Perdana Menggunakan BPJS Kesehatan

Setelah tak kunjung mendapatkan kesembuhan, saya memutuskan untuk serius berobat. usia batuk ini mungkin sudah lebih dari dua bulan. sudah tiga klinik saya datangi. tiga kali itu juga mendapatkan obat dari jenis yang sama meski dengan merek berbeda. dan mencarinya pun kadang kala tidak mudah.

periksain lagilah itu batuknya. takut kenapa-kenapa.

Bapak yang baru saja menjalani general check up langsung merepet mendengar deham batuk saya yang tak kunjung reda ketika berbincang di telepon. sudah berapa kali beliau menyuruh anaknya ini berobat. well, saya berobat kok. batuknya saja yang tak mau beranjak pergi. itu pasti karena angin malam, kata beliau.

Saya tidak terlalu yakin batuk ini karena angin malam. meskipun saya juga tidak menafikkan, saya selalu pulang malam. dada hanya tertutup jaket tipis. padahal perjalanan yang ditempuh lebih dari 10 kilometer.

Sejak awal pengobatan, dokter menyampaikan keharusan cek dahak. karena usia batuk sudah lama. waktu itu sudah dua minggu.

tapi karena paru-paru kamu bersih, kayaknya tidak ada masalah di paru-paru. kita coba obati saja.

saya mendapatkan sejumlah resep obat. semuanya harus ditebus di apotek di luar klinik. dan demi mendapatkan satu jenis obat, saya harus menyambangi hingga empat apotek.

obat itu obat keras. tidak bisa sembarangan diperjual-belikan. dan ketika akhirnya saya mendapatkannya, dosis yang disampaikan apoteker ternyata hanya separuh dari yang disampaikan dokter —saya baru mengetahuinya ketika berkonsultasi dengan dokter di klinik kedua. seharusnya, saya bisa mendapatkan dosis utuh. mungkin itu penyebab batuk saya tak kunjung usai.

di klinik kedua, dokter yakin, tidak ada masalah di paru-paru. mungkin radang. obat yang diberikan sama. saya bosan.

seminggu berselang, obat habis tapi batuk masih ada. saya kembali, ia memberi obat keras. kali ini dosis dipantau dan harus dihabiskan. hmmm… sampai tak bersisa pun, batuk itu masih ada. saya mulai malas. mungkin batuk ini memang susah move on.

alih-alih kembali memeriksakan diri, saya menyudahi perlawanan. menyerah pada keadaan. kalau batuk, batuklah. kalau sembuh, alhamdulillah.

makan-minum tak lagi terjaga. minum dingin ayo. makan gorengan pun sampai tiga biji. ya, batuknya makin menjadi.

sudahlah, tak perlu berobat lagi. kamu kan kuat. nanti pasti hilang sendiri tuh.

sindiran itu akhirnya menjadi anjuran ke-sekian untuk memeriksakan diri kembali ke dokter.

batukmu sudah terlalu lama. takutnya ada apa-apa.

Saya langsung memutuskan untuk melakukan cek dahak. katanya, bisa di puskesmas. itu jika menggunakan kartu BPJS Kesehatan.

Saya memutuskan menggunakan BPJS Kesehatan untuk pengobatan kali ini. sebab, ada kekhawatiran biaya membengkak jika ternyata saya mengidap penyakit lain: tubercullosis. kata itu bermain-main di benak saya. Grrrrr…

saya datang dengan semangat 45 ke Puskesmas di kecamatan saya. sudah saya kumpulkan dahak di tiga wadah. siapa tahu bisa langsung diperiksa.

saya sudah mengajukan izin berobat ke kantor —kalau-kalau waktu pemeriksaan berlangsung lama. isu lamanya waktu yang dihabiskan para pengguna BPJS Kesehatan membuat saya bersiap-siap.

Saya datang ke Puskesmas —setelah sebelumnya tersesat ke Kantor Kelurahan dengan wajah polos. mencoba mencari-cari konter pendaftaran. Jeglek… ada peraturan baru, pengguna BPJS Kesehatan harus melampirkan salinan kartu BPJS saat mendaftar. hmmm… harus cari tukang fotokopi.

