P e n a n g s a n g — Monolog Whani Darmawan

ADZAN MAHGRIB MENGIRINGI LAMPU PANGGUNG YANG MENYALA PERLAHAN, MEMPERLIHATKAN SEBUAH RUANG MAKAN. PADA SUAPAN TERAKHIR PENANGSANG BERHENTI SEJENAK MEMANDANG KEJAUHAN, KEMUDIAN MEMINUM AIR PUTIH LANGSUNG DARI MULUT KENDI, KEMUDIAN BERSENDAWA KERAS SEKALI.

(PELAN) Ngamdulilah hirobill alamin. JEDA. SENDAWA KEMBALI DENGAN KERAS. JEDA

Semoga setelah semua kesalahan dalam peristiwa rajah, akan tertebus dengan puasaku ini. JEDA.

Sekarang aku tahu, bahwa aku tak dapat lari dari kekuasaan. Seseorang penuh kuasa adalah keharusan. Bukan keharusan dari diri, melainkan keharusan orang lain, atau yang lebih masuk akal lagi, keharusan peristiwa. Dan inilah kisahku, kisah yang tak dapat kuelakkan, sebagai sebuah tujuman pada hidupku. Dan sekarang aku bisa memahami kata Guru Kudus bahwa kehendak jadi merdeka dimulai sejak membuka mata dan bertemu orang lain. Bisakah kita mengatakan tidak terhadap segala sesuatu yang tidak setuju? Basa-basi dan rasa rikuh adalah petaka bagi kemerdekaan. Dan kebebasan adalah simalakama yang memasygulkan. Meski Sunan Kudus tak pernah mengatakan ‘sembahlah aku,’ tetapi pada kenyataannya begitu, sama dengan kebanyakan orang. Dan seorang raja disembah karena peristiwanya ia harus disembah. Begitu saja. Tak ada yang lain. Tak usah dimasalahkan.

Bagaimana dengan kematian Ayahnda Kikin? Apakah itu keharusan peristiwa? Peristiwa siapa? Nah, di sini aku terpaksa mengkhianati pandanganku sendiri bahwa seseorang menjadi raja bukan keharus peristiwa, tetapi karena ia harus merebut haknya! Juga mengantarkan hak untuk mati. Karenanya (JEDA) aku tak dapat lari dari kekuasaan dan dendam. Dan menjadi merdeka adalah pintu yang membuka untuk kemungkinan apa saja. Selamat datang pertarungan!

Sudah lama saya menghindarkan diri dari cara berpikir rumit. Mukmin telah membunuh ayahnda, atas prakarsa Paman Trenggono. Aku tak perlu tahu sejarah eyang Pate Unus. Cukuplah di sini saja. Mukmin membunuh Ayahnda. Itu saja. Mengapa saya musti terlibat dalam sejarah gelap yang aku sendiri belum tentu bisa menguak keterangannya? Dasar kebo dungkul! (JEDA) Tetapi sungguh, kekuasaan adalah wajah dusta yang lembut hati. Hampir seperempat abad berlalu sepeninggal Ayahnda Kikin hingga kuutusnya Rangkud mati sampyuh bersama korban bernama Trenggana, menantunya naik tahta menggantikan eyang pesakitan Trenggana, seperti tak pernah ada apapun. Tak pernah ada badai, tak pernah ada hujan, tak pernah ada petir, semua angin diciptakan sepoi-sepoi, bahkan sampai pada titik ketidakterimaan bibi Kalinyamat, terbunuhnya paman Hadari, hingga ke empat utusanku gagal menghabisi wong ndeso sa so sa soo bernamaTingkir yang telah lama jadi kere munggah bale dan bahkan ke empat utusanku dipulangkan dengan anugerah pakaian kaprajuritan! Setan alas, demit thathit, kebo dungkul! Bangsat keparat!

KINI IA BERDIRI. TUBUHNYA PEJAL, PERUT BUNCIT, AGAK PENDEK, NAMUN BEROTOT, TAPI DAYA PADA WAJAHNYA LUAR BIASA.

Basa-basi inilah yang sangat aku benci! Dengan muka berseri dan senyum menebar seolah tak pernah ada badai atau apapun, Hadiwijaya datang ke rumah ini setelah sebelumnya membuat janji kepada Guru Kudus. Kebo dungkul! Bagiku keramahannya ini justru menjadi pertanda bahwa ia ingin menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Untung saja Guru Kudus mendampingiku. Di tengah permainan wayang antara kecantikan Sri Krishna dan Sahadewa, aku tidak betah. Betapa bisa mereka berdua berbicara soal-soal yang penuh bau darah dengan senyum, tawa dan canda? Sungguh mengherankan! Aku bukan orang yang berbakat untuk itu! Ingin sekali aku menggorok lehernya hingga putus saat itu juga, tapi Guru Kudus berulangkali menginjak kakiku di bawah meja, bahkan dengan kerasnya.

