AKU DAN LGBT : CINTA YANG SALAH ATAU MISINTERPRETATION ?

Satya Wicaksana
Jul 27, 2017 · 6 min read

Ada yang baru dari Satya. Tulisan ini ditulis oleh Satya bersama pacar baru Satya. Ya pacar baru Satya kali ini memiliki spesifikasi yang lebih baik dibanding pacar Satya yang lama. Dengan RAM 4GB dan dilengkapi dengan Nvidia Geforce 940MX membuat Satya memutuskan untuk meninggalkan pacar lama Satya yang sudah cukup usang. Cukup sedih. Tapi biarlah.

Dengan barunya pacar saya ini, saya juga mencoba mengganti media tempat saya menulis. Yang semula saya memakai tumblr, sekarang saya mencoba memakai medium.

Hmmm kembali ketopik tulisan. Kemarin saya melihat salah satu instastory -atau yang akrab disapa snapgram- teman saya yang dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Pada intinya adalah instastory tersebut berisi salah satu komentar mengenai adanya Komunitas LGBT yang baru saja terbongkar di Universitas tersebut. Disitu ia bercerita bahwa gara-gara terbongkarnya Komunitas LGBT tersebut, salah satu acara besar di kampusnya gagal dilaksanakan. Seolah disini para LGBT adalah biang keladi dari gagalnya acara tersebut.

Ditambah lagi beberapa waktu lalu, beredar di timeline saya mengenai sebuah video yang bertuliskan ‘Pernikahan sepasang Anjing’ yang ternyata isinya adalah sepasang gay yang sedang melamar kekasihnya. Walaupun mungkin postingan tersebut bernada candaan, tapi menurut saya hal tersebut kuranglah pantas untuk ketika kita menyudutkan posisi mereka sebagai LGBT. Seolah kita ini adalah yang maha suci. Mungkin dia punya kenalan orang dalam di surga sana sih, jadi bisa menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Yah The Power of Orang Dalam.

Cukup menarik bagi saya ketika mengulas masalah LGBT. Dalam tulisan ini saya coba mengulas beberapa subbab. Yang pertama ialah pendapat saya tentang kasus tersebut, yang kedua adalah perbedaan antara seks dan gender, lalu cinta bagi LGBT, serta yang terakhir adalah LGBT dalam sudut pandang agama.


Post Hoc Ergo Propter Hoc

Dalam kasus diatas, menurut saya sedang terjadi yang namanya Post Hoc Ergo Propter Hoc, sebuah kesesatan logis. Dalam bahasa latin maksud dari frasa tersebut berarti: “setelah ini, karena itu, penyebabnya adalah ini.” Bila terjadi peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka dapat dinyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua.

Maksudnya seperti ini, misalkan kasus diatas tadi. Peristiwa pertama adalah terbongkarnya komunitas LGBT, lalu selisih beberapa waktu kampus mengadakan acara besar, namun gagal dilaksanakan. Orang-orang pun berkesimpulan, sejak terbongkarnya komunitas LGBT tersebut, event besar di kampus gagal dilaksanakan.

Memang ada kemungkinan bahwa gara-gara terbongkarnya komunitas LGBT membuat event di kampus gagal dilaksanakan. Namun ada kemungkinan pula bahwa gagalnya event tersebut dikarenakan kendala teknis ataupun penyebab lainnya. Hanya karena LGBT dianggap immoral lalu masyarakat dengan seenaknya menyalahkan semua kepada mereka.


Perbedaan Seks dan Gender

Memang bahasan disini terkesan sederhana, namun sebenarnya memiliki implikasi yang cukup besar dalam pemahaman mengenai LGBT itu sendiri. Disinilah muncul ketidak cermatan yang menjadi arus utama dalam memaknai gender dan seks. Orang menyamaartikan antara gender dan seks. Padahal keduanya memiliki makna dan arti yang berbeda.

