Dimas Revan : Olimpiade Kimia (Bagian 1)

13:20 WIB | SMA N 1 Banyumas | Dimas Revan : Olimpiade Kimia

Pulang sekolah, hal yang sangat Dimas Revan tunggu, hal dimana nada terindah dan termerdu dikumandangkan, itulah, suara bel sekolah. Dimas berjalan penuh semangat ke parkiran motor siswa, padahal sejam sebelumnya Dimas hampir ketiduran di kelas gara-gara mata pelajaran Fisika yang super membosankan baginya. Dimas bergegas, langkahnya cepat, tak peduli sapaan teman-teman yang sering akrab dengannya, Dimas pun mendapatkan motornya, ia lalu menghidupkan mesin dan melaju, yang ia ingat hanyalah komputer, makan siang, lanjut belajar pemprograman, 3 hal yang sudah jadi rutinitasnya sepulang sekolah.

Sesampainya di gerbang sekolah, ia harus menyeberangi lautan murid-murid SMA yang riuh, padat, tidak karuan. Namun ia tetap sabar dan melaju dengan pelan, sampai pada gilirannya menyeberang. Tapi ia terdiam, ia tahu bahwa seharusnya ia berhenti sejenak, di halte depan sekolah, seorang gadis berambut hitam panjang, berkacamata, sinar matahari yang sedang panas-panasnya membuat kulit putihnya semakin terlihat jelas, Dimas selalu memikirkannya ketika ia mulai jenuh dengan pelajaran pemprogramannya di rumah, sebenarnya Dimas tahu dengan detail tentang siapa gadis itu, namun mungkin karena rasa malu yang tinggi, Dimas hanya bisa memandang dari kejauhan, sudah tak diragukan lagi...jantungnya semakin berdebar-debar.

Klakson-klakson dari antrian panjang motor di belakang pun mulai membuyarkan pandangan Dimas ke gadis impiannya itu, Dimas terpaksa harus melaju menyeberang jalan dan langsung menuju ke rumahnya dengan kecepatan tinggi, “Ah...sial...cuma bisa liat mbak meymey sebentar doang” Dimas cemberut, mau bagaimana lagi, sudah nasibnya.

Kopi bagi Dimas itu bukan sekedar minuman pelengkap, tapi sudah seperti minuman wajib yang harus ada saat di depan komputer, biasanya Dimas menghidupkan komputernya sambil makan siang, ketika komputer sudah siap dipakai dan makan siangnya sudah habis, saat itulah kopi mulai diseruput dan waktunya memutuskan apakah hari itu akan belajar pemprograman, desain, atau hanya iseng browsing dan download software. Karena hari itu Dimas agak suntuk gara-gara pelajaran Fisika yang membosankan, ditambah lagi ia tak dapat berlama-lama memandang wajah Mbak Memey yang manis itu, ia memutuskan untuk sekedar browsing saja, melihat pemberitahuan di akun facebooknya, melihat informasi grup SMA-nya, dan yang sedikit menarik perhatiannya, ada poster tentang info seleksi tim olimpiade kimia di sekolahnya, namun karena tiba-tiba terlintas ingatannya tentang Pak Mulya saat menjelaskan materi kimia yang membosankan membuatnya enggan melihat detail informasi yang ada di poster.

Mbak Memey, gadis impian Dimas, dimata Dimas, gadis yang ideal itu hanya ada 1, Mbak Memey. Mungkin ketika ada pertanyaan siapakah orang yang paling menginspirasi di dunia, Dimas pasti jawab “Mbak Memey”.

Sudah bukan rahasia lagi jika akun Facebook bisa meningkatkan kebanggaan seorang remaja pada masa boomingnya sosial media asal Amerika itu. Tak terkecuali dengan Dimas, agar tak dihina teman sekelasnya, dia pun jadi yang pertama yang membuat akun Facebook di kelas, lalu ia pamerkan nama akun facebooknya, yang bisa dibilang agak norak.