JEDA. PENANGSANG BERJALAN HILIR MUDIK. MENGAMBIL SIRIH PINANG, MERACIKNYA DAN MENGUNYAHNYA. DIAM. MEMANDANG KEJAUHAN SAMBIL MENGUNYAH SIRIH. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN MELUDAHKANNYA.

Di setiap mulut kekuasaan selalu saja ada teri-teri yang merubungnya, mencari remah berbau darah. Dan kalau perlu menjilati dubur hingga sampai kremi-kreminya. Dan pada saat itulah keberpihakan dimulai. Atau, sesungguhnya banyak orang tak ada urusan dengan urusan kami dan terjebak dalam kesepakatan yang tak mereka ketahui. Bahwa membicarakan pihak musuh sama juga dengan mendudukkan diri di pihak lawan lainnya. Kekuasaan telah mencetak manusia-manusia berkepribadian rendah dan dungu, sedungu kebo dungkul! Paman Hadari memang harus tewas karena keharusan peristiwa karena ia menduduki peran. Bibi Kalinyamat cuma perempuan lembeng, sok bela hak diri untuk memba-memba jadi lelaki! Yang lainnya apa? (TIBA-TIBA MELEDAK) Yang laiiinnya apaaa!!? Sudahlah! Kalian teri-teri nasi cukup bilang kalau kalian takut kehilangan padi sekati, beras segantang, perdikan, rojo koyo dan thethek bengek untalan lainnya! Kenapa kalian ikut-ikutan menggunjingkan Penangsang dalam posisi yang rendah! Apa hak kalian menghujatku sebagai seorang pembunuh! Bangsat kebo dungkul! Kekuasaan adalah kambing congek sialan! Kenapa Penangsang dikeroyok? Kenapa kalian mengeroyokku dan menjadikanku kembang lambe hingga ke jalan-jalan dekil para kere!!?? Maka aku berhak menciptakan peristiwaku! Sangkamu aku takut menjadi merdeka!!? Sangkamu aku takut menjadi penentu bagi hidupku sendirii!!? Maka bukan kekuasaan yang ingin kuraih! Gigi ganti gigi, nyawa bayar nyawa! Aku cuma menuntut balas kematian Ayahandaku! Aku Cuma mengambil wajib dan menempuh hakkuu!! (MENGARAH KELUAR) Maaattaaahhuuuuuunnnn!! Jangan takut mengabdi pada Penangsang, Mataaahhuuunnn!!Jangan takut menjadi renta, kemuliaanmu ditentukan di ujung kerismu sendiri! Kerismu itu yang menentukan puncak kehormatanmuu, bukan orang lain, bukan kere-kere dekil itu, juga bukan cah ndeso sa so dari desa Tingkir ituuu!!!

TERSENGAL-SENGAL DAN MENGATUR NAPASNYA, DARI KEJAUHAN TERDENGAR ADZAN.

Astagfirullah alhadzim………. mohon ampun kemarahan ini ya Rabbi. Mahgrib belum lagi kujelang, isya sudah menjelang. Dan amarah memimpin dendam. Shubanallah! Baiklah, akan kutebus dalam zikir-zikirku sesaat lagi, tapi demi Allah biar kutuntaskan api yang tersulut ini. (MENGHAMPIRI KOTAK PUSAKA, MENGAMBIL KERIS SETAN KOBER. MEMANDANGINYA DENGAN KHIDMAT)

Menjadi jujur itu seperti menenggak brotowali. Orang menyingkiri dan lupa kesehatan lebih berarti! Empatpuluh hariku akan usai dan aku akan menjadi manusia baru! Hai, Penangsang, jadilah satria pilih tanding! Jangan mundur oleh apapun yang bukan berasal dari Tuhanmu! Demi Allah, menjadi merdeka adalah pintu yang membuka. Dan seorang satria menjadi lebih sederhana bukan karena ia berjaga-jaga, melainkan bersahaja ketika ia tidak takut pada pintu yang selalu terbuka! Tunggu aku, Tingkir!

Omahkebon, Rabu 15 Juni 2016.

http://www.whanidproject.com/category/monolog/

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.