Making Indonesia 4.0
Selayang Pandang Industri 4.0
Siapa yang belum pernah dengar istilah industri 4.0 ? kalau anda belum pernah mendengar istilah tersebut, biar saya jelaskan sedikit. Industri 4.0 adalah penamaan yang diberikan untuk menggambarkan revolusi industri keempat, dimana revolusi industri keempat ini integrasi teknologi berperan sangat besar dalam keberjalanan sebuah industri. Integrasi tersebut datang dalam beberapa bentuk, seperti cloud computing, cyber physical system, cognitive computing, internet of things, menciptakan industri baru yang dapat kita sebut sebagai “smart factory”. Smart karena dengan penggunaan teknologi yang disebutkan, mesin-mesin yang digunakan dalam industri dapat berkomunikasi satu sama lain, mengautomasi proses proses yang saat ini masih dilakukan oleh manusia.
Lebih spesifik lagi, ada 9 teknologi, yang akan membawa perubahan pada produksi industri. Mengutip dari sebuah artikel di BCG tentang industri 4.0, berikut merupakan 9 teknologi yang akan mentransformasikan produksi industri. (artikel aslinya, bisa dilihat disini )

- Big Data Analytics
- Autonomous robot
- Simulation
- Horizontal & Vertical System Integration
- Industrial IoT
- Cyber-Security
- Cloud Computing
- Additive Manufacturing
- Augemented Reality
( penjelasannya, baca langsung di artikel dari BCG nya aja, kepanjangan nanti kalau ditulis disini semuanya, hehe )
Nah, kalau sekarang sudah revolusi industri 4.0, sebelum-sebelumnya apa ya? kok gapernah denger tau-tau udah industri 4.0 aja?
Oke, buat yang mungkin udah tau bisa langsung skip bagian ini dan langsung ke pembahasan berikutnya. buat yang belum tahu, revolusi industri sendiri, sudah dimulai sejak tahun 1780an, tepatnya ketika manusia pertama kali menemukan mesin uap. pada masa itu industri diperkenalkan kepada peralatan-peralatan mekanis bertenaga air dan uap. peralatan kerja manusia yang pada saat itu masih menggunakan bantuan tenaga hewan pun akhirnya perlahan berganti digantikan menjadi mesin-mesin bertenaga air dan uap tersebut. Inilah yang disebut Industri 1.0.
Setelah itu, pada pertengahan abad 19, dimana mulai ditemukan listrik yang menggantikan mesin-mesin bertenaga uap, lahirlah industri 2.0. pada fase ini juga manusia mulai mengenal istilah produksi massal, dan assembly line. Hal ini berlangsung mulai dari tahun 1870 hingga 1950an. Pada masa ini, produksi massal masih dilakukan dengan cara manual oleh manusia, dan pada era 1950an, Era industri 2.0 ini berakhir dengan mulai diterapkannya teknologi automasi dengan menggunakan komputer, yang membawa kita pada revolusi industri berikutnya, yaitu industri 3.0
Penggunaan teknologi automasi merupakan ciri khas dari industri 3.0, dan yang menjadi ciri utama adalah pemangkasan penggunaan tenaga manusia secara besar-besaran pada produksi masal, yang tergantikan dengan komputer untuk melakukan automasi produksi massal tersebut. akan tetapi, mesin-mesin ini hanya menjalankan fungsi-fungsi produksi mereka secara ad hoc saja, belum terkoneksi satu sama lain. Industri 4.0 inilah yang menjadi titik lanjutan dari automasi tersebut, dimana kini mesin-mesin yang ada, sudah dapat berkomunikasi satu sama lain dan membentuk istilah yang tadi kita sebut sebagai “smart factory” tadi.
to recap, berikut ini merupakan gambaran timeline perkembangan revolusi industri, mulai dari industri 1.0, hingga 4.0 sekarang.

Nah setelah tahu revolusi industri dan sejarahnya, kita akan langsung ke topik utama kita tentang industri 4.0 di Indonesia.
Industri 4.0 di Indonesia
Industri 4.0 di Indonesia, percaya atau tidak, telah ada di depan mata kita dan kita rasakan sehari-hari. mungkin, kalau ditanya secara langsung, indonesia udah punya peran apa sih untuk bisa sampai ke industri 4.0, rasanya kok kayaknya belum ada yang bisa dianggap “smart” ya ? Nah buat informasi aja nih temen-temen, sebenernya indonesia sendiri udah punya rencana kok terkait harus ngapain aja sih kita supaya bisa ikut masuk ke dalam transformasi industri 4.0 dan gak ketinggalan jaman terus.
Buat temen-temen yang belum tahu nih, jadi pada awal 2018 kemarin, presiden Joko Widodo telah meluncurkan roadmap mengenai strategi Indonesia dalam implementasi memasuki industri 4.0 yang digagas kementrian perindustrian dengan nama “Making Indonesia4.0”.
Mengutip dari dokumen roadmap “Making Indonesia 4.0” tersebut, Indonesia memiliki rencana untuk membangun 5 sektor manufaktur dengan daya saing regional sebagai berikut.

Terdapat 5 sektor manufaktur yang dipilih oleh Indonesia untuk dikembangkan diatas, yakni food & beverage, textile and apparel, automotive, electronics, dan chemical. Menurut saya pribadi, langkah pemerintah ( dalam hal ini kemenperin ) sudah cukup baik karena telah berpikir untuk membangun 5 sektor manufaktur tersebut menjadi industri 4.0 yang berbasiskan teknologi AI, IoT dan Robotics. Namun, perlu diketahui bahwa penerapan teknologi-teknologi tersebut, akan memangkas keperluan akan tenaga kerja yang cukup besar, berdampak pada hilangnya cukup banyak lapangan pekerjaan. Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang sangat banyak, dan hal ini berdampak pada besarnya kebutuhan lapangan pekerjaan. Banyak orang berpendapat bahwa industri 4.0 akan menghilangkan banyak sekali lapangan pekerjaan. Namun, di sisi lain, sebenarnya juga banyak lapangan pekerjaan baru yang bermunculan dan pekerjaan ini akan memiliki nilai value yang lebih tinggi dibandingkan pekerjaan-pekerjaan manual yang sebelumnya karena pekerjaan yang akan muncul ini memerlukan keahlian-keahlian khusus. oleh karena itu, sebagai penutup juga, saya rasa hal yang sangat penting untuk dilakukan pemerintah tidaklah berfokus pada pembangunan infrastruktur-infrastruktur, melainkan pada pengembangan SDM di Indonesia . Pengembangan SDM ini pada dasarnya juga telah ada dan menjadi prioritas Kemenperin dalam roadmap Making Indonesia 4.0, yang berarti sekarang giliran kita sebagai masyarakat untuk ikut berkontribusi, dengan sesederhana menuntut ilmu dan menyesuaikan skillset kita dengan perkembangan industri 4.0 ini. Dengan ini, harapannya, lapangan-lapangan pekerjaan industri 4.0 dapat mengggantikan lapangan pekerjaan yang hilang, dan masyarakat Indonesia dapat mengambil kesempatan-kesemaptan tersebut dengan skillset yang telah dimiliknya.
Terimakasih.
Ikhsan Widi Adyatma, Mahasiswa STI ITB
18215047
