3. Ca-Medik : Krisis Identitas?

Pertanyaan ini muncul ketika aku mengikuti simulasi ke-2 camedik Integrasi ITB 2016. Saat itu aku diposisikan menjadi medik statis yang berfungsi sebagai barikade pelindung & penyemangat mahasiswa baru.

Realitanya di lapangan, barikade tidak hanya oleh medik statis. Ada keamanan yang baris selang seling di samping kami. Kalau diketikkan dalam teks mungkin akan terlihat seperti ini :

: ) : ( : ) : ( : ) : (

Atau karena ada emoticon akan terlihat sepeti ini :

😊😬😊😬😊😬😊😬

(Keterangan tidak disertakan karena pasti sudah pada tahu yang mana yang medik dan mana yang kemanan).

Simulasi yang ku lakukan hanya dalam lingkup medik saja. Peserta diklat divisi medik dibagi dua kelompok : menjadi medik, dan maba. Otomatis sumberdaya manusia kami yang menjadi medik sedikit, sehingga jalur mobilisasi maba yang cukup jauh itu disupport oleh barisan barikade yang sangat jarang-jarang, membuat kami harus tambal sulam.

Mobilisasi pun dimulai. Teman-teman medikku yang menjadi maba berakting sakit. Segala penyakit yang telah kami pelajari di diklat keluar semua. Berusaha untuk tetap tenang, tapi aku panik juga. Apalagi ketika barisan maba itu melewat di dekatku dan tiba-tiba dari arah sana (bebas membayangkan) temanku yang laki-laki memberi tanda medik.

Aku meneruskan tanda medik tersebut. Tapi kurasa ada yang salah dari teman-temanku (atau aku?).

Masalah itu ada padaku! Tanda medik yang temanku berikan adalah tanda medik yang berarti memanggil medik perempuan. Dan medik perempuan terdekat itu adalah aku. Untunglah aku segera tersadar dan menolong maba tersebut bersama temanku (padahal itu telat banget aslinya).

Ah, kenapa aku tak sadar kalau aku adalah seorang perempuan? Mungkin karena sudah terlalu lama sendiri~

Dari yang sebentar lagi ulang tahun..

Widya Pramesti

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.