Solar Sister, Perempuan-Perempuan Perubahan

Saya percaya, kita semua sudah sering mendengar istilah “Climate Change” atau yang dalam Bahasa disebut Perubahan Iklim. Banyak dari kita juga sadar bahwa penyebab terjadinya perubahan iklim, yaitu peningkatan jumlah emisi, terjadi karena aktivitas sehari-hari yang kita lakukan. Mulai dari penggunaan kendaraan bermotor, pemborosan energi listrik, aktivitas industri, penggunaan kertas yang berlebihan, dan banyak lainnya. Namun, kesadaran itu tidak membuat kita mau melakukan sesuatu untuk merubah fakta tersebut. Hal inilah yang membuat perempuan-perempuan Tanzania, saya sebut sebagai perempuan-perempuan perubahan.

Lebih dari satu milyar manusia hidup tanpa akses terhadap listrik, hal ini menjadikan minyak tanah “Kerosene” menjadi energi yang sangat dibutuhkan untuk menggantikan fungsi listrik tersebut. Penduduk Tanzania, Afrika menjadi salah satu contoh negara yang masih menjadikan minyak tanah sebagai kebutuhan primer yang digunakan untuk memasak dan sumber penerangan. Solar Sister hadir sebagai salah satu program Momentum of Change yang diprakarsai oleh UNFCCC. Gerakan ini berusaha melakukan pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan akses terhadap energi dengan sekaligus melakukan mitigasi perubahan iklim.

Solar Sister melakukan pelatihan dan pengerahan terhadap perempuan-perempuan untuk melakukan gerakan clean energy skala kecil, yaitu dengan menjadikan perempuan-perempuan tersebut sebagai agen perubahan sekaligus entreperenuer yang menyediakan solar lamp untuk menggantikan penerangan berbahan bakar minyak juga dengan menyediakan alat masak ”clean cooking”. Mungkin saya perlu memberi penjelasan lebih, apa sih hubungannya Solar Sister ini dengan upaya mitigasi perubahan iklim? Solar Sister menciptakan rantai dampak positif dengan menciptakan agen-agen perempuan yang kritis terhadap ancaman perubahan iklim dan mendapat kepercayaan komunitas untuk mengadopsi teknologi yang ramah terhadap perubahan lingkungan secara berkelanjutan. Upaya ini lah yang menjadi tindakan mitigasi bahaya perubahan iklim. Pada satu tahun terakhir, produk yang berhasil dijual oleh para entrepreneur Solar Sister berhasil mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 80.000 ton.

Salah satu entrepreneur Solar Sister adalah Beatrice Baji, seorang guru sekaligus kepala sekolah yang hidup di Desa Mambo Leo. Beatrice menjadi bagian dari Solar Sister karena merasa prihatin pada fakta bahwa anak-anak sekolah di Desa Mambo Leo mengalami kesulitan untuk belajar di malam hari karena tidak adanya listrik, sehingga mereka sangat bergantung pada lampu minyak tanah. Solar lamp menjadi solusi untuk hal ini, dengan menggunakan tenaga matahari sebagai daya untuk menyalakan lampu, para siswa dapat menggunakan lampu ini di malam hari untuk belajar. Hal ini terbukti menambah waktu belajar para siswa di Mambo Leo dan Tanzania pada umumnya lebih dari 4 jam. Gerakan ini juga bukti nyata peran Solar Sister dalam melakukan mitigasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karena memanfaatkan matahari sebagai sumber untuk penerangan.

Solar Sister berhasil memberantas kemiskinan energi dengan memberdayakan perempuan melalui peluang ekonomi. Solar Sister berupaya mengkombinasikan terobosan teknologi clean energy dan jaringan entrepreneur para perempuan yang membawa cahaya, harapan, dan peluang ke daerah paling terpencil di Afrika. Berinvestasi pada perempuan bukan hanya menjadi suatu tindakan yang tepat, tapi juga tindakan yang cerdas. Solar Sister berhasil menciptakan iklim bisnis berkelanjutan, yang didukung dengan investasi cerdas pada entrepreneur-entrepreneur perempuan.

SUMBER :

Mackey, Abigail. Misra, Neha. When Women Shine in Climate Action, Solar Sister Champions Women’s Leadership. 2017.

https://www.youtube.com/watch?v=DOQ4zRwjqo8 (Beatrice — EDUCATOR #iamsolarsister #weshine)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Wilona Olga’s story.