Kekaguman dan kecintaan diam-diamnya kepada Mbak Memey itulah yang membuat dia jadi yang paling sering mengunjungi profil Mbak Memey, terkadang meninggalkan satu atau dua komentar di status Mbak Memey, kegiatan yang sebenarnya biasa saja bagi remaja lain, namun bagi Dimas, komen di status Mbak Memey bisa membuatnya senam jantung! Berdebar-debar, menunggu balasan, walau ia tahu komentar yang ia ketikkan di status Mbak Memey bukanlah komentar yang penting.

Pada jam istirahat, Dimas membuka hp-nya, mengaktifkan sambungan internet, membuka browser, mengetikkan alamat akun facebook....kalian pasti bisa menebaknya....Mbak Memey!

Ia lihat ada status terbaru yang ia yakin status Mbak Memey kali ini membuatnya berpeluang untuk lebih dekat dengan Mbak Memey. Status akun facebook Mbak Memey kali ini tidak panjang, namun punya banyak arti bagi Dimas, dan sempat membuatnya bingung.

“Oiiii!! Ngalamun aja Dim...ayo kita makan ke kantin...” teriak Ken sambil menepuk punggung Dimas pelan. Dimas kaget, mukanya bertambah bingung “Du..duluan aja Ken, ntar aku nyusul deh, ehehe” jawab Dimas sekenanya, padahal aslinya Dimas cuma mau di kelas sambil mainan hp. “Yaudah deh...” Ken pergi begitu saja, sudah biasa baginya, memang sudah sering Ken mengajak Dimas untuk keluar dari daerah kelas, entah itu ke kantin atau ke kelas lain, tapi Dimas sering menolak dengan halus tawaran Ken.

Dimas berjalan pelan ke kelasnya, duduk di bangkunya, ia lanjutkan membaca status akun facebook Mbak Memey yang tadi sempat terganggu oleh Ken.

“Kimia, olimpiade tingkat kota, ayo semangat seleksi!! :D “

Kalimat itulah yang dibaca oleh Dimas dari status Mbak Memey, Dimas ingat tentang poster yang dilihatnya di grup SMA tempo hari, kebingungannya mulai mereda berganti semangat juang yang tinggi tentang bagaimana caranya agar ia juga bisa mengikuti seleksi olimpiade kimia di sekolahnya.

Beberapa ide sudah bermunculan di kepalanya, sebenarnya Dimas anak yang cukup cerdas, pada tes IQ, skor yang ia dapatkan lumayan tinggi, dan tertinggi kedua di kelasnya setelah skor Irfan, anehnya Dimas dan Irfan walaupun punya skor IQ yang tinggi, peringkatnya tidak pernah masuk di jajaran 10 besar di kelasnya. Mungkin karena niat belajar Dimas dan Irfan yang kurang atau malah tidak ada niat belajar sama sekali.

Meski ia tak yakin dengan ide-idenya, namun Dimas tetap berusaha untuk mencoba ikut seleksi, siapa tahu bisa lolos dan jadi 1 tim dengan Mbak Memey, pasti asik!

Saat jam istirahat sudah berakhir, teman-teman sekelasnya sudah ada di bangkunya masing-masing, Dimas melirik Henny, Henny teman sekelas Dimas, jika kebanyakan film fiksi bertemakan remaja selalu menggambarkan sosok siswi pintar selalu cupu dan polos, begitupun Henny, dia orang yang kaku dan sulit untuk diajak bekerja sama, mungkin karena ia terlalu pintar dan menganggap yang lain tak selevel dengannya.

Walaupun pesimis, Dimas tetap mencoba mendekat ke bangku Henny, Henny sudah bersiap untuk menyambut Dimas dengan tatapan sinisnya “Ngapain kesini? Udah bel masuk Dim, udah jangan ganggu deh, balik sana!” Dimas langsung menuturkan apa yang jadi niatnya mendekat ke bangku Henny, “Jadi gini Hen, aku minta tolong ajarin rumus-rumus kimia, buat seleksi tim olimpiade kimia, bisa kan? Kan kamu pinter Hen, lagian kamu baik, jadi gak salah kan kalo aku minta bantuan ke cewek semanis kamu...” Henny langsung jadi agak salah tingkah, mendengar rayuan dari Dimas, sebenernya cuma rayuan biasa, tapi mungkin karena Henny jarang dirayu. “Hmm...okedeh kalo gitu, nanti pulang sekolah ya di kelas aja, terus jangan lama-lama”. “Okedeh Henny yang manis” kalau ada maunya Dimas bisa jadi perayu ulung.

