Tentang Kamar Mandi yang Di-identik-kan dengan Rumah Setan
Pernahkah anda berpikir, bagaimana jadinya apabila kamar mandi memiliki perasaan? Pernahkan sesekali dalam hidup anda berpikir, apakah kamar mandi ingin terlahir sebagai kamar mandi? Tidak, anda hanyalah makhluk egois yang hanya mementingkan diri sendiri.
Diskriminasi antar manusia adalah suatu bentuk membeda bedakan perlakuan terhadap sesama, seringkali diskriminasi dilakukan melibatkan hal hal seperti ras, warna kulit, kedudukan sosial, dan sebagainya. Oleh karena itu diskriminasi itu adalah dosa yang paling buruk di antara dosa dosa manusia yang lain, karena dengan adanya diskriminasi maka mengindikasikan bahwa beberapa kalangan manusia ditakdirkan memiliki derajat yang lebih superior dari kalangan lainnya, yang mana hal tersebut adalah salah besar, karena manusia pada kodratnya semua diciptakan secara equal dan merdeka oleh Tuhan YME. Untungnya, banyak sekali manusia yang peka akan masalah ini bahkan semenjak dahulu ada saja tokoh tokoh yang memperjuangkan hak hak asasi manusia agar bebas dari diskriminasi yang didasari oleh batasan batasan yang sudah saya sebutkan tadi. Tapi nyatanya hingga di titik ini saya dan anda hidup, diskriminasi tidak benar benar hilang dari muka bumi ini. Tidak perlu melihat jauh jauh, di Indonesia sendiri diskriminasi masih kental sekali terasa, mostly dikarenakan oleh kesenjangan antara si kaya dan si (maaf) miskin.
Kembali soal kamar mandi, kenapa sih sebenarnya saya membawa bawa soal kamar mandi ke judul saya. Sebenarnya karena menurut saya kamar mandi berkenaan sekali dengan apa yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Sedari kecil kita sudah di 'tutur' i orang tua kita bahwasanya kamar mandi adalah sebuah ruangan paling buruk di dalam sebuah rumah sederhana. Tak terhitung banyaknya kalimat kalimat buruk tentang kamar mandi yang sudah menancap ke pikiran saya.
“Kalo di rumah, yang paling banyak setannya itu di kamar mandi”
“Jangan nyanyi di kamar mandi ntar setannya ikut nyanyi”
“Kalo sudah selese dari kamar mandi, keset yang bener sampe kering biar setannya gaada yang ikut”
“Jangan lama lama di kamar mandi, gak baik lho banyak setan nanti bahaya” dan lain sebagainya
Segitu terkutuknya kah kamar mandi sehingga pantas untuk dilempar segitu banyaknya takhayul buruk akan dirinya? Tapi benar mungkin akibat dituturi seperti itu saya menjadi pribadi yang sinis dan skeptis terhadap kamar mandi, dan karenanya orang tua saya saya haturi untuk bisa berbangga atas keberhasilannya menanamkan ide ke dalam kepala saya bahwasanya kamar mandi itu tempat yang buruk untuk kita menghabiskan waktu di dalamnya. Walaupun sekarang sudah cukup membandel untuk seringkali menghabiskan waktu berlama lama di kamar mandi terutama saat : melakukan tugas alam sembari berkelana di media sosial dan media informasi serta hiburan, atau sekedar sambil mencari inspirasi untuk apapun (even at this very moment, i am writing while dumping, karena entah mengapa banyak sekali inspirasi yang masuk saat berada di ruangan lembab berukuran 2x1,5 meter ini dan berkontemplasi akan kehidupan); dan juga menyanyi saat mandi karena telinga saya sangat mengagumi suara saya sendiri pada saat menyanyi di kamar mandi, tapi sewaktu kecil dulu saya merupakan pribadi yang takut malam malam ke kamar mandi sendirian karena takut digoda setan, dan juga saya dulu takut untuk berada di kamar mandi lama lama karena saya takut banyak setan yang melihat saya telanjang, takutnya nafsu, lalu, ah sudahlah. Tapi pernahkah anda coba berpikir dari sudut pandang lain? Bahwasanya kamar mandi tidak pernah minta untuk dibangun semerta merta untuk dilabeli menjadi tempat yang paling buruk di dalam suatu rumah/gedung, kamar mandi lahir tidak mengerti apa apa soal gunjingan yang sudah menantinya di masa depan, dan pada saat dibangun kamar mandi tak pernah tahu, kalau dia bakal dipergunakan oleh manusia untuk hal hal yang identik dengan sifat kotor.