Sampai di loket pendaftaran kembali —setelah pergi ke tukang fotokopi, saya ternyata tak bisa dilayani. saya baru ingat, Fasilitas Kesehatan 1 saya bukan di puskesmas itu. tetapi di sebuah klinik di perumahan yang cukup jauh dari rumah saya.

Kalau mau tetap berobat di sini, mbak urus dulu kartu pindahnya.

Lah… ini dah mau berobat harus urus kartu pindah dulu ke kantor BPJS Kesehatan yang letaknya di pusat kota. kapan berobatnya?

Atau bisa di sini, tapi bayar.

Hmmm…

saya menarik kartu itu. lalu bilang ke petugas untuk periksa di klinik faskes pertama saya saja.

hari sudah menjelang siang saat saya tiba di klinik faskes pratama saya. banyak orang mengantri. sepertinya lama lagi baru dipanggil. benar saja, setelah satu jam menunggu, saya baru dapat periksa.

tidak ada pemeriksaan yang dilakukan. ini seperti konsultasi saja. saya ingin langsung cek dahak. dokter menolak. prosedur pengobatan dengan BPJS Kesehatan tak memungkinkan untuk itu.

saya harus menjalani pengobatan di klinik itu setidaknya selama satu kali. kalau sudah tidak sembuh, baru dirujuk. cek dahak itu dilakukan di rumah sakit. sekalian rontgen.

kami di sini tahu mbak sudah tiga kali periksa di klinik, tapi kalau nanti diaudit, mereka tidak akan percaya kalau kami bilang mbak sudah berobat tiga kali. karena berobatnya bukan di sini.

glek. baiklah. i’m in.

saya mendapat obat yang sama. harus dihabiskan selama tiga hari. kalau batuknya masih ada, langsung kembali. supaya bisa diterbitkan surat rujukan.

seperti yang sudah saya sangkakan, saya kembali ke klinik itu di hari keempat. obat sudah habis tapi batuk masih ada.

saya ditanya, mau ke rumah sakit mana? saya jawab ke RS A. dokter itu bergeming.

kalau dari klinik itu, pertama dirujuknya ke rumah sakit tipe C. ini kan tidak terlalu kronis, tidak perlu langsung ke rumah sakit besar.

hiyyaaaa.. kenapa dia harus menanyakan pilihan rumah sakit kalau toh dia sudah memiliki pilihan yang mau tak mau harus saya iyakan?

saya diberi tiga pilihan RS tipe C. Saya memilih RS C yang berada tak jauh dari klinik saya ini. Pertimbangannya, RS itu juga tak jauh dari tempat kerja saya.

saya dibekali surat rujukan dengan pesan minta cek dahak atau rontgen. saya menyanggupi. saya langsung tancap gas. tak ingin buang waktu lama. meskipun saya sudah minta izin lagi untuk berobat.

di RS C itu, bukan cuma saya yang sakit. tapi banyak sekali orang sakit di sana. dan mungkin kondisi itulah yang membuat para petugas sibuk bukan main. sampai-sampai menjawab pertanyaan pun hanya sekilas lalu.

saya pergi ke meja pendaftaran, menyampaikan ingin periksa. tapi dengan rujukan.

mbak ambil saja nomor antrian di sana.

telunjuknya itu entah mengarah ke mana. hingga kemudian, setelah celingak-celinguk mencari, mata saya tertumbuk pada setumpuk nomor urut. saya mengambil satu. lalu duduk di kursi tunggu.

belum satu menit duduk, ada yang mencolek di belakang. seorang ibu.

mbak sudah ambil nomor antri juga ya? terus nomor ini diapakan mbak?

ditunggu saja bu, nanti dipanggil. begitu katanya, jawabku.

tapi mbak kok tidak bawa apa-apa?

saya menengok kertas di tangannya. berlembar-lembar, wai! sementara saya hanya selembar saja. ibu ini dapat darimana kertas sebanyak itu? jangan-jangan harus ada yang dilalui dulu sebelum pendaftaran.

khawatir menjalani proses yang salah dan hanya akan membuang-buang waktu saja, saya pergi ke loket bertuliskan BPJS Kesehatan. bertanya apa yang harus saya lakukan. kali ini petugasnya lebih ramah. ia meminta saya menunggu nomor antrian dipanggil.