Bel sekolah sudah berbunyi, Dimas langsung mendekati Henny, “Hen, kita langsung mulai aja ya, biar pulangnya gak kelamaan”. “Emangnya kamu sama sekali nggak ngerti konsep-konsep yang udah diajarin beberapa minggu lalu? Atau malah nggak ngedengirin penjelasan Pak Mulya di papan tulis?” Jawab Henny galak, seperti mau mengajak berkelahi. “Jujur sih nggak ngedengerin sama sekali, soalnya bikin ngantuk sih, hehehe”. Mendengar jawaban Dimas yang seperti itu, Henny hanya bisa geleng-geleng kepala.

Hanya butuh 20 menit bagi Henny untuk mengajarkan konsep rumus kimia yang harus dipelajari Dimas untuk seleksi tim olimpiade kimia. Dimas pun bertanya kepada Henny usai mereka belajar kimia, mengapa Henny tidak ikut seleksi tim olimpiade kimia padahal ia adalah siswi yang menyandang peringkat 1 di kelas, dan Henny menjawab dengan menunduk jika sebenarnya ia tidak terlalu suka belajar, ia lebih suka menjahit dan membuat hiasan berupa pernak-pernik dari kain flanel, namun orang tuanya selalu memaksa Henny untuk belajar hingga peringkat 1, dan harus peringkat 1, seolah-olah orang tuanya terobsesi oleh peringkat kelas, makanya setelah Henny mendengar kabar akan ada seleksi tim olimpiade kimia dia memilih untuk diam saja kepada orang tuanya. Semula, Dimas tidak terlalu suka dengan Henny karena sikapnya yang terlihat sombong dan arogan, sekarang Dimas menjadi kasihan terhadap Henny, dia yakin teman-teman sekelasnya juga belum mengerti tentang hal ini.

Henny dan Dimas berjalan keluar kelas lalu berpisah di koridor depan kelas mereka, Dimas menuju ke parkiran dan Henny menuju halte depan sekolah, saat Dimas hendak menyeberang, dilihatnya Henny bersama beberapa murid lain, tak ada Mbak Memey disana, Dimas langsung bergegas ke rumah, ia sangat bersemangat untuk mendownload soal-soal olimpiade kimia dari internet dan mempraktekkan konsep-konsep yang sudah diajarkan Henny.

Hari demi hari berlalu, tak terasa seleksi tim olimpiade kimia hanya tinggal 3 hari lagi, Dimas yang selalu percaya diri memang terlihat biasa saja untuk mempersiapkan ini, tapi sebenarnya Dimas mati-matian belajar di rumah demi lolos seleksi.

Bel istirahat pertama sudah berbunyi, karena sudah jenuh dengan soal-soal yang ada di beberapa blog dan website penyedia soal latihan olimpiade kimia, Dimas mencoba untuk mencari buku kumpulan soal kimia di perpustakaan, saat berada di pintu masuk, Dimas berpapasan dengan Mbak Memey, kakinya tiba-tiba serasa membeku, tak bisa digerakkan, badannya merinding, gugup tak terkendali melihat manisnya wajah Mbak Memey. Mbak Memey melempar senyum kepada Dimas, mungkin bukan karena suka dengan Dimas, tapi karena melihat tingkah aneh Dimas yang agak konyol itu.