Sama seperti manusia, pada saat hari kelahiran kita semua tidak bisa memilih, apakah kita ingin lahir di belahan bumi bagian tropis atau di ujung dunia yang memiliki suhu hingga minus 70an derajat celcius, tidak ada manusia yang bisa memilih untuk lahir pada ras tertentu, tidak ada manusia yang bisa terlahir untuk memilih akan memiliki profesi apa di masa depannya, dan terlebih lagi saya yakin tidak ada manusia yang minta terlahir di keluarga yang (maaf) miskin. Ah kenapa sih saya membawa bawa perihal kemiskinan daritadi? Karena memang sejatinya kesenjangan antara si kaya/kaum atas dan si miskin/kaum bawah terutama di Indonesia yang notabene sudah merdeka ini (atau at least kata teman saya M. Fikri Fahmi ‘Merdeka Jinjit’) adalah bentuk dari diskriminasi yang sangat pekat sekali terasa. Coba lihat saja contohnya kesenjangan perlakuan sebuah instansi kesehatan terhadap mereka yang berduit dengan mereka yang mengandalkan nyawanya hanya pada bantuan asuransi jaminan sosial dari pemerintah, lihat bagaimana ruwet dan njelimetnya segala proses administrasi dan kebirokrasian yang harus dilakukan bagi mereka yang ingin mendapat privilege yang sama sementara ada saja mereka yang bisa seenaknya mempercepat proses proses tersebut tanpa takut Tuhan akan melihat, coba lihat betapa tajamnya hukum Indonesia dalam memproses mereka mereka yang melakukan kesalahan kecil yang dilakukan secara khilaf hanya semata demi mempertahankan kelangsungan hidupnya saja sementara sangat tumpul terhadap mereka yang melakukan kejahatan kejahatan moral dan materiil yang sangat kejam dengan sengaja demi membangun dan mengembangkan dinasti kekayaannya dimana mana, dan lain sebagainya. Saya titik beratkan sekali lagi pada ironi hukum Indonesia yang terakhir, apakah layak dan benar menurut hati nurani anda apabila seorang yang terpaksa melakukan kesalahan senilai tidak lebih dari 5 digit rupiah hanya demi untuk bertahan hidup mendapat ganjaran kurungan lebih lama ketimbang mereka yang menghilangkan milyaran rupiah secara ajaib dan lalu memunculkannya lagi di rekening pribadinya? Tidak masuk akal pastinya, kalau anda bilang saya mengada ngada silahkan anda cari sendiri karena saya yakin anda semua yang membaca ini adalah makhluk intelektual yang tahu bagaimana caranya mencari informasi, dan masih banyak lagi hal hal diskriminasi yang menurut saya pilu sekali untuk sekedar dipikirkan. Atau mungkin anda beranggapan bahwa salah sendiri orang orang kaum bawah itu tidak bekerja keras di masa mereka mampu tidak seperti orang orang kaya? Ya saya mungkin memuji benar dan mengagung agungkan orang orang yang bisa berangkat dari 0 dan berhasil meraih kesuksesan untuk merubah hidupnya, tapi bagi mereka mereka yang tidak mampu karena hal hal tertentu yang saya sendiri tidak bisa membayangkan beratnya setidaknya untuk perlakuan sosial dan hukum yang sudah saya sebutkan tadi tidak seharusnya dibeda bedakan karena kita tidak lagi hidup di masa kasta menjadi penentu segalanya, toh ada saja orang yang leha leha ongkang ongkang nggak ngapa ngapain eh blejet udah kaya dari lahir sampai ajal menjemput. Anda masih tidak sependapat dengan saya? biarkanlah karena toh memang ini opini opini saya.
Saya sendiri masih tidak tahu bagaimana caranya agar perlakuan perlakuan seperti ini sepenuhnya hilang tidak cuma di Indonesia tapi di seluruh permukaan bumi, karena saya sendiri orangnya skeptis dan pesimis akan sifat natural manusia yang egois (iya saya sendiri pun sering egois). Mungkin anda agak tidak suka saya yang seperti ini hanya bisa bercuap cuap tanpa memberikan solusi nyata akan hal yang saya omongkan tadi, biarkanlah at least disini saya menuangkan keresahan saya terhadap tulisan saya yang entah berdampak apa nantinya ke masyarakat atau bahkan tidak berdampak apa apa ketimbang saya terdiam saja melihat kedholiman manusia dan turut masuk kedalamnya, sekali lagi saya hanya menorehkan hasil pikiran saya.
Akhir kata, intinya diskriminasi adalah hal yang sangat terkutuk sekali, mungkin anda beranggapan tidak ada korelasinya sama sekali dengan judul dari tulisan ini, biarkanlah toh tulisan tulisan saya. Dan besok saya sudah kembali ke kenyataan masuk dunia perkuliahan kembali, wish me luck di semester 5 yang katanya semester yang paling paling di jurusan saya tercinta ini. Wassalam.
Mulyorejo, 27 Agustus 2017, 21:21
Ditulis dalam keadaan perut bermasalah selama berhari hari sehingga semakin akrab dengan kamar mandi kontrakan tempat banyak sekali inspirasi tak terduga muncul
