Tidak mendapatkan pekerjaan sepertinya itu menakutkan sekali, saya ketakutan. Saya takut karena tidak bisa berdo’a lagi. Sebenarnya saya sudah lelah bekerja, sudah capek rasanya. Tapi kadang saya malu bila bersikap seperti ini. Walau hanya melamun senang rasanya punya kerja.

Sore tadi hujan turun begitu saja. Repot emang bila kamar saya jadi genangan, semua bacaan saya, itu saja. Itu saja. Karena lamunan yang begitu banyak, bacaan yang juga banyak, jadi tidak pernah selesai. Terutama koran hari sabtu dan minggu. Saya sudah punya lem dan lain untuknya ingin seperti pak pram mengguntingi koran tapi gak pernah lekas selesai. Iya, saya belum punya gunting ternyata. Yasudah saya kerjakan lamunan lagi.

Melamun. Sewaktu-waktu rindu, ketinggalan.

Like what you read? Give Rifqi Rizki Ansyori a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.