Nasharuddin Umar (1999) berpendapat bahwa gebder secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Sedangkan sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Pada intinya adalah Gender merupakan jenis kelamin sosial sedangkan seks sendiri merupakan jenis kelamin biologis.

Dimensi seks (kelamin biologis) meliputi hal-hal yang berkenaan dengan faktor biologis hormonal dan patologis yang menimbulkan adanya laki-laki dan perempuan. Laki-laki ditandai dengan beberapa identitas fisik seperti penis, testis, dan sperma, sedangkan perempuan ditandai dengan beberapa identitas seperti vagina, payudara, ovum, dan rahim. Berbeda dengan dimensi gender, ia meliputi seputar sifat, peran, tanggungjawab, hak, dan perilaku yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang disebabkan oleh konstruksi sosial masyarakat (Mamang,2012). Beberapa identitas yang melekat akibat dimensi gender ini, laki-laki biasanya identik dengan sikap maskulin; tegas, perkasa, rasional, dkk. Sedangkan perempuan identik dengan sifat feminimnya; lemah lembut, penyayang, pemalu, dkk.

Nah, pada intinya seks adalah anugrah Tuhan yang bersifat kodrati, yang tidak dikonstruk oleh sosial-budaya masyarakat. Sedangkan gender, ia adalah bentukan sosial masyarakat yang dapat berubah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu ke waktu pula. Buktinya, tidak sedikit laki-laki yang justru dekat dengan sifat feministasnya; penakut, pemalu, dkk. Dan tidak sedikit pula perempuan yang lekat dengan identitas maskulinitasnya; perkasa, berani, tegas, dkk. Kita sendirilah yang memaknai kalau feminitas adalah milik perempuan saja dan maskulinitas adalah milik laki-laki saja.

Dapat disimpulkan, ketika kita memaknai secara objektif seks dan gender, dapat memberikan pencerahan baru bagi kita, bahwa mereka (komunitas LGBT) memiliki hak yang sama dan setara sebagaimana kita yang heteroseks. Tak ada penyimpangan yang dilakukan mereka ketika kita melihat dalam perspektif gender, selama mereka bersama kita saling mengedepankan prinsip universal, keadilan, dan kesetaraan.


Cinta Bagi LGBT

Bahasan kali ini mengenai cinta. Meskipun saya memang sudah capek dengan konsep yang satu ini. Namun, saya coba mengulas konsep yang pernah saya percayai dulu kala. Khususnya cinta bagi LGBT.

Disini masyarakat mainstream selalu menyempitkan makna mengenai cinta itu sendiri. Cinta hanya dimaknai milik para heteroseks saja. Maksud saya begini, ketika kita membicarakan tentang cinta, seolah hal itu hanya berlaku bagi pria dan wanita saja. Padahal tidak demikian. Contohnya seperti ini, apakah perhatian dari seorang ayah kepada anak laki-lakinya itu juga bukan cinta ? Jika kita menengok ke jaman Rasulullah. Sahabat rasul begitu cintanya dengan beliau. Kemanapun rasul pergi selalu diikuti. Bahkan mereka rela memberikan apa saja kepada rasulullah, bahkan nyawa mereka pun rela ia berikan. Ketika rasul wafat pun, sahabat begitu dilanda kesedihan yang luar biasa, berhari-hari beberapa dari mereka enggan meninggalkan makam beliau, segitu cintanya sahabat dengan rasulullah. Apakah itu bukan cinta ?

