Ibu Hamil yang Berpuasa, Waspadalah.

Jika tidak hati-hati, bisa jadi buah hati Anda akan mengalami dampak jangka panjang

Ibu hamil yang akan berpuasa tahun ini perlu sangat berhati-hati dengan kandungannya, karena beberapa studi akademik menunjukkan ada dampak jangka panjang bagi sang buah hati bila kehamilan “melewati” bulan Ramadhan.

Dalam sebuah artikel yang dimuat di Journal of Health Economics pada tahun 2011, Reyn van Ewijk mengungkapkan hasil penelitiannya mengenai hubungan antara kehamilan yang melewati bulan Ramadhan dan skor kesehatan jangka panjang.

Menurut hasil penelitian ini, orang-orang yang melewati bulan Ramadhan ketika dalam kandungan memiliki skor kesehatan yang lebih rendah ketimbang mereka yang tidak melewati bulan Ramadhan dalam kandungan.

Tabel 1 dari van Ewijk (2011)

Studi ini sangat relevan bagi pembaca di Indonesia, karena data yang digunakan berasal dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 3 yang dilaksanakan pada tahun 2000. Survei ini dilaksanakan pada lebih dari 29.000 orang di hampir seluruh wilayah Indonesia. Studi van Ewijk menggunakan data tanggal lahir dan skor kesehatan yang diukur pada saat survei ini dilakukan.

Bagi mereka yang memahami statistik, lihat kolom 6 sampai 8. Dampak negatif pada skor kesehatan di atas tidak terlihat pada responden yang beragama non-Islam (bagi yang awam, lihat kolom 6–8 juga. Di sana gak ada tanda bintang atau plus di angkanya — itu artinya kalaupun ada dampaknya, hasilnya tidak signifikan).

Untuk lebih meyakinkan Anda, lihat kolom 2 dan 3. Dampak negatif itu masih signifikan pada yang muda (dibawah 45 tahun), meskipun yang tua juga dampaknya lebih tinggi. Jadi hasil ini bukan masalah umur. Hal yang sama untuk masalah jenis kelamin, silakan lihat kolom 4 dan 5.

Perhatikan juga bahwa bayi yang lahir atau dibuahi di bulan Ramadhan tidak terkena dampak yang signifikan (lihat baris 2 dan 6). Jadi dampak ini terlihat untuk bayi yang sudah dalam kandungan ketika bulan Ramadhan tiba.

Dampak jangka panjang dari kehamilan yang melewati bulan Ramadhan juga didokumentasikan dalam studi oleh Almond, Mazumder, dan van Ewijk (2014). Studi ini menunjukkan, rata-rata skor ujian anak-anak Inggris dengan orangtua Muslim Bangladesh pada usia 7 tahun juga terpengaruh negarif bila melewati bulan Ramadhan dalam kandungan, utamanya bila bulan Ramadhan dilewati pada bulan pertama kehamilan (lihat gambar di bawah).

Hasil studi oleh Almond, Mazumder, dan van Ewijk (2014). Perhatikan bahwa skor matematika anak di usia 7 tahun (sumbu Y) anjlok ketika bulan pertama kehamilan melewati keseluruhan bulan Ramadhan.

Tulisan ini bukan rekomendasi agar ibu hamil tidak berpuasa. Dalam kedua studi yang dirujuk dalam tulisan ini, para peneliti mengakui bahwa mereka tidak memiliki data pasti apakah sang ibu betul-betul berpuasa di bulan Ramadhan, atau bagaimana asupan makanannya selama bulan itu. Dengan kata lain, kedua studi akademik ini tidak membahas hubungan langsung antara puasa Ramadhan dengan perkembangan anak. Perhatikan pula, saya berhati-hati menggunakan kata “melewati” sepanjang tulisan ini.

Kedua studi ini harus dibaca sebagai peringatan keras kepada ibu hamil ketika hendak melakukan puasa Ramadhan. Ibu hamil (dan suami/pacarnya, kerabatnya, dan teman-temannya) harus memastikan agar puasa Ramadhan tidak mempengaruhi nutrisi yang diterima bayi dalam kandungan secara signifikan. Bila tidak hati-hati, dampak kesehatan dan akademik jangka panjang mungkin bisa diterima oleh sang buah hati.

Daftar Pustaka

Almond, D., Mazumder, B. and van Ewijk, R. (2015), In Utero Ramadan Exposure and Children’s Academic Performance. Econ J, 125: 1501–1533. doi:10.1111/ecoj.12168

Reyn van Ewijk. (2011), Long-term health effects on the next generation of Ramadan fasting during pregnancy, Journal of Health Economics. https://doi.org/10.1016/j.jhealeco.....