Pulang, bagiku adalah lagu “Sementara” dalam album “Tiga Hari Untuk Selamanya”. Mendayu dan nostalgic, juga jadi satu track yang ingin aku ulang terus.
Kepulanganku kali ini, bukan semata-mata karena rindu Nasi Pecel Bu Wo, Gado-gado Pak Tomo, dan Teh Tarik Cak’e. Juga bukan atas kebutuhan me-namaste-kan diri dengan latihan yoga seminggu tiga kali. Aku pulang karena harus jaga kandang.
Sudah beberapa hari menetap, menyadari betapa banyak barang-barang, cerita, dan kenangan masa kecil (dan labil) yang tersimpan dengan baik di rumah. Termasuk di kamar paling belakang yang jadi kamarku ketika masih SMP dan SMA dulu. Kebayang kan kamarnya seperti apa? Kecil dan penuh pernak-pernik aneh bernuansa pastel yang sekarang aku sendiri aja bertanya-tanya “ck ngapain sih dulu beli barang beginian?”
Dan aku memilih tidur di kamar penuh barang-barang aneh itu sekarang.
Tak banyak yang berubah dari kamar itu. Tata letak dan furniture-nya tetap sama. Di meja belajar, ada sebuah bingkai warna krem berisikan foto ayah dan ibuku sedang berangkulan. Waktu melihat bingkai foto itu, tiba-tiba aku terbahak (atau tersedak ya?) karena sekilas teringat bahwa dulu foto yang terbingkai di situ adalah fotoku dengan dia.. ~yang boleh enggak ya disebut sebagai mantan pacar? Enggak yakin, karena masih berpikir kalau kemungkinan besar dulu dia cuma khilaf saja.
Selain foto itu, tidak banyak kenangan yang tersimpan karena aku dan dia cuma dua bulan saja bersama (wow inget banget?) Ibarat sebuah podcast, mungkin ini cuma lagu pembukanya saja. Meski begitu, I almost remember the details. Dan punya kesempatan mengenal beliau yang berulang tahun di tanggal yang sama kaya aku itu adalah satu hal yang aku syukuri. Terlebih, meski suka terlihat seperti orang yang lagi punya masalah berat, dia punya hati yang teramat hangat.
Heran ya, betapa sebuah bingkai foto sekecil itu bisa menyetir dan memutar balik ingatan. Sampai-sampai aku merasa kembali pada masa itu lagi.
Sudah barang tentu, semua kenangan itu bukan sesuatu yang lantas membuat rindu. Barangkali karena memang ada kenangan-kenangan yang asyiknya hanya untuk disimpan dan dinikmati sendiri.
Kemarin malam, aku menghadiri sebuah pesta pernikahan bersama seorang teman lama. Darinya, aku dapat berita bahwa si pemilik hati yang hangat itu akan segera berlabuh di hati yang sudah lama dia tuju. Tentu aku bersuka cita mendengar hal itu.
Untuknya, aku berdoa agar hatinya akan selalu menjadi hati yang hangat untuk orang-orang di sekitarnya. Hanya itu saja, karena aku percaya dia tahu harus melakukan apa untuk membuat pasangan seumur hidupnya berbahagia.
Selamat dan semangat menikah.
Selamat saling memberi ucapan selamat pagi dan malam pada orang yang sama.
Selamat saling mencintai, memberi, memahami, dan memaafkan selamanya.
Thank you cuz I had a very great time.
You cool!