salon assem

Mungkin benar saya pembangkang. sudah tahu servisnya jelek tapi tetap didatangi lagi. hasilnya, seperti yang pernah saya rasakan: buruk. dan saya pun berujung pada misuh-misuh dalam hati. fffiuh.


Ini cerita tentang sebuah salon. Salon ini salon yang pertama kali saya sambangi di Batam. saya mencoba creambath. hasilnya, bolehlah.

saya pun menjadikan salon ini salon andalan. pertama, harganya ramah buat kantong. dan kedua, sangat tertutup untuk kaum adam.

lantaran sudah merasakan enaknya, saya rekomendasikan salon ini ke teman-teman. ada yang mencoba. ada juga yang tidak. saya juga pernah mengambilnya jadi bahan liputan.

lambat laun, salon itu ramai. setiap kali hendak booking, pasti penuh. bahkan sudah datang paling pagi, pukul 10.00 WIB. mereka bilang, lebih baik booking lewat telepon.

karena waktu kerja yang tak pasti, saya tak bisa memastikan waktu ke sana. kalau memang lagi senggang, ya spontan saja ke sana.

hingga kemudian, suatu hari, karena badan sudah begitu letihnya, saya nekat menelepon untuk pesan tempat. waktu itu pukul 17.00 WIB. mereka tutup pukul 19.00 WIB. saya janji datang paling lama pukul 18.00 WIB. satu jam pijat, cukuplah itu.

Sesampainya di sana, saya disambut muka masam si penjaga salon. saya bilang, saya yang tadi nelepon. mbak penjaga salon itu langsung nembak, ‘cuma pijat aja kan mbak?’

saya mengiyakan. dia bilang, ‘soalnya kami sudah mau tutup.’

hmmmm.. begini ya menghadapi tamu?

saya langsung diminta bersiap-siap. apa yang saya dapat? pijat seadanya yang berhenti pada pukul 19.00 WIB kurang. padahal, pijat itu sudah dimulai lebih dari pukul 18.00 WIB. karena ada acara ngobrol-ngobrol tadi.

ah, capek badan bukannya hilang malah nambah. gara-gara sakit hati pada pelayanan yang tak pakai hati.


mungkin saya seorang permisif akut, yang mudah memberikan kesempatan baru bagi seseorang untuk mencoba memperbaiki kesalahannya. saya mencoba pijat lagi. dengan harapan, hasilnya bakal lebih menyenangkan.

sebab kali ini, mbaknya beda. pijatan di tangan kiri saya ketika melakukan hair spa begitu enak.

tapi ketika saya bilang saya mau pijat, di saat dia hendak memijat tangan kanan saya, harapan saya pupus sudah. sebab, mbak itu langsung menyelesaikan pijatan tangan kanan saya hanya dalam beberapa kali sentuh. asem!

dan tibalah saat pijat. waaaak! mulai pukul 11.37 WIB selesai pukul 12.00 WIB. padahal, tarifnya untuk satu jam.

‘mbak sudah selesai mbak,’ katanya membangunkan saya.

lah, saya baru aja merem kok sudah selesai??!

‘mbak ketiduran tadi,’ tambahnya.

masa sudah sebegitu lamanya? ‘tangan saya belum ya mbak?’ jawabku

‘sudah mbak,’ balasnya.

lalu dia pamit keluar mengambil handuk. ketika dia pergi saya melihat jam di hape. lalu pindah ke jam di dinding. pukul 12.00 WIB! ASSSEM!

bahkan badan saya tak merasakan perubahan apa-apa. punggung masih kencang. Pinggang juga sama. kakipun terasa masih berat.

lahh. sia-sia!

mau protes nanti dibilang cerewet. cukup tahu sajalah. bahwa pijatan di salon ini tak pernah menyenangkan hati. mungkin karena harganya yang ‘terjangkau’.

kegondokan itu makin menjadi saat tiba waktu membayar. mbak kasir tak tahu cara pakai mesin gesek. dia panggil temannya. temannya yang bermuka masam itupun tak tahu. tapi dia sudah terlanjur mencoba. gagal.

saya keluarkan kartu yang lain. ternyata tak bisa juga. lalu dengan entengnya dia berlalu.

mbak kasir memanggil temannya yang lain. temannya ini lebih jago sepertinya. dan dia memiliki wajah yang lebih murah senyum. dia mengutak-atik mesin itu sebelumnya. lalu keluar secarik kertas.

‘ini transaksi kemarin mbak,’ katanya sambil menyingkirkan kertas itu.

ia lalu menggesek dengan kartu yang lain. dua kertas keluar. satu untuk mereka. satu untuk saya. akhirnya, selesai sudah.


sebenarnya, salon itu tak sepenuhnya assem. perawatan kepala dan waxing-nya oke punya.

dan konon, perawatan wajahnya juga membuat pelanggan rela mengantri. mereka menggunakan produk perawatan kecantikan yang sedang digandrungi.

pelanggannya datang dan pergi. tapi mengapa pelayanannya tak sepenuh hati? setidaknya beri senyum dan sapaan ketika pintu itu terbuka.

sebab ketika saya datang kemarin, saya tak tahu harus berkata apa. mbak penjaga kasir hanya duduk di balik meja kasir yang sangat tinggi. hanya wajah yang nampak. mata itu menatap heran saja tanpa keluar suara dari mulutnya. saya bingung. tapi kan saya yang jadi tamu. baiklah saya yang memulai.

nyatanya, bukan hanya saya yang merasakan iritnya senyum mbak-mbak salon itu. saudara saya juga merasakannya. ketiadaan sumber daya manusia menjadi masalah di usaha-usaha yang menjual jasa seperti salon. hingga akhirnya, yang dipakai juga itu-itu saja. mau pelayanan yang diberikan bagus atau tidak, ya harus mau. atau salon itu akan kekurangan karyawan. hmmmmm…

senyum itu ya begini