hahaha.

Kenapa? Karena di hari itu saya bertemu dengan banyak sekali teman. 
 
 Rencana awal, hanya ada dua kegiatan di agenda saya hari itu: seleksi surat dan kondangan. Tapi, pagi-pagi pukul 07.00 ponsel berbunyi. 
 
 “Kami mau ke pantai bale-bale, mau ikut tak?”
 
 Wah, kenapa tidak? Di pikiran saya saat itu, Pantai Bale-bale tak ubahnya Pantai Nongsa. Hamparan pasir di tepi laut. Mungkin tak akan lama di sana.
 
 Saya melajukan sepeda motor ke Cik Mamad, sarapan pagi. Di sana sudah menunggu Kak Meri, Kak Nesya, Kak Novi, Ririn, dan Siti — perempuan-perempuan petualang. 
 
 Saya memesan mi rebus kuah kacang dan air putih hangat. Setelah mengobrol sebentar, kami langsung cuss ke Pantai Bale-bale. Perjalanan tidak lama karena dekat.
 
 Pantai Bale-bale berlokasi di dalam Kampung Tua Bakauserip. Rupanya ini pantai rakyat yang didandani sebagai destinasi wisata.
 
 Seperti namanya, ada bale-bale yang dipasang di atas pohon-pohon bakau. Cocok sekali untuk foto-foto. Banyak spot foto, kata Kak Nesya.
 
 Di hamparan tanahnya, pengelola membubuhkan aneka permainan ketangkasan. Seperti area outbond. Ada titian tali, ayunan, flying fox, dan panahan. Paint ball juga ada, tapi hanya di hari Minggu. 
 
 Segala kesenangan itu membuat saya lupa. Apalagi setelah tas digeletakkan di satu bale-bale di tepi pantai dan ikut membuat mannequin challenge di bale-bale pohon bakau. Belasan sambungan telepon hanya membekas sebagai misscall.
 
 Dan saya tersadarkan saat mendengar teriakan mommy dari ponsel — saat saya sudah mengangkatnya. “Lo dimana wenceu?! Ditungguin tuh sama Shinta, Tika!”
 
 Saya melihat jam dan argh! pukul 11.30 wib?! Pantas Mommy mencak-mencak. Rencana saya, pukul 09.00 wib saya sudah meluncur ke kota. Lalu, ini hampir pukul 12.00 wib saya masih di Nongsa. 
 
 Dan, saya masih tidak bisa bergerak sampai sekitar satu jam ke depan. Sebab kami sedang memesan makanan. Saya juga tak tega merusak kebahagiaan mereka. Hmm… Raut mereka sejenak berubah karena harus menyimpan foto-foto dan mengunggahnya ke medsos dengan hashtag #latepost
 
“Mending kamu jujur aja sih. Biar kita enak masih tetap bisa posting foto,” kata Kak Meri. saya niatnya juga gitu.
 
 Benar saja. Kami baru meninggalkan lokasi itu pukul 12.30 wib-an. Cepat-cepat saya memacu sepeda motor ke rumah. Mandi dan bersiap-siap pergi. Kak Meri ikut serta. Dia baik sekali.
 
 Tak kurang setengah jam, kami sudah berkendara lagi ke kota — menuju media centre. Di sana, sudah menunggu Mommy, Mona, Asrul, Kak Tika, dan Aloi. Muka mereka ditekuk menghadap komputer. Ha! Nyali langsung ciut.
 
 Sebelumnya, di simpang lampu merah menuju media centre, saya sempat mengetikkan pesan: pesan pizza gih. nanti aku yang bayar. 
 
 Ceritanya mau ‘nyogok’ biar pada nggak marah. Dan Kak Tika membalas, “udah pada makan semua, ceu. mommy tadi bawa makanan.” Hati saya runtuh membacanya. 
 
 Jadi saya langsung meminta maaf pada semua yang hadir. Dan sok tegar menahan perut yang keroncongan. Kak Meri sepertinya juga seperti itu. Dia sempat bilang ketika kami sampai di depan pintu media centre, “Kita belum makan siang lho, Wen.” Saya terpaksa mengabaikannya. 
 
 Saya buka map dan mengeluarkan surat-surat itu. Lalu mengajak mereka mendekat untuk menyeleksi surat-surat. Berdiskusi tentang teknis penjurian. Kak Ibi, Margaretha, dan Dewi datang. Suasana sedikit mencair karena berfoto dan mannequin challenge lagi. Hwah. alhamdulillah.
 
 Pelan-pelan, saya masih menawarkan pizza. Mereka masih diam. Ada juga yang mau. Akhirnya kami memesan pizza.
 
 Tetiba rombongan para jupri — jurnalis pria memasuki media centre. Beruntung kami, jupe — jurnalis perempuan sudah mem-book ruang rapat media centre. Kami berkutat di dalam situ. Sesekali, jupri-jupri itu melongokkan kepala ke dalam ruang rapat sambil bertanya, “lagi ngapain sih?” atau “Meri sehat?” Dalam hati saya berkata, “Aduh, kalau pizzanya datang bagaimana? jelas gak cukup nih.”
 
Hahaha. Memang benar tak cukup! Ketika karyawan delivery datang, jupri sudah menyerbu. Terpaksa saya harus menyelamatkannya dengan membawanya masuk ruang rapat. Giliran ruang rapat yang diserbu. Oh, untung semua dewan juri kebagian. Alhamdulillah.
 
 Di sela keriuhan itulah, Kak Shinta datang. Ia satu-satunya orang yang bertanya ‘saya kemana’. “Wenceu ni otw-otw. otw terus masa nggak sampai-sampai. kamu kemana sih?”
 
“Aku ke pantai bale-bale, kak,” sahutku lirih.
 
 Dan dia hanya menanggapi dengan ‘oh’ saja. Ahh.. lega…
 
 Proses seleksi berlangsung sampai pukul 16.00 WIB. Sengaja dituntaskan, biar agenda selanjutnya bisa berjalan cepat. Tapi agenda saya belum selesai. Masih ada satu agenda lagi: kondangan.
 
 Rencananya, saya akan pergi kondangan bersama mommy. Tapi karena dia harus ‘ganti shift’ dengan suami, ia pulang dulu ke rumah. Saya bingung. Di undangan itu ditulis “Mbak wenny & partner”. Mereka tertawa mendengarnya. Saya senang mereka tertawa.
 
 Saya menawarkan ke teman-teman siapa yang mau menemani saya. Tidak ada yang mau. Lalu saya memaksa dan memohon untuk menemani. dan mereka mau! Bahkan Kak Meri yang hanya berkaus dan celana pendek mau menemani. Ah, baiknya dia.
 
 “Aku lagi lapar soalnya,” katanya. 
 
 Apapunlah, kak. Terimakasih. 
 
 Saya berangkat kondangan bersama Kak Meri, Kak Ibi, Dewi, dan Margaretha. Ini jadinya “Mbak Wenny & partners” nih.
 
 Saya bahagia. I dont have any partner yet, but I do have a lot of friends. #(its)alhamdulillah. #semestinyabersyukur
 
 NB: di akhir hari, saya menulis sebuah pesan di grup temporary: “sudah aman kalau mau posting foto di medsos.”

Like what you read? Give wenny c. prihandina a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.