Katanya manusia ada karena berpikir. Katanya juga manusia tidak mungkin bisa berhenti berpikir. Setiap detik yang kita habiskan untuk berusaha tidak berpikir, akhirnya akan dikunjungi dengan sejentik pikiran. Sudah sifat alamiah manusia. Berpikir. Itu pula yang menjadikan manusia lebih spesial dari makhluk hidup lainnya.

Namun aku sakit dan sang ahli berkata bahwa aku terlalu banyak berpikir. Bukankah itu sudah sewajarnya? Aku manusia. Dia juga, kan? Apa aku harus berhenti berpikir? Itukah saran dari seorang ahli?

Ah. Kalau dia tidak bisa menyembuhkan aku, jangan mencari alasan yang aneh-aneh. Tidak masuk akal.

Di kala aku sakit, aku sering melamun. Aku tidak tau bagaimana manusia pada umumnya saat melamun namun aku tetap berpikir. Aku memikirkan kata demi kata sang ahli bahwa aku terlalu banyak berpikir. Tanpa sadar aku mulai kembali berpikir apa saja yang akhir-akhir ini aku pikirkan.

Aku menyadari dengan hati yang berat. Ternyata banyak hal yang membuat otak ku seperti tempat parkir pusat perbelanjaan menjelang Hari Raya.

Tiba-tiba aku lelah. Mataku panas. Dadaku terasa sesak. Bodoh memang, tapi aku bahkan lupa mengatur napas ku. Aku berjalan dengan gontai ke kamar kecil dan mengurung diri disana. Aku mengambil tisu dan seketika pipiku basah dihujani oleh air mata.

Kenapa? Kenapa menangis?

Aku menyadari manusia memiliki banyak lika-liku dalam hidupnya. Terkadang kita layaknya berjalan di aspal siang hari bolong, panas hingga kaki kita melepuh. Mengharapkan pelangi setelah hujan badai walaupun yang menyambut hanyalah awan putih atau bahkan mungkin awan hitam yang siap membawa badai berikutnya.

Biasa. Semua orang menghadapinya, bukan?

Mungkin.

Namun yang paling membuat air mata ku semakin deras adalah ketika aku telah selesai dengan pikiran-pikiran mengenai kerikil kehidupan yang menyiksa ku, di penghujung pikiran itu masih ada pikiran terakhir.

Di saat aku terjatuh ke dasar jurang kesedihan dan merasa dunia tidak pernah memberikan pelanginya padaku, aku tersadar bahwa tidak ada seorang pun yang bersedia ku sandarkan meskipun hanya untuk berbagi. Tidak ada seorang pun yang ingin tahu mengapa aku bersedih.

Aku merasa lemah.

Ketidakhadiran orang untuk ku dan ketidakpedulian mereka kepadaku membuat aku semakin lemah. Kenapa harus seperti itu?

Jadilah wanita mandiri, ucapku pada diriku sendiri. Kau tidak butuh dikasihani atau perhatian orang lain. Kau adalah wanita kuat.

Ingin sekali aku percaya pada perkataan omong kosong diriku namun lagi-lagi aku berpikir. Sebuah pelukan atau pertanyaan "Kau kenapa?" tidaklah berarti membuat orang manja, kan? Karena sesungguhnya kepedulian itu lah yang mungkin saja bisa menjadi penawar luka akibat duri ikan yang tersangkut di kerongkongan.

Bolehkah aku diperhatikan dan dipedulikan?
Aku hanya minta sekali saja..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.