tiga puluh menit berlalu, nomor saya dipanggil. sebelum petugas itu menerima rujukan saya, dia terlebih dahulu menerima rujukan dari orang yang baru saja datang. tanpa nomor antrian! dia main letak rujukan itu di meja petugas. dan petugas itu langsung mengurusnya. ih, enak betul!

ketika tiba ia membaca rujukan saya, ia langsung berkata tidak bisa tanpa memandang saya. tidak bisa kenapa ya, bu? tanyaku. alih-alih menjawab, ia mengambil kertas di binder di meja di belakang kepalanya.

embak kembali saja ke klinik, kasih ini ke petugas klinik. mereka tahu kok harus ngapain.

glek. kertas itu berisi gambar silsilah. tapi tidak teratur. saya pikir ini alur pengobatan.

kenapa dia tidak langsung menjelaskan ke saya saja sih alur itu? kenapa saya harus kembali ke klinik dan mendapatkan penjelasan itu dari petugas klinik yang ternyata sudah salah merujukkan saya ke rumah sakit itu?

saya bangkit berdiri. sebelum saya pergi, ibu petugas itu menegur saya dengan mata yang hanya melirik sesaat.

kalau batuk itu ditutup. pakai masker, mbak.

hish. malas kali laaah.

saya memutuskan kembali ke klinik karena penasaran. bukannya dekat jarak klinik ke RS C itu. ini sama seperti jarak rumah ke kantor.

klinik itu sudah sepi. ketika melihat saya kembali, petugas front office menatap heran. saya jelaskan duduk perkaranya sambil menyerahkan kertas tadi. tiga petugas langsung mengerubungi.

oh, harus ke laboratorium dulu ini.

mereka baru tahu? OH, GUSTI!!! dan yang memberitahu adalah si pasien, orang yang sedang sakit. saya sebenarnya sudah menyiapkan banyak kalimat jawaban jika si petugas klinik ngotot meminta saya kembali ke RS C. lha memangnya saya messenger?

tapi si petugas tak meminta saya kembali ke RS C melainkan ke puskesmas di dalam wilayah klinik itu. minta cek dahak saja. karena klinik itu memang tak memiliki laboratorium.

nanti kalau disuruh bayar, bayar saja ya mbak. tapi nggak mahal kok mbak.

yaiyalah saya harus bayar. kan puskesmas itu bukan faskes pertama saya. saya hanya dibekali formulir rujukan tanpa tanda tangan dan nama klinik faskes pertama saya. puskesmas bingung tapi tetap menerima saya. untunglah. saya diminta membayar Rp 5.000 sebagai uang pendaftaran.

saya tidak bisa langsung cek dahak hari itu. saya kemudian diberi dua toples plastik kecil untuk menampung dahak pagi dan sebelum berangkat. toples itu kemudian disetorkan keesokan harinya.

saya menuruti. saya datang lumayan pagi untuk mengantar dahak. ternyata hasilnya tak bisa ditunggu. dan karena keesokan hari adalah akhir pekan —puskesmas libur, saya kembali dua hari kemudian.

hasilnya, alhamdulillah, negatif Tb. jadi apa dong?

bisa jadi karena alergi mbak.

petugas puskesmas itu mencoret-coret formulir rujukan yang pernah saya bawa. katanya, formulir itu harus diserahkan lagi ke klinik.

saya memilih tidak menyerahkannya. karena saya juga sedang meminum obat batuk baru lagi hasil resep dari klinik kedua tempat saya pernah berobat. saya sempat menyambangi klinik itu di malam ketika saya di-’oper-oper' petugas klinik faskes pertama saya. dokter itu bilang, sepertinya saya alergi. entah mengapa dokter itu tidak menyinggung penyakit Tb.

saya resepkan obat baru lagi ya. mungkin yang kemarin tidak dihabiskan karena obatnya bikin ngantuk.

laaaaah… yang minum obatnya kan saya. wong obatnya dihabiskan kok. cuma batuknya aja ni yang nggak sembuh-sembuh. sengene-ngene dokter itu.

tapi sengene-ngene apapun dokter itu, dia tetap lebih tahu tentang dunia pengobatan.

saya manut, dok. obat dari Anda sedang saya coba habiskan. setidaknya saya sudah berusaha mengobati diri saya sebisanya. selanjutnya, lillahhita’ala.

sekian.

Like what you read? Give wenny c. prihandina a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.