Jalanan nya gelap.

Aku bukanlah seorang pemberani. Aku bukan seorang wanita yang mandiri. Tidak mungkin aku menyusuri jalanan gelap seorang diri tanpa seorang pun menemani aku.

Aku memandangi jalanan itu dan menoleh kanan kiri berharap ada seseorang. Namun tidak ada siapapun yang tampak dalam jarak pandangku.
Aku mulai melangkah. Mau tidak mau, berani ataupun tidak, walaupun tidak punya nyali. Aku sadar terkadang kita harus memaksa diri kita ke suatu titik dimana hal tersebut di luar batasan kita.

Satu dua langkah, aku mendengar tawa.
Dengan semangat aku menoleh. Mencari sumber suara yang terdengar bahagia. Aku tidak sendirian.

Tapi, aku tidak menemukan siapa-siapa. Suara tawa itu masih terdengar namun jauh. Aku mencoba berjalan kembali dan suara itu semakin ramai. Suara bising, canda tawa, celoteh, interaksi manusia dalam keramaian. Aku bingung. Darimana asal suara itu? Yang aku lihat hanya jalanan gelap tak berujung dan aku seorang diri.

Rasanya ingin meminta suara tersebut untuk menemaniku dan menuntunku hingga menemukan terang. Tapi aku tidak tau harus memohon bantuan ke siapa di saat aku tidak menemukan seorang pun?
Hanya suara riang yang tidak mengajak diriku menjadi bagian mereka. 
Aku hanya bisa mendengar, namun tidak bisa melihat.

Halo?
Bisakah kalian menerangkan jalan untuk aku?
Bolehkah aku menjadi bagian dari kalian agar aku tidak berjalan sendirian?

Tetap tidak ada jawaban.

Aku melangkahkan kaki tanpa arah diiringi suara ramai tak memiliki rupa. Aku tidak tau suara itu sedang membicarakan apa. Aku tidak diundang ke dalam riangnya percakapan mereka.

Bisakah kalian setidaknya memberikan aku sebatang lilin agar aku tahu kemana aku harus melangkah?
Tidak?

Aku rasa aku tetap harus berjalan sendirian. Tanpa ada yang menerangi jalan ku atau sekedar menemani berjalan bersama.

Aku takut. Takut sekali. Jika mataku basah karena air mata mulai berebutan keluar, apakah mereka akan mulai memberi perhatian mereka padaku?
Tidak..

Pertanyaan nya adalah…
Apakah mereka bisa melihat aku dan kesendirianku? Apakah mereka bisa merasakan kehadiran sang lara yang perlahan mendekapku semakin erat?

Aku takut..
Aku takut aku tersesat dan tidak ada yang bisa menemukan aku.

Namun aku tersadar, aku sudah tersesat.

Aku hanya berharap ada yang bersedia mencariku dan menuntunku kembali pulang.