Lalu apa salahnya jika ada seorang laki-laki yang juga mencintai laki-laki ? Apa yang aneh dengan sepasang lelaki yang jalan berdua, bergandeng tangan lalu makan bersama di cafe ? Lagi-lagi pikiran kitalah yang salah. Ketika kita menjumpai hal demikian, pikiran kita langsung terfokus kepada adegan-adegan erotik antara sesama lelaki yang mungkin sedang bersenggama. Kita membayangkan hal yang dianggap masyarakan heteroseks adalah sesuatu yang menjijikan. Dalam Serat Chentini yang banyak mengeksplorasi adegan-adegan homoerotik, syarat cinta itu cuma perasaan sreg, greget, suasana romantik yang kadang kala ditaruh Tuhan tanpa berpikir soal jenis klamin. Hanya saja otak kita memang terlanjur selalu berpikiran yang aneh-aneh (Untuk lebih detailnya lihat tulisan saya di https://wicaksanasatya.tumblr.com/post/160472400580/aku-dan-lgbt-sebuah-konsepsi-moral-masyarakat)

Kita terlalu mempersempit makna mengenai cinta. Kita begitu mengkuduskan mengenai makna cinta, tapi tanpa sadar kita justru mengejawantahkan cinta sebagai sesuatu yang tidak suci lagi. Bukankah dalam agama diajarkan untuk mencintai segala ciptaan-Nya ? Tapi mengapa kita malah mengekslusifkan cinta hanya milik pasangan muda-mudi saja ?


LGBT Dalam Perspektif Agama

Mungkin setelah saya menulis ini akan ada beberapa hujatan yang dilayangkan melalui pesan pribadi saya mengenai subbab berikut. Saya disini mencoba menginterpretasikan agama saya (Islam) dalam memandang LGBT itu sendiri,

Di Alquran memang hanya menyebut dua jenis identitas gender, laki-laki dan perempuan, tetapi kemudian fikih –sebagai salah satu bentuk analisis Islam terhadap pelbagai fenomena setidaknya menyebutkan ada empat identitas yaitu; laki-laki, perempuan, waria, dan mukhanits (secara biologis laki-laki, namun menyenderungkan diri sebagai perempuan, dan menghendaki pergantian kelamin) (Mamang,2012).

Hal demikian harusnya dipahami sebagai sebuah bentuk anugrah keragaman Tuhan. Tak hanya keberagaman yang dimaknai secara fisik yang tampak di berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, politik, agama, dan lainnya, tetapi juga termasuk keberagaman orientasi seksual yang tak terelakkan

Biasanya, perbincangan mengenai LGBT akan cepat dinisbahkan dengan Kaum Nabi Luth, yang dengan pedih dan mengenaskan ditimpakan adzab oleh Tuhan atas perilaku amoral dan biadabnya. Biasanya ayat-ayat yang berkaitan tersebut ialah QS al-Naml [27]: 54–58; QS. Al-Araf [7]: 80–81, Kemudian, QS. Hud [11]: 77–83; QS. Al Syu-ara [26]: 160–175, dll.

Kalau ditarik dari beberapa substansinya, beberapa ayat tersebut sebenarnya berbicara tentang kaum Nabi Luth As, yang secara eksplisit menegaskan umatnya telah berperilaku terlarang dalam mengekspresikan perilaku seksualnya (bukan orientasi seksual), yang ditandai dengan adanya unsur kekerasan, pemaksaan, pemerkosaan, aniaya, dkk. Jelas ayat tersebut tidak membahas mengenai orientasi seksual sebagai sebuah pelanggaran. Hal tersebut terbukti, bahwa adzab pedih itu pun juga menimpa istri Nabi Luth yang tak melakukan sodomi ataupun Lesbian (Irshad,2012).

Intinya adalah jadilah manusia yang baik. Udah gitu aja.

Source :

Umar, Nasaruddin.1999.Perspektif Jender Dalam Al-Quran.Jakarta.Disertasi Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah

Haerudin, Mamang.2012.Keberpihakan Islam Untuk Perempuan dan LGBT.Jakarta.Bhineka

Manji, Irshad.2012.Allah,Liberty,and Love. Canada.Random House

https://wicaksanasatya.tumblr.com/post/160472400580/aku-dan-lgbt-sebuah-konsepsi-moral-masyarakat

    Satya Wicaksana

    Written by

    An IR Student who Interested about Philosophy

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade