Refleksi #1
Barangkali saya adalah satu satunya manusia yang menyesali keputusan saya untuk terlalu akrab dengan membaca. Ah betapa naif nya saya menyesali sebuah anugerah langka itu. Bagi sebagian besar orang, memiliki minat baca saja merupakan sebuah berkah. Alih-alih bersyukur, saya malah menyesal. Tapi, bukankah hampir seluruh umat manusia pasti pernah menyesal ?. Bagi saya, membaca memang merupakan suatu aktivitas yang mencerahkan. Berdasarkan nilai-nilai umum di masyarakat, membaca adalah kunci kita meraih kesuksesan. Kesuksesan disini, saya definisikan secara reflektif melalui pengalaman pribadi saya yaitu kesuksesan secara material yang dicapai dan diekspresikan melalui aktivitas kerja kita terutama sebagai bagian dari sekrup-sekrup industri alias menjadi budak korporasi. Singkatnya, kita didorong untuk membaca supaya menjadi pintar dan dipersiapkan untuk mereproduksi dan mempertahankan keberlangsungan sistem produksi kapitalistik dan tentu saja untuk mendorong kreativitas dan inovasi yang merupakan nafas bagi keberlangsungan sistem ini. Disinilah terletak sisi paradoksial aktivitas membaca. Berdasarkan refleksi saya, aktivitas membaca malah membuat saya merasa teralienasi. Membaca berhasil menyingkap apa yang oleh Louis Althusser disebut sebagai kesadaran palsu atau dalam pembacaan Gramsci disebut sebagai Hegemoni. Artinya, membaca telah menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman kritis atas realitas yang terjadi di sekitar kita. Lalu, bukankah itu merupakan suatu hal yang baik apabila kita sadar akan terjadinya opresi ? Mungkin bagi sebagian besar orang, tercerahkan adalah sebuah anugerah, namun pembacaan saya atas hal ini berbeda. Bagi saya kesadaran atas adanya opresi, kesadaran atas kedigdayaan suatu sistem, kesadaran atas dominasi suatu kelas sosial dan disisi lain ketidakberdayaan kita untuk melawan malah membuat rasa penindasan dan opresi itu semakin terasa. Ibarat kita mengetahui kalau kita menderita penyakit parah, semaakin kita mengetahui akibat-akibat dari sakit itu, maka penderitaan kita akan semakin perih. Pengalaman dan gejolak batin yang saya alami tentu tidak dialami oleh setiap orang. Orang-orang dengan pengalaman hidup getir yang otentik, tentu sekuat tenaga berusaha lepas dari ketidakadilan dan penindasan yang dideritanya. Namun, lagi-lagi ada suatu ketidakberdayaan untuk melawan. Membaca pada akhirnya hanyalah suatu perlawanan yang membuat saya berhasil menyingkap tabir penindasan, memahami bagaimana pola penindasan ini terus direproduksi. Di luar itu, saya hanyalah seonggok manusia yang tidak berdaya,, yang semakin lama merasa semakin teralienasi oleh tumbuhnya idealisme dan gejolak perlawanan dalam diri saya yang menolak untuk dijadikan sekrup-sekrup industri dan menyaksikan segala bentuk absurditas, irasionalitas, dan abnormalitas kehidupan .�W��i