Mbak Memey berlalu dengan indahnya, Dimas dapat mengatur nafasnya lagi dengan tenang, ia masuk dengan tergesa-gesa, takut ada teman yang memergokinya bertingkah aneh, setelah mendapatkan yang ia cari, ia kembali ke kelas, dalam perjalanan, dia tak sengaja bertemu dengan Pak Mulya, Bu Nani dan Pak Arifin, di parkir motor guru di sebelah perpustakaan yang sedang berdialog seputar seleksi tim olimpiade kimia, tak ada maksud Dimas untuk menguping pembicaraan guru-guru kimia itu, tapi sekilas dia mendengar dari salah seorang dari mereka kalau Mbak Memey dan Dimas bukanlah murid yang diprediksikan lolos, mungkin karena nilai Dimas yang rendah di mata pelajaran kimia, hal itu tak membuat Dimas patah semangat, Dimas justru semakin tertantang untuk lolos seleksi.

Dimas ternyata telat masuk kelas, padahal sedang ulangan mata pelajaran Bahasa Indonesia, untung saja gurunya sangat baik hati sehingga Dimas dengan mudah diijinkan masuk dan mengikuti ulangan. Seperti biasa, ulangan Bahasa Indonesia selalu ada bagian uraian dimana Dimas harus menulis dengan banyak kata. Setelah ulangan langsung dilanjutkan dengan pelajaran sastra melayu yang membosankan, bagi Dimas, hal yang seperti ini bukanlah hal yang penting, dia lebih memilih untuk membuka portal berita teknologi lewat hp-nya, lagipula guru Bahasa Indonesia tidak terlalu memperhatikan setiap murid secara detail, Dimas semakin asik membaca berita seputar teknologi kartu VGA terbaru yang dirilis hari itu.

Tak terasa bel istirahat kedua berbunyi, Dimas ingat jika tadi ia menulis banyak sekali kata, pasti ia sudah kehabisan tinta, Dimas mengajak Ridho untuk ke koperasi sekolah, membeli pulpen, Ridho yang sedang asik chatting di hp-nya hanya mengangguk saja, sepanjang jalan, Ridho hanya melihat hp-nya saja, tapi anehnya dia tetap bisa jalan tanpa menabrak tong sampah di sepanjang koridor depan kelas.

Sesampainya di koperasi sekolah, ternyata Mbak Memey dengan teman-teman perempuannya sedang membeli sesuatu, dipegangnya penghapus yang masih terbungkus plastik, Dimas mencoba untuk tetap tenang, ia tak ingin Ridho sampai tahu Dimas bertingkah aneh ketika bertemu gadis yang ditaksirnya itu walaupun Ridho masih terfokus pada hp-nya. Mbak Memey awalnya sangat asik mengobrol dengan teman-teman sambil berjalan keluar koperasi, tapi entah karena apa, tiba-tiba Mbak Memey melihat Dimas, spontan Dimas salah tingkah lagi, garuk-garuk kepala, badan bergetar, untung ada Ridho berjalan persis disebelah Dimas, sehingga ia bisa gunakan badan Ridho untuk sedikit menutupi gemetarnya. Melihat hal itu Mbak Memey bukan senyum lagi, tapi tertawa, bukan tertawa yang terbahak-bahak, tapi tertawa yang tetap manis, khas gadis keturunan tionghoa, teman-teman Mbak Memey pun penasaran kenapa tiba-tiba Mbak Memey tertawa seperti itu, dan sungguh lega Mbak Memey diam saja dan memilih untuk segera berjalan ke kelasnya.

“Fiuhh...” Dimas menghela nafas dengan penuh kemerdekaan.

“Ah...disconnect....sinyal ilang-ilangan terus sih, lagi gangguan apa ya? Eh kenapa kamu Dim? Kok fiuh fiuh gitu?” tanya Ridho penasaran.

“Makanya, jangan main chatting melulu, tadi ada perang coy” jawab Dimas ngawur.

“Perang? Yang bener ajaa??” Ridho makin penasaran.

“Ahahahahaha” Dimas hanya tertawa, lalu masuk ke koperasi sekolah dan membeli pulpen yang dibutuhkannya, lalu kembali ke kelas sambil mengobrol dengan Ridho soal pertandingan Liga Inggris kemarin malam.

Baca selanjutnya (bagian 2) : https://medium.com/@wicaksana94/dimas-revan-olimpiade-kimia-bagian-2-2b99532302c6#.s7s4bzpfc